Oleh Adzra Rosalina
Sudutnalar.com, 7 Oktober 2026

Yono, Penjual Es Cincau (Foto: Sudutnalar.com/Adzra Rosalina)
BANYUMAS, SUDUTNALAR – Pukul dua siang, ketika panas matahari membakar aspal, seorang pria mendorong gerobaknya di pinggiran jalan raya Purwokerto. Kendaraan berlalu lalang di dekatnya, tetapi ia terus melangkah pelan dan mantap di bawah terik siang itu.
Begitu dipanggil, wajahnya tampak sumringah. Ia menghentikan gerobaknya dan melayani dengan ramah. Tangannya cekatan menyendokkan cincau segar ke dalam gelas, dan pesanan pun siap. Itulah Yono, penjual es cincau keliling.
Bagi Yono, siang itu hanya sebagian dari hari yang panjang. Ia meninggalkan rumah sekitar pukul tujuh pagi menuju rumah bosnya. Di sana, ia menyiapkan jualan, mulai dari merebus air hingga membuat cincau. Proses persiapan memakan waktu sekitar satu setangah jam. Setelah cincau mengental, ia mulai berangkat menjemput rezeki.
Pada hari-hari biasa, ia mangkal di depan sebuah ATM dekat hotel Java Heritage Purwokerto. Setelah itu, ia berkeliling ke perumahan untuk menjajakan jualannya.
Cuaca panas maupun hujan tidak menghambat langkahnya untuk terus berjualan. Namun, ada satu hal yang menjadi masalah, yaitu pasokan daun cincau saat musim kemarau.
“Ini kan panas ya, Mbak. Daunnya nggak banyak. Kalau hujan kan bisa tumbuh lagi banyak. Ini sampai dua bulan nggak tumbuh-tumbuh lagi. Jadi harus beli di tempat lain,” tutur Yono.
Terkadang daun cincau dikirim dari Tasikmalaya jika tidak tersedia di sekitar Purwokerto. Kalaupun ada, kualitas daunnya kurang bagus.
Pria kelahiran Klaten ini sudah tiga tahun berdagang bersama bosnya saat ini. Sebelumnya, ia pernah menjalani usaha sendiri, yaitu berjualan es buah di dekat Rajawali Cinema. Kala itu, ia masih bisa berjualan di trotoar. Saat ini, sudah tidak bisa dilakukan. Jadi, ia pun mengikuti bosnya saat ini.
Tidak setiap hari jualannya laku. Pada hari seperti itu, tidak ada setoran untuk bos, dan tidak ada pula yang ia bawa pulang. Jam pulangnya pun tidak menentu karena bergantung pada seberapa cepat jualannya habis.
Ia mengenang masa sebelum pandemi, saat pukul dua siang ia sudah bisa pulang. Sejak masa pandemi hingga sekarang, ritmenya tak lagi semudah itu. Namun, ia tetap bersyukur, “Alhamdulillah, sedikit demi sedikit bisa berjalan,” ucap Yono.
Sesekali ada kejadian tidak menyenangkan dari pelanggan. Namun, Yono tidak terlalu mempermasalahkannya. “Namanya orang berusaha jualan, ya, carinya cari rezeki bukan cari musuh. Alhamdulillah aman,” ungkapnya.
Di balik langkahnya mendorong gerobak, terdapat dua harapan besar. Dari segelas es cincau seharga Rp5.000, ia berharap bahwa hasil usahanya ini bisa terus membiayai sekolah anaknya. Ia juga berharap kuliner seperti cincau ini tidak hilang dan tetap dilestarikan, sebab peminatnya kini tak seramai dulu.
Ia bercerita bahwa dulu ada dua belas karyawan yang berjualan es cincau, tetapi saat ini tersisa enam. Enam karyawan diantaranya ialah orang yang sudah lanjut usia sehingga tidak lagi berjualan, dan yang bertahan adalah orang-orang muda. Akibatnya, enam gerobak menganggur.
Di akhir perbincangan, ia menitipkan satu pesan kepada siapa pun yang sedang menghadapi masa sulit, “Bertawakal saja kepada Allah. Itu adalah kunci utama. Kalau usaha jangan sampai mengeluh, ini pantangan orang Klaten. Kalau usaha di perantauan jangan sampai mengeluh. Apa pun yang kita hadapi, Insya Allah, ada jalan,” ujarnya.
Setelah melayani, Yono mengangguk ramah, lalu kembali mendorong gerobaknya menyusuri pinggiran jalan raya Purwokerto di bawah terik yang sama. Jalan mungkin masih panjang, jualan belum tentu selalu habis, tetapi langkahnya tetap bergerak. Sebab, baginya, setiap dorongan gerobak adalah bagian dari usaha untuk membawa pulang harapan.
