Penulis: Feliska Lena Distiansyah | Narasumber: Mulyadi Yulianto | Keterangan: Profil |

Kak Imung saat membawakan dongeng dalam sebuah kegiatan bersama anak-anak.
(Dok. Pribadi Kak Imung)
Purwokerto, Sudutnalar.com, Mulyadi Yulianto atau yang dikenal sebagai Kak Imung, pendongeng asal Purwokerto, telah menekuni dunia mendongeng selama bertahun-tahun. Aktivitasnya sebagai pendongeng membawanya mengisi berbagai kegiatan di sejumlah daerah di Indonesia.
Saat menjadi mahasiswa, Kak Imung aktif di Masjid Fatimatuzzahra Purwokerto dan TPA. Ia terinspirasi oleh teman-temannya yang kerap bercerita tentang kisah nabi dan sahabat. Pengalaman tersebut mendorongnya untuk mulai belajar dan berlatih mendongeng.
Kuliah Kerja Nyata (KKN) menjadi salah satu pengalaman penting dalam perjalanan Kak Imung. Sambutan masyarakat dan antusiasme anak-anak di lokasi KKN membuat kepercayaan dirinya tumbuh. Hal tersebut mendorongnya untuk terus mengembangkan kemampuan mendongeng.
Kak Imung kemudian terlibat dalam berbagai kegiatan di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Maluku. Ia juga pernah mendongeng untuk komunitas Indonesia di Hong Kong. Saat ini, Kak Imung aktif di Persaudaraan Pencerita Muslim Indonesia (PPMI) sebagai Dewan Pembina.
Kak Imung tidak selalu menuliskan cerita terlebih dahulu sebelum mendongeng. Untuk cerita fiksi, ia merangkai cerita dari gagasan yang dimilikinya dan mengembangkannya melalui improvisasi saat bercerita. Sementara itu, kisah nabi dan sahabat dipelajarinya dari berbagai literatur sebagai bahan dalam mendongeng.
Menurutnya, daya tarik sebuah dongeng tidak hanya ditentukan oleh jenis cerita, tetapi juga oleh cara mengemas dan menyampaikannya. Karena itu, cerita disesuaikan dengan tema dan audiens yang dituju. Hal tersebut membuat penyampaian cerita dapat disesuaikan dengan situasi dan karakter audiens.
Bagi Kak Imung, mendongeng bukan sekadar kegiatan, melainkan cara untuk menyampaikan pesan. Baginya, kebahagiaan hadir ketika ia dapat memberikan manfaat, terutama bagi anak-anak.
Dari pengalamannya, ia berpesan kepada anak muda untuk menekuni minat dan bakat yang dimiliki. Menurutnya, minat yang terus diasah dapat berkembang menjadi kemampuan yang bermanfaat.
βTekuni apa yang jadi minatnya. Setiap sudut aktivitas, setiap jenis kegiatan, itu pasti ada nilainya kalau kita tekuni,β tuturnya.
Penulis β Feliska Lena Distiansyah
Editor β Nasywa Putri Cahyarani
