Penulis: Caesaria Cahaya Rembulan | Narasumber: Arti Winarsih | Sudutnalar.com, Rabu, 7 Oktober 2026

(Dok. Koleksi: Mulia)
BANYUMAS, SUDUTNALAR — Suara alu yang dipukulkan ke lesung, dahulu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Dusun Kaliwangi, Desa Tambaknegara, Kecamatan Rawalo, Kabupaten Banyumas. Ketukan yang berbeda dari setiap pemain menghasilkan bunyi yang saling bersahutan. Namun, suara itu kini semakin jarang terdengar. Alat yang digunakan untuk memainkan kotekan pun sudah hampir tidak ada.
Lesung dan alu merupakan alat yang digunakan masyarakat untuk menumbuk padi. Lesung biasanya dibuat dari batang kayu berukuran besar dengan bagian tengah yang dilubangi, sedangkan alu merupakan batang kayu panjang yang digunakan untuk menumbuk. Dalam kesenian kotekan, beberapa orang memainkan alu dengan pola ketukan yang berbeda sehingga menghasilkan irama yang khas.
Jumlah pemain kotekan dapat mencapai empat hingga tujuh orang. Setiap pemain memiliki bagian masing-masing. Ada yang memainkan kotek siji, ngoprak, gawe, hingga memberikan ketukan gendong. Ketukan tersebut dimainkan secara bergantian dan saling menyahut.
Arti Winarsih, berumur 76 tahun, merupakan salah satu orang yang masih mengingat dan pernah memainkan kotekan. Ia mengenal tradisi tersebut sejak masih kecil, yaitu pada umurnya yang ke-12 (1963). Saat itu, ia hanya melihat saudaranya yang memainkan lesung dan alu.
“Saat itu saya cuman melihatnya saja saat saudara-saudara saya memainkannya,” ujar Winarsih.
Setelah waktu ke waktu hanya melihat, Winarsih mulai ikut berlatih kemudian ikut memainkannya. Ia pun mulai mengenal berbagai macam irama yang dimainkan, seperti Ngudang Anak, Ungkut-ungkutan, dan Kotek Loro.
Dahulu, kotekan sering dimainkan ketika bulan sedang terang. Warga akan berkumpul dan memainkan gubrakan, sebutan yang juga digunakan Winarsih untuk tradisi tersebut. Kegiatan itu tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga dilakukan ketika warga sedang melakukan gotong royong, seperti mengolah hasil panen mereka.
Masyarakat biasanya bergotong royong mengolah hasil panen menggunakan lesung dan alu. Padi yang masih berkulit dimasukkan ke dalam lesung, kemudian ditumbuk menggunakan alu secara bergantian hingga kulitnya terlepas dan menghasilkan beras. Setelah itu, beras dapat kembali ditumbuk sampai halus menjadi tepung. Tepung tersebut kemudian digunakan untuk membuat makanan, seperti jenang untuk keperluan hajatan. Saat menumbuk, setiap orang memiliki pola ketukan yang berbeda sehingga menghasilkan bunyi yang saling bersahutan. Pekerjaan yang dilakukan bersama-sama itu membuat suasana menjadi ramai dan terasa lebih menyenangkan.
“Kalau terang bulan, rasanya ramai sekali. Warga berkumpul, dibarengi dengan suara lesung,” kenang Winarsih.
Dari berbagai irama yang pernah dimainkan, Ungkut-ungkutan menjadi salah satu yang paling berkesan bagi Winarsih. Ia masih mengingat pola ketukan yang dimainkan secara cepat dan lambat.
“Ungkut-ungkutan,” jawabnya ketika ditanya tentang pengalaman yang paling berkesan. “Karena ketukannya asik.”
Namun, keramaian itu kini hampir tidak ditemukan lagi. Winarsih mengatakan bahwa kotekan sudah sangat jarang dimainkan. Minat masyarakat terhadap tradisi tersebut juga semakin berkurang karena muncul berbagai kesenian modern.
“Iya, sangat berkurang,” katanya.
Menurut Winarsih, masalah terbesar yang membuat kotekan sulit dilanjutkan adalah tidak adanya alat. Dahulu, Dusun Kaliwangi memiliki empat lesung beserta alunya. Namun, satu per satu lesung tersebut hilang. Salah satunya hanyut terbawa banjir, sedangkan lesung yang tersisa akhirnya lapuk dan tidak dapat digunakan lagi.
“Pertama, ada yang hanyut karena banjir. Kemudian ada juga karena sudah lapuk, jadi tidak bisa dipakai,” ujar Winarsih.
Lesung-lesung tersebut dahulu dibuat dari kayu jati berukuran besar yang diambil dari hutan pada masa itu. Kini, kayu untuk membuat lesung tersebut sulit ditemukan.
“Sampai sekarang tidak ada yang bisa membuatnya lagi karena kayu jati khusus buat lesung dan alunya tidak ada,” tuturnya.
Hilangnya alat juga membuat generasi muda semakin sulit untuk belajar. Padahal, menurut Winarsih, anak-anak muda masih memiliki keinginan untuk mempelajari kotekan jika alatnya tersedia.
“Kalau masih ada peraga dan alatnya, jelas mau,” katanya.
Selain alat, para pemain kotekan dari generasi sebelumnya juga semakin sedikit. Banyak pemain yang dahulu dikenal di Dusun Kaliwangi kini telah meninggal dunia. Winarsih menyebut beberapa nama yang ahli dalam memainkan lesung, yaitu Kari, Arwi, Kampren, Riwes, Sumirah, Sawi, Sarkem, Wadem, dan Supen.
Kini, Winarsih dan Atem menjadi beberapa orang yang masih mengetahui kesenian tersebut dari generasi sebelumnya. Mereka menjadi salah satu pengingat bahwa kotekan pernah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kaliwangi.
Bagi Winarsih, masa depan kotekan masih sulit untuk dipastikan. Tanpa lesung dan alu, kesenian tersebut tidak memiliki alat untuk dimainkan kembali.
Dahulu, suara alu dan lesung dapat mempertemukan warga dalam satu kegiatan. Kini, suara tersebut hanya tersisa dalam ingatan orang-orang yang pernah memainkannya. Bagi Winarsih, kotekan bukan hanya tentang bunyi dari kayu yang dipukulkan ke lesung, tetapi juga tentang masa ketika warga dapat berkumpul dan melakukan sesuatu bersama.
Jika tidak ada lagi lesung yang dapat dimainkan, suara itu mungkin tidak akan terdengar kembali di Dusun Kaliwangi. Namun, selama masih ada orang seperti Winarsih yang mengingatnya, cerita tentang kotekan belum benar-benar hilang.
