Skip to content
sudutnalar.com
Menu
  • Beranda
  • Tentang
  • Bahasa
  • Wisata
  • Tips
  • Budaya
  • Teknologi
  • Sosial
  • Politik
  • Sastra
  • Kuliner
  • Hiburan
  • Profile
  • Pendidikan
  • Feature
  • Ekonomi
  • Hukum
Menu

Di Tengah Riuh Malioboro, Pertunjukan Calung Funk Jadi Hiburan Pengunjung

Posted on September 15, 2026September 15, 2026 by Erdi Aqil Fauzan

Sudutnalar.com, Sabtu, 12 September 2026, 21.27 WIB

Pertunjukan Calung Funk di kawasan Malioboro, Yogyakarta (Foto: Dok. Ilma Lutfi Anasari)

YOGYAKARTA, sudutnalar.com – Di tengah keramaian Malioboro, alunan musik dan gerak penari dari Calung Funk berhasil mencuri perhatian pengunjung. Kelompok musik jalanan asal Yogyakarta yang telah tampil sejak 2008 menghadirkan pertunjukan yang memadukan musik dan tari, membuat sejumlah pengunjung menghentikan langkah untuk menyaksikannya.

Johny, selaku ketua Calung Funk mengatakan Malioboro bukan sekadar tempat untuk tampil. Pengunjung dapat mengenal budaya sekaligus memperoleh informasi mengenai berbagai program yang ada di kawasan Malioboro. Kawasan tersebut dipilih karena menjadi salah satu destinasi wisata yang ramai dikunjungi wisatawan dalam negeri maupun luar negeri. Lokasinya yang dekat dengan tempat tinggal para pemain juga menjadi alasan mereka bertahan di kawasan itu.

“Pertama, Malioboro itu destinasi wisata, banyak wisatawan dalam negeri maupun luar negeri. Tempatnya juga dekat dengan tempat tinggal,” ujar Johny.

Selama bertahun-tahun tampil di ruang terbuka, Calung Funk tidak hanya mengandalkan permainan musik. Kelompok tersebut mengembangkan konsep dengan memadukan angklung, perkusi, dan sejumlah alat musik lain dengan tari tradisional dalam satu penampilan yang dapat dinikmati langsung oleh pengunjung. Perpaduan tersebut menjadi ciri khas dan kreativitas yang membedakan penampilan mereka dari hiburan lainnya.

“Daya tariknya, kita buat suatu konsep pertunjukan yang tidak ada di tempat lain dengan mengkolaborasikan tari tradisional dengan alat musik angklung, perkusi, dan lain-lain,” ujar Johny.

Penampilan Calung Funk yang memadukan permainan musik dan tari di kawasan Malioboro (Foto: Dok. Ilma Lutfi Anasari)

Salah satu hal yang turut menjadi keunikan kelompok Calung Funk adalah alat musik yang digunakan. Johny mengatakan angklung yang dimainkan merupakan hasil kerajinan tangan dari kelompoknya. Keunikan pertunjukan tersebut juga dirasakan oleh Karina, pengunjung asal Jakarta. Karina tertarik menyaksikan permainan angklung yang dipadukan dengan tarian, sebuah pertunjukan yang menurutnya jarang ditemui di Jakarta.

“Seru, di Jakarta hampir nggak ada pertunjukan seperti ini,” ujar Karina.

Pandangan serupa disampaikan Farel, pengunjung asal Semarang. Farel melihat angklung sebagai salah satu daya tarik karena alat musik tersebut semakin jarang ditemui. Ketertarikan Farel tidak berhenti pada keberadaan angklung. Farel mengaku kagum melihat banyaknya susunan nada atau kunci yang harus diingat oleh para pemain, tetapi mereka tetap mampu memainkannya dengan baik.

“Yang membuat tertarik itu karena angklung sudah jarang ditemui,” ujar Farel.

“Yang paling berkesan itu permainan angklung. Banyak banget permainan atau kuncinya, tetapi mereka dapat memainkannya sangat baik,” tambahnya.

Jhony teringat pada antusiasme penonton yang tetap bertahan di lokasi meski pertunjukan memasuki waktu istirahat. Bahkan, beberapa pengunjung dari luar daerah sengaja menunggu pertunjukan berikutnya. Bagi Johny, respons penonton menjadi salah satu alasan Calung Funk untuk terus menjalankan pertunjukannya.

Selama hampir dua dekade tampil di Malioboro, Calung Funk juga menghadapi berbagai tantangan. Tampil di ruang terbuka, cuaca menjadi salah satu kendala yang harus dihadapi. Tantangan lain datang dari permintaan penonton dan keramaian yang dimanfaatkan oleh oknum tidak bertanggung jawab. Johny mengatakan pemain harus menghadapi permintaan lagu yang belum pernah mereka tampilkan sebelumnya. Situasi tersebut menuntut pemain untuk mampu menyesuaikan diri dengan permintaan yang muncul secara spontan selama pertunjukan. Meski demikian, persiapan khusus sebelum tampil kini tidak lagi menjadi keharusan bagi Calung Funk karena jam terbang para pemain sudah tinggi. 

Di tengah berbagai tantangan tersebut, Johny berharap Calung Funk tetap mampu bertahan dan terus berkembang. Johny ingin menghadirkan inovasi baru agar penampilan mereka tetap menarik bagi pengunjung. Harapan tersebut sejalan dengan pengalaman pengunjung. 

Tampil di ruang terbuka membuat Calung Funk memiliki cara sendiri untuk mempertahankan perhatian penonton. Dari alat musik yang dibuat sendiri, perpaduan dengan tari tradisional yang menjadi hiburan dan meninggalkan kesan bagi penontonnya, hingga kemampuan pemain merespons situasi di lapangan. Sehingga kelompok ini memiliki keunikan di tengah riuh Malioboro.

Penulis – Ilma Lutfi Anasari

Editor – Elisyia Putri Himawan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

Berita Terbaru

  • Dulu Semalam Suntuk, Kini Sekadar Pembuka Acara: Cerita Lengger dari Rumah Lengger Banyumas
    By bagus aji
    Oktober 9, 2026
    Lukisan penari lengger dan seperangkat calung di sudut […]
  • Gemblong Ocar-Acir di Tengah Perubahan Selera Generasi Muda
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Penulis: Erdi Aqil Fauzan | Keterangan: Feature, […]
  • Ketika Krama Inggil Perlahan Kehilangan Suara di Patikraja
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Oleh: Farah Nasywa Nurrahma | Narasumber: Mareta & […]

Pendidikan

  • SMA Muhammadiyah Sokaraja Benahi Manajemen untuk Pulihkan Kepercayaan Masyarakat
    By shafrifa aulia
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Keterbatasan Perpustakaan Tak Padamkan Semangat Membaca, Pojok Literasi Jadi Solusi bagi Murid UPTD SDN 3 Kedungdawa
    By calista aneen
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Kopi dan Laptop: Cerita Mahasiswa Unsoed Menghadapi Tenggat Tugas Tengah Semester
    By athaya qila
    Pendidikan
    September 29, 2026

Bahasa

  • Mengenal Dunia Inklusif Melalui Kelas Bahasa Isyarat Himpunan Mahasiswa KIP-K Unsoed
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Terbaru
    September 21, 2026
  • Usung Tema “Citta Karya”, Seminar Kepenulisan 2026 Hadirkan Luluk HF, Penulis “Mariposa”
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Berlangsung 14–16 September
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Hiburan, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Dibuka, Wabup Dorong Budaya Baca Masyarakat
    By akt 24
    Bahasa Bahasa, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Hadirkan Beragam Stan Literasi
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan
    September 21, 2026

Kuliner

  • Segelas Dawet Ayu, Rezeki yang Tak Tertukar
    By Hanunah Mumtaz
    Feature, Kuliner, Sosial
    Oktober 8, 2026
  • Makaroni Tasik Mang Dadang, Kuliner Pedas Hits di Purwokerto
    By Hanunah Mumtaz
    Kuliner
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Wisata

  • Riak Sang Penyu, Potret Kehidupan di Kawasan Konservasi
    By kelasB
    Pendidikan, Wisata
    September 21, 2026
  • Sabtu Malam, Kawasan Malioboro Dipenuhi Wisatawan
    By akt 24
    Wisata
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Sudut Nalar

Media pemberitaan mahasiswa
Hasil praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman

Tautan

Tentang Kami
Susunan Redaksi
Pedoman Media Siber
Kirim Tulisan
Arsip Berita.

Tentang

Diterbitkan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman, sebagai bagian dari praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Dosen Pengampu : Dr. Memet Sudaryanto, M.Pd.

©2026 sudutnalar.com | Design: Newspaperly WordPress Theme