Penulis: Farah Nasywa Nurrahma | Narasumber: Aristanti Sobriyah
Sabtu, 19 September 2026 | 11.30 WIB

Sumber: Dok. Pribadi Aristanti Sobriyah
Purwokerto ― Sudutnalar.com, Berdiri di hadapan publik dengan gelar Duta Kampus Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) tidak pernah menjadi jalan yang sepenuhnya mulus bagi Aristanti Sobriyah. Mahasiswi Program Studi D-3 Bahasa Inggris ini harus melewati keraguan diri, burnout, hingga kekhawatiran dari orang-orang terdekat sebelum akhirnya mantap melangkah dan memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitarnya.
Bagi Arista—sapaan akrabnya—perjalanan menjadi seorang duta tidak dimulai dari panggung megah, melainkan dari masa gap year yang sempat ia jalani. Momen jeda tersebut justru menjadi titik balik terbesar dalam hidupnya untuk belajar memaafkan diri sendiri, menerima kegagalan, dan memberi keberanian kepada diri sendiri untuk bangkit serta mencoba hal-hal baru.
Langkah Arista menuju pemilihan duta kampus pun tidak lepas dari tantangan eksternal dan rasa cemas. Berbeda dengan kontestan lain yang memiliki banyak pengikut di media sosial dan mahir membuat konten, Arista mengaku sempat merasa tidak percaya diri karena ia bahkan tidak memiliki akun TikTok dan hanya memanfaatkan Instagram untuk mengunggah momen-momen sederhana. Tidak hanya itu, beberapa orang terdekatnya sempat menasihatinya untuk menunda niat tersebut karena khawatir niat baiknya justru berbalik menjadi tekanan.
Namun, kesadaran akan niat baik serta pemahaman atas batas kemampuan diri membuat Arista memilih untuk bertahan. Ia sadar bahwa setiap pilihan membawa tanggung jawab yang harus ia emban sendiri. Di tengah padatnya jadwal kuliah semester tiga, kegiatan organisasi, dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang sempat memicu titik lelah (burnout), Arista memilih untuk menata prioritasnya satu demi satu tanpa mengorbankan jati dirinya.
Pelajaran terpenting yang dipetik Arista selama menjabat sebagai duta kampus adalah konsistensi dalam berbuat baik tanpa harus berpura-pura menjadi orang lain. Baginya, gelar ini merupakan sarana untuk menebar manfaat, sekaligus membawa misi pribadi untuk memperkenalkan Program Studi D-3 Bahasa Inggris FIB Unsoed agar lebih dikenal luas oleh masyarakat.
Menutup perbincangan mengenai perjuangan dan proses pendewasaan dirinya, Arista memberikan pesan menyentuh baik bagi generasi muda maupun adik tingkatnya yang sering merasa ragu dan takut untuk melangkah:
“Let yourself try, let yourself learn, and let yourself win. Biarkan diri kamu mencoba, belajar, dan menang. Menang di sini bukan berarti harus selalu menang dalam kompetisi, tetapi menang dalam pengalaman dan keberanian untuk tidak membatasi diri sendiri.” — Aristanti Sobriyah.
Penulis: Farah Nasywa Nurrahma
Editor: Naila Putri Ramadani
