Skip to content
sudutnalar.com
Menu
  • Beranda
  • Tentang
  • Bahasa
  • Wisata
  • Tips
  • Budaya
  • Teknologi
  • Sosial
  • Politik
  • Sastra
  • Kuliner
  • Hiburan
  • Profile
  • Pendidikan
  • Feature
  • Ekonomi
  • Hukum
Menu

Dua Dekade Pak Musirin Merawat Sejarah Sumur Gemuling Kuripan dengan Modal Sendiri

Posted on Oktober 8, 2026 by Erdi Aqil Fauzan

Pak Musirin saat merawat area Petilasan Sumur Gemuling di Desa Kuripan, Cilacap. (Dok. Lelyana Dwi Maharani)

CILACAP, SUDUTNALAR — Bunyi desau angin yang menerpa pepohonan di perbukitan Sumur Gemuling, Desa Kuripan, Kecamatan Kesugihan, Cilacap, berpadu ritmis dengan sabetan sapu lidi. Pagi itu, dengan kaos garis-garis yang mulai memudar dan topi krem pelindung terik, langkahnya bergerak telaten menyapu pelataran semen situs keramat tersebut. Pria itu adalah Musirin.

Musirin adalah potret nyata dari sebuah keikhlasan yang kian langka. Selama bertahun-tahun, ia bertindak sebagai juru kunci sekaligus pemelihara Petilasan Sumur Gemuling, sebuah situs bersejarah dan sumber mata air keramat yang konon menjadi jejak perjalanan spiritual masa lalu di tanah Cilacap. Menariknya, seluruh kerja keras yang ia keluarkan setiap hari tidak pernah ditukar dengan selembar rupiah pun. Ia bekerja sepenuhnya tanpa bayaran.

Ketika ditanya dari mana modal untuk membeli alat-alat kebersihan guna merawat cagar budaya ini, Musirin menjawabnya dengan lugas. “Ini modal sendiri. Kalau sapunya sudah habis atau rusak, ya saya bikin sendiri. Karena dari kepala desa yang dulu sampai kepala desa yang sekarang, semuanya sudah memercayakan tempat ini kepada saya,” ungkapnya penuh keikhlasan.

Langkah kakinya di atas tanah Kuripan bukanlah kebetulan. Musirin mengenang kembali awal mula pundaknya memikul tanggung jawab ini. Saat itu, kawasan Sumur Gemuling masih berupa lahan terbengkalai yang tak terurus.

“Dulu tempat ini tidak ada yang datang, tidak diapa-apakan. Tapi kemudian Pak Kades mengumpulkan para tokoh masyarakat dan ulama. Dari pertemuan para ulama itulah, saya ditunjuk untuk merawat tempat ini,” ujar Musirin.

Sejak penunjukan itu, harinya dihabiskan untuk bersahabat dengan alam. Rutinitasnya tak bergeser jauh mulai dari menyapu dedaunan kering, merapikan dahan-dahan pohon yang mulai lapuk agar tidak membahayakan peziarah yang datang dan bertani di sawah untuk menghidupi keluarganya. 

Situs sejarah Petilasan Sumur Gemuling. (Dok. Lelyana Dwi Maharani)

Di atas tanah tempatnya berdiri, Sumur Gemuling menyimpan rekam jejak gotong royong. Musirin menceritakan bahwa pembangunan dilakukan secara bertahap dengan melibatkan masyarakat dan bantuan dari sejumlah pihak. 

“Masyarakat yang membentuk pondasi ini. Peletakan batu pertama komplek ini dahulu dilakukan oleh Gus Imtad dari Pondok Pesantren Ihya Ulumaddin,” ujar Musirin

Musirin mengaku pernah mengajukan bantuan pemerintah untuk membangun tembok keliling, namun proyek tersebut terhenti sebelum selesai. Ia berharap pembangunan dan perawatan situs Sumur Gemuling terus diperhatikan agar kondisinya semakin baik.

Dua puluh tahun mengabdi dalam kesunyian tentu bukan waktu yang singkat. Rasa lelah fisik sewaktu-waktu kerap mengetuk pintu pertahanan Musirin. Ia mengaku pernah mencoba meminta Kepala Desa untuk mencari pengganti agar ada regenerasi. Namun, hasilnya nihil. “Saya bilang ke Pak Kades, minta gantian. Tapi tidak ada yang masuk,” katanya.

Bagi Musirin, ada kekecewaan yang mendalam melihat bagaimana situs yang diyakini sebagai petilasan para waliullah sejak zaman runtuhnya Kerajaan Demak Bintoro ini seolah kurang diperhatikan. 

“Pemerintah sekarang kurang memikirkan hal-hal yang begini. Kalau jadi pamong desa kan ada tanah bengkok, kalau kerja begini bengkok dari mana?” selorohnya menyindir realitas sosial.

Meski demikian, ia tidak serta-merta meninggalkan tempat tersebut. Setiap kali datang, ia kembali melakukan pekerjaan yang sama. Membersihkan dan melestarikan tempat ini agar tetap bersih dan terawat.

Bagi pria tua ini, selama fisiknya belum sepenuhnya menyerah pada usia, ia akan tetap naik ke bukit ini setiap pagi. Di tengah dunia modern yang serba transaksional, Musirin memilih jalan sunyi: mengabdi pada tanah leluhur, memegang teguh amanah para ulama, dan merawat sejarah Cilacap dengan modal dari keringatnya sendiri.

Penulis: Lelyana Dwi Maharani

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

Berita Terbaru

  • Dulu Semalam Suntuk, Kini Sekadar Pembuka Acara: Cerita Lengger dari Rumah Lengger Banyumas
    By bagus aji
    Oktober 9, 2026
    Lukisan penari lengger dan seperangkat calung di sudut […]
  • Gemblong Ocar-Acir di Tengah Perubahan Selera Generasi Muda
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Penulis: Erdi Aqil Fauzan | Keterangan: Feature, […]
  • Ketika Krama Inggil Perlahan Kehilangan Suara di Patikraja
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Oleh: Farah Nasywa Nurrahma | Narasumber: Mareta & […]

Pendidikan

  • SMA Muhammadiyah Sokaraja Benahi Manajemen untuk Pulihkan Kepercayaan Masyarakat
    By shafrifa aulia
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Keterbatasan Perpustakaan Tak Padamkan Semangat Membaca, Pojok Literasi Jadi Solusi bagi Murid UPTD SDN 3 Kedungdawa
    By calista aneen
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Kopi dan Laptop: Cerita Mahasiswa Unsoed Menghadapi Tenggat Tugas Tengah Semester
    By athaya qila
    Pendidikan
    September 29, 2026

Bahasa

  • Mengenal Dunia Inklusif Melalui Kelas Bahasa Isyarat Himpunan Mahasiswa KIP-K Unsoed
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Terbaru
    September 21, 2026
  • Usung Tema “Citta Karya”, Seminar Kepenulisan 2026 Hadirkan Luluk HF, Penulis “Mariposa”
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Berlangsung 14–16 September
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Hiburan, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Dibuka, Wabup Dorong Budaya Baca Masyarakat
    By akt 24
    Bahasa Bahasa, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Hadirkan Beragam Stan Literasi
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan
    September 21, 2026

Kuliner

  • Segelas Dawet Ayu, Rezeki yang Tak Tertukar
    By Hanunah Mumtaz
    Feature, Kuliner, Sosial
    Oktober 8, 2026
  • Makaroni Tasik Mang Dadang, Kuliner Pedas Hits di Purwokerto
    By Hanunah Mumtaz
    Kuliner
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Wisata

  • Riak Sang Penyu, Potret Kehidupan di Kawasan Konservasi
    By kelasB
    Pendidikan, Wisata
    September 21, 2026
  • Sabtu Malam, Kawasan Malioboro Dipenuhi Wisatawan
    By akt 24
    Wisata
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Sudut Nalar

Media pemberitaan mahasiswa
Hasil praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman

Tautan

Tentang Kami
Susunan Redaksi
Pedoman Media Siber
Kirim Tulisan
Arsip Berita.

Tentang

Diterbitkan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman, sebagai bagian dari praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Dosen Pengampu : Dr. Memet Sudaryanto, M.Pd.

©2026 sudutnalar.com | Design: Newspaperly WordPress Theme