Penulis: Gesit Adhe Priyana | Editor: Desta Hikmah Setyani | Narasumber: Ahmad Jalaludin | Keterangan: Feature News | Rabu, 07 Oktober 2026 | 20.48 WIB

Ahmad Jalaludin saat menjajakan jagung rebus dagangannya. (Dok. Gesit Adhe Priyana)
BANYUMAS, SUDUTNALAR β menjelang sore, jalanan mulai dipenuhi kendaraan dan orang-orang yang beraktivitas setelah menyelesaikan pekerjaan mereka. Di tengah ramainya jalan, sebuah gerobak berisi jagung rebus bergerak perlahan dari satu tempat ke tempat lain. Aroma jagung yang masih hangat sesekali menarik perhatian orang yang melintas. Dari gerobak sederhana itulah, penghasilan untuk sebuah keluarga berusaha dikumpulkan setiap hari.
Di balik gerobak tersebut ada Ahmad Jalaludin, pria berusia 50 tahun yang kesehariannya berjualan jagung rebus keliling. Tinggal di Pamijen, Banyumas, dan berasal dari Bukateja, Purbalingga, Ahmad mulai berjualan sekitar pukul 13.00 WIB. Ia terus berkeliling hingga dagangannya habis atau waktunya tiba untuk pulang.
Jagung yang dijual Ahmad bukan miliknya sendiri. Ia mengambil dagangan dari seorang pemilik usaha untuk kemudian dijajakan kepada pembeli. Setiap hari, Ahmad harus berusaha menjual jagung sebanyak mungkin. Pasalnya, jika dagangan tidak habis, jagung yang tersisa menjadi tanggungannya sendiri dan tidak dapat dikembalikan.
Risiko tersebut membuat aktivitas berjualan Ahmad tidak selalu mudah. Ketika pembeli ramai, dagangannya dapat lebih cepat habis. Namun, saat pembeli sepi, ia harus tetap berkeliling dan menawarkan dagangan agar tidak mengalami kerugian.
Di balik rutinitasnya berjualan, Ahmad memiliki keluarga yang menjadi bagian penting dari perjuangannya. Ia telah menikah dan memiliki dua anak. Anak pertamanya kini sudah bekerja setelah menyelesaikan pendidikan di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), jurusan Pendidikan Bahasa Inggris.
βYang pertama sudah kerja. Kalau yang kedua masih kuliah di Jakarta, tapi kuliahnya online,β kata Ahmad.
Sementara itu, anak keduanya masih menempuh pendidikan di Jakarta secara daring. Meskipun berada jauh dari keluarga, Ahmad tetap berusaha mendukung pendidikan anaknya. Penghasilan dari berjualan jagung menjadi salah satu sumber untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
Setiap hari, Ahmad harus menghadapi ketidakpastian dalam berjualan. Tidak ada jaminan seluruh jagung yang dibawanya akan habis. Jika pembeli ramai, dagangannya dapat lebih cepat terjual. Namun, ketika pembeli sepi, ia harus tetap berkeliling dan menawarkan dagangannya.
Pekerjaan sebagai penjual jagung rebus mungkin terlihat sederhana. Namun, di baliknya terdapat tanggung jawab yang tidak ringan. Ahmad harus menghadapi perjalanan berkeliling, kondisi pembeli yang tidak menentu, hingga risiko kerugian ketika jagung yang dibawanya tidak habis.
Usianya yang sudah 50 tahun tidak membuat Ahmad berhenti bekerja. Setiap hari ia kembali memulai perjalanan dengan membawa dagangan. Panas matahari, perjalanan berkeliling, hingga risiko jagung tidak habis menjadi bagian yang harus ia hadapi.
Bagi Ahmad, bekerja bukan hanya tentang menjual jagung. Ada kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi dan pendidikan anak yang harus terus didukung. Setiap jagung yang berhasil terjual menjadi penghasilan yang dapat dibawa pulang untuk keluarganya.
Saat malam tiba dan aktivitas jualan berakhir, Ahmad akan kembali ke rumah. Gerobak yang digunakan sepanjang hari mungkin terlihat sederhana. Namun, bagi Ahmad, gerobak itu menjadi saksi bisu dari usaha seorang ayah dalam mempertahankan kehidupan keluarganya.
Di balik jagung rebus yang dijajakan dari satu tempat ke tempat lain, tersimpan cerita tentang seorang ayah yang tidak berhenti berusaha. Ahmad mungkin hanya membawa jagung dalam gerobaknya, tetapi bersama dagangan itu ia juga membawa harapan agar keluarganya tetap bertahan dan anak-anaknya memiliki masa depan yang lebih baik.
Penulis: Gesit Adhe Priyana (J1D025115)
Editor: Desta Hikmah Setyani (J1D025099)
