Penulis: Levina Naurah Syifa | Narasumber: Bambang Listiono | Keterangan: Profil | Sabtu, 19 September 2026 | 16.00 – 17.00 WIB

Bambang Listiono Pemilik Padepokan Klapa Pitu. (Dok. Koleksi Pribadi Bambang Listiono)
Cilacap – Sudutnalar.com, Anak petani ladang asal Bandungan, Semarang, mendirikan padepokan seni di Desa Lengkong, Kelurahan Mertasinga, Cilacap. Bambang Listiono mulai membangun padepokannya pada 2017 dan resmi menempatinya sejak 2018. Langkah ini ia tempuh demi menjaga agar kesenian tradisional tetap dikenal anak muda. Caranya dengan menggelar pentas seni secara rutin, karena menurutnya anak muda bukan tidak menyukai seni tradisi, melainkan belum mendapatkan kesempatan untuk mengenalnya.
Lahir pada 13 Februari 1980 di lereng gunung, Bambang tumbuh di lingkungan masyarakat yang lekat dengan beragam hiburan rakyat. Kesenian seperti ketoprak, karawitan, selowatan Jawa, hingga sandur telah menjadi bagian dari kehidup sehari-hari.
Kecintaannya pada seni makin menguat saat SMP. Ketertarikan tersebut lahir berkat dua gurunya, yaitu guru seni rupa dan musik yang cara mengajarnya bagus. Saat masuk SMA, Bambang sebenarnya ingin mengambil Seni Rupa. Tapi, ia justru masuk ke jurusan Karawitan. Di jurusan tersebut, ia harus mulai dari nol. Sedangkan teman-temannya sudah terbiasa dengan seni sejak kecil. Ia tidak menyerah dan terus berproses .
Kini, Padepokan Klapa Pitu menyelenggarakan berbagai kegiatan kesenian. Di antaranya Latihan karawitan gaya Surakarta dengan gamelan, karawitan gaya Banyumasan dengan calung, latihan tari, bengkel pembuatan keris (tosan aji), hingga kelas membatik.
Menurut Bambang, anak muda tidak mempunyai gambaran seperti apa serunya kesenian tradisi. Jadi, rasa suka terhadap seni belum sempat tumbuh. Maka dari itu, ia rajin mengadakan pentas seni. Warga dan anak muda datang menonton, hingga akhirnya tertarik untuk bergabung.
Dalam mengelola padepokannya, Bambang memiliki prinsip hidup yang sederhananya. Ia menjalani segala sesuatu tanpa beban berlebih dan yakin bahwa sesuatu yang dibangun secara perlahan tapi konsisten akan lebih awet.
Untuk seniman muda, Bambang berpesan agar mereka bersungguh-sungguh. Sebab, kesungguhan tersebut akan membawa hasil untuk diri sendiri, lingkungan, dan penghasilan.
Dari ladang di lereng gunung, Bambang membuktikan bahwa siapa pun boleh mulai dari nol, asal mau belajar, sabar, dan konsisten.
Penulis – Levina Naurah Syifa
Editor – Nisa Nigella Sativa
