
Pak Musirin saat merawat area Petilasan Sumur Gemuling di Desa Kuripan, Cilacap. (Dok. Lelyana Dwi Maharani)
CILACAP, SUDUTNALAR — Bunyi desau angin yang menerpa pepohonan di perbukitan Sumur Gemuling, Desa Kuripan, Kecamatan Kesugihan, Cilacap, berpadu ritmis dengan sabetan sapu lidi. Pagi itu, dengan kaos garis-garis yang mulai memudar dan topi krem pelindung terik, langkahnya bergerak telaten menyapu pelataran semen situs keramat tersebut. Pria itu adalah Musirin.
Musirin adalah potret nyata dari sebuah keikhlasan yang kian langka. Selama bertahun-tahun, ia bertindak sebagai juru kunci sekaligus pemelihara Petilasan Sumur Gemuling, sebuah situs bersejarah dan sumber mata air keramat yang konon menjadi jejak perjalanan spiritual masa lalu di tanah Cilacap. Menariknya, seluruh kerja keras yang ia keluarkan setiap hari tidak pernah ditukar dengan selembar rupiah pun. Ia bekerja sepenuhnya tanpa bayaran.
Ketika ditanya dari mana modal untuk membeli alat-alat kebersihan guna merawat cagar budaya ini, Musirin menjawabnya dengan lugas. “Ini modal sendiri. Kalau sapunya sudah habis atau rusak, ya saya bikin sendiri. Karena dari kepala desa yang dulu sampai kepala desa yang sekarang, semuanya sudah memercayakan tempat ini kepada saya,” ungkapnya penuh keikhlasan.
Langkah kakinya di atas tanah Kuripan bukanlah kebetulan. Musirin mengenang kembali awal mula pundaknya memikul tanggung jawab ini. Saat itu, kawasan Sumur Gemuling masih berupa lahan terbengkalai yang tak terurus.
“Dulu tempat ini tidak ada yang datang, tidak diapa-apakan. Tapi kemudian Pak Kades mengumpulkan para tokoh masyarakat dan ulama. Dari pertemuan para ulama itulah, saya ditunjuk untuk merawat tempat ini,” ujar Musirin.
Sejak penunjukan itu, harinya dihabiskan untuk bersahabat dengan alam. Rutinitasnya tak bergeser jauh mulai dari menyapu dedaunan kering, merapikan dahan-dahan pohon yang mulai lapuk agar tidak membahayakan peziarah yang datang dan bertani di sawah untuk menghidupi keluarganya.

Situs sejarah Petilasan Sumur Gemuling. (Dok. Lelyana Dwi Maharani)
Di atas tanah tempatnya berdiri, Sumur Gemuling menyimpan rekam jejak gotong royong. Musirin menceritakan bahwa pembangunan dilakukan secara bertahap dengan melibatkan masyarakat dan bantuan dari sejumlah pihak.
“Masyarakat yang membentuk pondasi ini. Peletakan batu pertama komplek ini dahulu dilakukan oleh Gus Imtad dari Pondok Pesantren Ihya Ulumaddin,” ujar Musirin
Musirin mengaku pernah mengajukan bantuan pemerintah untuk membangun tembok keliling, namun proyek tersebut terhenti sebelum selesai. Ia berharap pembangunan dan perawatan situs Sumur Gemuling terus diperhatikan agar kondisinya semakin baik.
Dua puluh tahun mengabdi dalam kesunyian tentu bukan waktu yang singkat. Rasa lelah fisik sewaktu-waktu kerap mengetuk pintu pertahanan Musirin. Ia mengaku pernah mencoba meminta Kepala Desa untuk mencari pengganti agar ada regenerasi. Namun, hasilnya nihil. “Saya bilang ke Pak Kades, minta gantian. Tapi tidak ada yang masuk,” katanya.
Bagi Musirin, ada kekecewaan yang mendalam melihat bagaimana situs yang diyakini sebagai petilasan para waliullah sejak zaman runtuhnya Kerajaan Demak Bintoro ini seolah kurang diperhatikan.
“Pemerintah sekarang kurang memikirkan hal-hal yang begini. Kalau jadi pamong desa kan ada tanah bengkok, kalau kerja begini bengkok dari mana?” selorohnya menyindir realitas sosial.
Meski demikian, ia tidak serta-merta meninggalkan tempat tersebut. Setiap kali datang, ia kembali melakukan pekerjaan yang sama. Membersihkan dan melestarikan tempat ini agar tetap bersih dan terawat.
Bagi pria tua ini, selama fisiknya belum sepenuhnya menyerah pada usia, ia akan tetap naik ke bukit ini setiap pagi. Di tengah dunia modern yang serba transaksional, Musirin memilih jalan sunyi: mengabdi pada tanah leluhur, memegang teguh amanah para ulama, dan merawat sejarah Cilacap dengan modal dari keringatnya sendiri.
Penulis: Lelyana Dwi Maharani
