Skip to content
sudutnalar.com
Menu
  • Beranda
  • Tentang
  • Bahasa
  • Wisata
  • Tips
  • Budaya
  • Teknologi
  • Sosial
  • Politik
  • Sastra
  • Kuliner
  • Hiburan
  • Profile
  • Pendidikan
  • Feature
  • Ekonomi
  • Hukum
Menu

Di Balik Ban Bekas, Ada Rezeki Yang Tak ingin Dilepas

Posted on Oktober 8, 2026 by Erdi Aqil Fauzan

Oleh Kayla Fadilla

Sudutnalar.com, Rabu, 7 Oktober 2026, 13.29 WIB

Agus Suyitno, Penjual Sandal Bandol (Foto: Dok. Kayla Fadilla)

BANYUMAS, SUDUTNALAR – Ban yang telah rusak biasanya berakhir sebagai barang yang tidak lagi digunakan. Namun, di Purwokerto, sebagian ban bekas masih menemukan kehidupan kedua. Bahan yang semula dianggap tidak berguna diolah menjadi sandal bandol dan menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat. Bagi Agus Suyitno, usaha tersebut bukan sekadar aktivitas jual beli. Sejak 2007, sandal bandol telah menjadi bagian dari perjalanan hidup dan sumber rezeki keluarganya.

Agus merupakan pria asli Purwokerto yang terlibat dalam pemasaran sandal bandol. Ia memahami bahwa sandal tersebut memiliki keunikan yang tidak ditemukan pada alas kaki pabrikan. Keunikannya terletak pada bahan utama yang digunakan, yakni ban bekas yang didaur ulang.

“Sandal yang prosesnya didaur ulang dari bahan bekas manfaatnya bisa dibikin menjadi sandal,” ujar Agus.

Nama “bandol” sendiri berasal dari istilah “ban bodol”, yang merujuk pada ban yang telah rusak. Ban tersebut tidak langsung menjadi sampah, tetapi diolah kembali hingga memiliki fungsi sebagai alas kaki. Dari bahan yang sederhana itu, lahirlah produk lokal yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Dalam proses pembuatannya, sandal bandol juga melibatkan banyak tangan. Pekerjaan tidak hanya dilakukan oleh pengrajin, tetapi dapat melibatkan ibu rumah tangga hingga anak-anak. Ibu rumah tangga dapat mengerjakan ngemal, menjahit, dan mengolah karet, sedangkan anak-anak membantu pekerjaan seperti mengikat dan mengepak sandal.

Namun, keberlangsungan pekerjaan tersebut kini menghadapi tantangan. Agus melihat jumlah pelaku usaha sandal bandol semakin berkurang. Persoalan utamanya adalah bahan baku yang semakin sulit diperoleh. Ketika persediaan ban berkurang, harga bahan baku ikut meningkat dan berdampak pada proses produksi.

“Sekarang produk semakin menurun karena mengalami kesulitan bahan baku. Kalau bahan baku tidak tersedia, akhirnya harga ban menjadi naik. Kenaikan harga itu memengaruhi pembuatan, jadi sekarang banyak yang sudah tidak produksi lagi,” kata Agus.

Kesulitan itu semakin terasa setelah Lebaran 2025 hingga sekarang. Harga sandal bandol yang dihitung berdasarkan kodi mengalami kenaikan. Satu kodi berisi 20 pasang sandal, dengan harga yang berada di kisaran Rp20.000 hingga Rp25.000. Kenaikan tersebut menjadi tantangan bagi pelaku usaha untuk mempertahankan keberlangsungan produksi.

Di tengah keadaan tersebut, Agus tetap mempertahankan sandal bandol sebagai salah satu jalan rezekinya. Pilihan itu bukan karena usaha tersebut bebas dari masalah, melainkan karena sandal bandol telah menjadi bagian dari kehidupannya.

“Karena sudah tidak ada pilihan lagi, jadi menjadi jalan rezeki pada sandal bandol tersebut,” tuturnya.

Keputusan untuk bertahan bukan tanpa hasil. Selama menjalankan usaha sejak 2007, Agus dapat membiayai pendidikan anak hingga kuliah. Usahanya yang semula hanya memiliki satu toko juga berkembang menjadi dua toko. Pencapaian tersebut membuat sandal bandol memiliki arti lebih dari sekadar produk yang dipasarkan.

Namun, Agus menyadari kondisi saat ini berbeda. Penurunan usaha sandal bandol membuatnya tidak dapat sepenuhnya mengandalkan penjualan sandal. Ia kemudian mencari alternatif lain yang masih berkaitan dengan pemanfaatan ban. Tali timba, alas bak, dan tempat sampah menjadi beberapa produk yang dapat dibuat dari bahan yang sama.

Langkah tersebut menjadi bentuk penyesuaian agar usaha tetap berjalan. Di saat produk alas kaki modern semakin mudah ditemukan, mempertahankan produk berbahan daur ulang membutuhkan usaha lebih. Menurut Agus, kualitas menjadi salah satu hal yang harus diperhatikan agar produk daur ulang tetap memiliki nilai.

“Sandal bandol jika diproses dengan bagus, hasilnya juga akan bagus dan punya nilai tersendiri. Terutama dari negara luar, jika barang yang dihasilkan dari daur ulang dan dibikin menjadi barang, justru dihargai,” jelasnya.

Bagi Agus, keberadaan sandal bandol juga tidak terlepas dari peran masyarakat dan pemerintah. Ia berharap pemerintah dapat memberikan dukungan agar masyarakat semakin mencintai produk dalam negeri. Menurutnya, semakin banyak masyarakat yang menggunakan produk lokal, semakin besar pula peluang sandal bandol untuk terus bertahan.

Harapan itu menjadi penting ketika semakin banyak pelaku produksi memilih berhenti akibat sulitnya memperoleh bahan baku. Sandal bandol yang dahulu dapat menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat kini harus berhadapan dengan persoalan keberlanjutan.

Meski demikian, Agus belum memilih untuk menyerah. Ban bekas yang bagi sebagian orang hanya merupakan barang rusak masih ia lihat sebagai sesuatu yang dapat diberi nilai. Dari benda yang kehilangan fungsi, lahir sandal, lalu dari sandal itu tumbuh sebuah usaha yang mampu menopang keluarganya selama bertahun-tahun.

Sandal bandol mungkin hanya sepasang alas kaki bagi pemakainya. Namun bagi Agus, di balik ban bekas yang diolah kembali itu ada rezeki, keluarga, dan sebuah usaha lokal yang masih ingin dipertahankan.

Penulis: Kayla Fadilla

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

Berita Terbaru

  • Dulu Semalam Suntuk, Kini Sekadar Pembuka Acara: Cerita Lengger dari Rumah Lengger Banyumas
    By bagus aji
    Oktober 9, 2026
    Lukisan penari lengger dan seperangkat calung di sudut […]
  • Gemblong Ocar-Acir di Tengah Perubahan Selera Generasi Muda
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Penulis: Erdi Aqil Fauzan | Keterangan: Feature, […]
  • Ketika Krama Inggil Perlahan Kehilangan Suara di Patikraja
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Oleh: Farah Nasywa Nurrahma | Narasumber: Mareta & […]

Pendidikan

  • SMA Muhammadiyah Sokaraja Benahi Manajemen untuk Pulihkan Kepercayaan Masyarakat
    By shafrifa aulia
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Keterbatasan Perpustakaan Tak Padamkan Semangat Membaca, Pojok Literasi Jadi Solusi bagi Murid UPTD SDN 3 Kedungdawa
    By calista aneen
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Kopi dan Laptop: Cerita Mahasiswa Unsoed Menghadapi Tenggat Tugas Tengah Semester
    By athaya qila
    Pendidikan
    September 29, 2026

Bahasa

  • Mengenal Dunia Inklusif Melalui Kelas Bahasa Isyarat Himpunan Mahasiswa KIP-K Unsoed
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Terbaru
    September 21, 2026
  • Usung Tema “Citta Karya”, Seminar Kepenulisan 2026 Hadirkan Luluk HF, Penulis “Mariposa”
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Berlangsung 14–16 September
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Hiburan, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Dibuka, Wabup Dorong Budaya Baca Masyarakat
    By akt 24
    Bahasa Bahasa, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Hadirkan Beragam Stan Literasi
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan
    September 21, 2026

Kuliner

  • Segelas Dawet Ayu, Rezeki yang Tak Tertukar
    By Hanunah Mumtaz
    Feature, Kuliner, Sosial
    Oktober 8, 2026
  • Makaroni Tasik Mang Dadang, Kuliner Pedas Hits di Purwokerto
    By Hanunah Mumtaz
    Kuliner
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Wisata

  • Riak Sang Penyu, Potret Kehidupan di Kawasan Konservasi
    By kelasB
    Pendidikan, Wisata
    September 21, 2026
  • Sabtu Malam, Kawasan Malioboro Dipenuhi Wisatawan
    By akt 24
    Wisata
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Sudut Nalar

Media pemberitaan mahasiswa
Hasil praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman

Tautan

Tentang Kami
Susunan Redaksi
Pedoman Media Siber
Kirim Tulisan
Arsip Berita.

Tentang

Diterbitkan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman, sebagai bagian dari praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Dosen Pengampu : Dr. Memet Sudaryanto, M.Pd.

©2026 sudutnalar.com | Design: Newspaperly WordPress Theme