Penulis: Muhammad Husydardam Rajasanagara | Narasumber: Nasir | Keterangan: Feature News | Kamis, 8 Oktober 2026 | 23.25 WIB

Potret Nasir (61) bersama becak kayuhnya di sela-sela waktu mencari nafkah di Alun-Alun Purwokerto. (Foto: Dok. Pribadi)
BANYUMAS, SUDUTNALAR – Deru mesin sepeda motor dan klakson kendaraan saling bersahutan membelah aspal hangat di kawasan Alun-Alun Purwokerto. Di antara deretan kendaraan modern yang bergerak cepat, sebuah becak kayuh tua tampak terparkir tenang di tepi jalan. Atas joknya yang mulai memudar, seorang pria duduk sembari menyeka bulir keringat di dahi dengan selembar kain lusuh.
Pria itu adalah Nasir, seorang lelaki tua berusia 61 tahun asal Kabupaten Banyumas. Di balik guratan wajah dan jemarinya yang legam termakan usia, tersimpan sebuah cerita ketangguhan yang luar biasa. Nasir telah mengayuh becak di sudut kota selama 47 tahun, sebuah perjalanan panjang yang dimulai sejak dirinya masih duduk di bangku kelas 3 Sekolah Dasar pada tahun 1979.
Bagi Nasir, becak bukan sekadar alat transportasi, melainkan saksi bisu dari separuh perjalanan hidupnya. Waktu luangnya selepas sekolah pukul 10.00 pagi hingga menjelang malam pukul 20.00 WIB di masa kecil, ia habiskan untuk mencari nafkah di atas tiga roda.
“Dari kecil saya sudah mbecak di Purwokerto dan keinginan sendiri untuk menjadi tukang becak,” kenang Nasir dengan senyum tipis mengingat masa lalunya. Saat itu, lembaran uang Rp500 hingga Rp1.000 sudah terasa sangat mewah dan cukup untuk menyambung hari.
Namun waktu terus berjalan dan jalanan kota pun berubah drastis. Jika dahulu becak menjadi primadona transportasi warga lokal, kini modernisasi perlahan menggeser eksistensinya. Tansportasi yang beralih ke sistem digital disadari betul oleh Nasir sebagai tantangan terberatnya saat ini.
“Membecak sekarang itu sangat berbeda dengan dulu. Dulu belum ada ojek online, sedangkan sekarang sudah zamannya online-onlinenan. Belanja pun sekarang online dan becak pun kurang diminati oleh warga setempat,” tuturnya tanpa nada menghakimi.
Perubahan ini berimbas langsung pada ritme kerja dan penghasilannya. Nasir yang kini bermukim di Dusun Kutaliman, Kedungbanteng, harus memperpanjang waktu ikhtiarnya di jalanan. Jika dulu ia bisa pulang lebih awal, kini ia mulai mengayuh sejak pukul 06.00 pagi dan baru menyudahi harinya menjelang tengah malam, tepatnya pukul 23.30 WIB. Pendapatannya pun tidak lagi menentu; kadang ia hanya membawa pulang Rp50.000, namun jika beruntung di hari-hari tertentu, kantongnya bisa terisi hingga Rp500.000.
Di balik peluh yang mengucur setiap hari, Nasir tidak pernah benar-benar sendirian. Setengah dari napas perjuangannya adalah sang istri tercinta, Iin (62). Perempuan asal Arcawinangun itu turut mengadu nasib di tempat yang sama, menggelar lapak minuman ringan dan mainan anak di area depan alun-alun sejak sore pukul 16.00 WIB.
Bagi pasangan yang tidak dikaruniai buah hati ini, keterbatasan justru mengunci mati rasa ego mereka. Saat jarum jam mendekati pukul 23.30 WIB dan hujan deras mengguyur hingga membuat dagangan serta penumpang sepi, Nasir selalu hadir sebagai pelindung utama istrinya. Sebelum mereka pulang, dengan sigap Nasir merapikan seluruh perlengkapan dagangan Iin dan mengangkutnya pulang menggunakan becak tua miliknya.

Potret Nasir saat membereskan perlengkapan dagangan milik istrinya sebelum mereka berdua pulang ke Dusun Kutaliman, Kedungbanteng. (Foto: Dok. Pribadi)
Ketika rasa lelah atau jenuh melanda tubuh tuanya, Nasir memilih tidak menyerah pada keadaan. Ia hanya butuh jeda untuk menarik napas dalam-dalam sebelum kembali bangkit bersemangat. “Cuma sekarang kita harus tetap tabah dan ikhlas dengan apa yang sudah kita miliki dan Tuhan berikan kepada kita. Bersyukur juga perlu, karena kita hanya manusia yang pasti tak pernah luput dari kesalahan,” ungkapnya bijak.
Di saat kayuhan becak dirasa tak lagi cukup menopang dapur, Nasir kerap beralih profesi sementara menjadi kuli bangunan jika ada proyek di sekitar tempat tinggalnya dengan upah sekitar Rp75.000 hingga Rp200.000. Langkah ini ia ambil demi memastikan dapur di rumahnya tetap mengepul dan tetap memiliki tabungan saat hari sedang sepi.
Harapan lelaki tua ini tidak muluk-muluk di masa senjanya. Ia hanya berdoa agar langkah kakinya dalam mencari nafkah selalu dipermudah oleh Yang Maha Kuasa. Nasir telah membuktikan bahwa kebahagiaan dan keharmonisan rumah tangga tidak melulu diukur dari kemewahan materi, melainkan dari ketabahan, rasa syukur, dan kesetiaan untuk saling menafkahi di bawah payung takdir yang sama.
Di antara laju cepat peradaban kota Purwokerto, kayuhan becak Nasir mengajarkan satu hal fundamental bagi siapa saja yang melihatnya. Hidup bukanlah tentang seberapa cepat kita sampai, melainkan tentang seberapa kuat kita bertahan dan bersyukur atas apa yang ada di dalam genggaman tersebut.
