
Brebes, 30 Agustus 2026 — Gedung Hogwan yang berada di Jalan Lapangan Asri, Desa Dukuhturi, Kecamatan Bumiayu, Kabupaten Brebes, ambruk pada Minggu (30/8/2026) sekitar pukul 05.30 WIB. Bangunan tua tersebut merupakan salah satu bangunan peninggalan era kolonial Belanda yang telah lama berdiri di wilayah Bumiayu.
Sebelum digunakan sebagai gedung olahraga badminton, Gedung Hogwan diketahui pernah menjadi pabrik tepung tapioka. Seiring berjalannya waktu, bangunan tersebut kemudian dimanfaatkan sebagai tempat berolahraga dan masih digunakan oleh masyarakat sekitar.
Ambruknya bangunan terjadi secara tiba-tiba pada Minggu pagi. Material bangunan yang runtuh kemudian menimpa rumah-rumah warga yang berada di sekitar gedung. Reruntuhan juga menutup akses jalan di depan lokasi sehingga aktivitas warga di sekitar tempat kejadian turut terganggu.
Sebanyak tiga rumah warga terdampak akibat tertimpa material bangunan. Rumah-rumah tersebut mengalami kerusakan parah akibat reruntuhan gedung yang roboh ke arah permukiman. Peristiwa ini menunjukkan bahwa ambruknya bangunan tidak hanya berdampak pada kondisi gedung, tetapi juga lingkungan dan tempat tinggal warga di sekitarnya.
Peristiwa tersebut juga menyebabkan tiga orang meninggal dunia. Dua korban merupakan anak-anak, sedangkan satu korban lainnya merupakan warga lanjut usia. Tim gabungan bersama warga melakukan pencarian dan evakuasi di antara reruntuhan setelah kejadian. Korban ketiga ditemukan dalam proses penyisiran pada hari yang sama.
Hingga saat ini, penyebab pasti ambruknya Gedung Hogwan belum dapat dipastikan. Sejumlah pemberitaan menyebut usia bangunan yang sudah tua sebagai salah satu dugaan, tetapi faktor tersebut belum dinyatakan sebagai penyebab pasti oleh pihak berwenang.
Runtuhnya Gedung Hogwan meninggalkan kerusakan yang cukup besar bagi lingkungan sekitar. Selain menghilangkan bangunan yang memiliki nilai sejarah bagi Bumiayu, peristiwa tersebut juga berdampak langsung terhadap rumah warga dan menyebabkan korban jiwa. Gedung yang selama ini menjadi bagian dari lingkungan masyarakat tersebut kini hanya menyisakan reruntuhan.
Editor: Arsy Sastra Dewi
