
Sa’bati Mela Matsania, dosen Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Purwokerto, saat diwawancarai dalam liputan berita ketokohan di Purwokerto, Senin (21/9/2026). (Foto: Kayla Fadilla)
Purwokerto – Sudutnalar.com, Bagi Sa’bati Mela Matsania, dosen Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Purwokerto, pendidikan bukan sekadar proses mentransfer ilmu pengetahuan. Pendidikan merupakan proses membentuk manusia agar mampu mengenali potensi diri, menentukan arah hidup, serta tumbuh dengan nilai dan karakter yang baik.
Pandangan tersebut menjadi alasan Sa’bati memilih profesi sebagai pendidik. Ketertarikannya terhadap Pendidikan Agama Islam semakin kuat karena bidang tersebut dinilainya memiliki ruang yang luas untuk membentuk pengetahuan sekaligus karakter mahasiswa.
“Menjadi dosen PAI bagi saya memiliki arti dan kesempatan untuk ikut membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki integritas, kepedulian sosial, dan nilai-nilai Islam yang kuat,” ujarnya.
Perjalanan Sa’bati hingga menjadi dosen tidak berlangsung singkat. Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, ia melanjutkan studi magister pada 2022–2024. Selama menjadi mahasiswa, ia aktif dalam berbagai organisasi kampus, seperti Badan Eksekutif Mahasiswa, Hizbul Wathan, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, serta sejumlah unit kegiatan mahasiswa lainnya.
Ia pernah dipercaya menjadi Presiden BEM dan Duta Genre UMP pada 2020. Ketertarikannya terhadap organisasi telah tumbuh sejak duduk di bangku SMP hingga SMA.
Di sela-sela pendidikan magister, ia juga memperoleh pengalaman kerja di bidang penerbitan buku selama satu tahun. Setelah itu, ia bekerja selama satu tahun di SMP UMP di bidang humas dan publikasi. Pekerjaannya meliputi pembuatan konten media sosial, penulisan berita, hingga produksi siniar.
Setelah menyelesaikan studi magister pada September, ia mengikuti seleksi dosen Pendidikan Agama Islam di UMP pada Desember dan dinyatakan lolos. Hingga saat ini, ia telah menjalani profesinya sebagai dosen selama satu tahun.
Berbagai pengalaman tersebut membentuk pandangannya bahwa setiap mahasiswa memiliki latar belakang, pengalaman, dan persoalan yang berbeda. Menurutnya, pendidik perlu memahami kondisi tersebut agar dapat menyesuaikan metode pembelajaran dengan kebutuhan mahasiswa.
“Pendidikan adalah proses yang manusiawi. Sebagai pendidik, tidak cukup hanya menguasai materi, tetapi juga perlu memahami peserta didiknya,” ujarnya.
Pemahaman tersebut semakin bermakna ketika ia mendampingi seorang mahasiswa yang mengalami kesulitan dalam menyelesaikan skripsi. Ia memberikan edukasi, motivasi, dan semangat serta terus mendampingi mahasiswa tersebut hingga akhirnya berhasil menyelesaikan skripsinya.
Pengalaman itu membuatnya menyadari bahwa mahasiswa tidak dapat dilihat hanya dari pencapaian akademiknya. Di balik pencapaian tersebut, terdapat proses, perjuangan, dan persoalan yang perlu dipahami oleh seorang pendidik.
“Menyelesaikan skripsi bagi saya tidak selalu berjalan dengan mulus. Kalau kita bisa menemani prosesnya hingga berjalan lancar dan mahasiswa tersebut lulus, itu adalah hal yang sangat berkesan bagi hidup saya. Saya merasa diri saya berperan karena mahasiswa tersebut termotivasi dengan adanya dukungan,” ujarnya.
Selain melalui pendampingan, ia berusaha menghadirkan pembelajaran yang menyenangkan di dalam kelas. Saat mengajar mahasiswa semester tujuh, ia menggunakan aplikasi Quizizz untuk meninjau kembali materi pada awal perkuliahan tanpa menggunakan metode ceramah.
Metode tersebut ternyata memberikan pengalaman yang tidak hanya dirasakan selama perkuliahan. Setelah kelas selesai, beberapa mahasiswa yang sedang menjalani tugas mengajar di sekolah bertanya mengenai cara menggunakan aplikasi tersebut karena ingin menerapkannya dalam pembelajaran.
“Bahkan, lebih dari tiga orang bertanya. Dari hal itu, pembelajaran yang saya lakukan ternyata memberikan manfaat. Ternyata pembelajaran yang saya lakukan dapat menginspirasi teman-teman mahasiswa ketika praktik mengajar dan menggunakan metode yang menyenangkan,” ujarnya.
Di tengah perkembangan teknologi, ia melihat perubahan zaman sebagai salah satu tantangan bagi pendidik. Karakter mahasiswa terus berkembang, termasuk dalam penggunaan bahasa yang muncul di media sosial.
Karena itu, ia berusaha mengikuti perkembangan teknologi dan memperbarui pengetahuan agar dapat memahami dunia mahasiswa. Menurutnya, pendidik perlu mengetahui perkembangan di media sosial agar dapat menyesuaikan diri dengan perubahan zaman tanpa kehilangan substansi pembelajaran.
Dalam menjalankan profesinya, ia memegang prinsip amanah yang dimaknai sebagai bentuk tanggung jawab. Menurutnya, tanggung jawab seorang pendidik tidak hanya berkaitan dengan penyampaian ilmu, tetapi juga dengan penanaman nilai kepada mahasiswa.
Nilai tersebut meliputi tanggung jawab, kejujuran, keteladanan, toleransi, dan sikap menghargai orang lain. Ia juga berusaha melihat mahasiswa bukan hanya dari pencapaian akademiknya, tetapi juga dari proses, kebiasaan, perjuangan, dan perkembangan dirinya.
“Dari awal hingga akhir tentunya ada hal yang berbeda. Tidak mungkin dari awal kita nol, pulang tetap nol. Pasti nantinya ada peningkatan 10, 20, atau bahkan 100,” katanya.
Prinsip tersebut diterapkan melalui pembelajaran yang terbuka, inklusif, dan menghargai perbedaan. Ia menyadari bahwa mahasiswa berasal dari latar belakang yang beragam, termasuk dari luar Purwokerto dan luar negeri. Perbedaan bahasa maupun logat, menurutnya, perlu dihargai agar komunikasi dan proses pembelajaran tetap berjalan dengan baik.
Ia juga berusaha memberikan keteladanan melalui kedisiplinan. Ketika perkuliahan dijadwalkan pukul 10.20, ia berupaya hadir tepat waktu atau sebelum perkuliahan dimulai. Baginya, pendidik juga harus menunjukkan tanggung jawab terhadap tugas yang diberikan.
Nilai utama yang ingin ditanamkan kepada mahasiswa adalah integritas. Ia meyakini bahwa mahasiswa memiliki kemampuan akademik yang baik. Namun, kemampuan tersebut perlu diimbangi dengan kejujuran, tanggung jawab, akhlak mulia, dan kepedulian terhadap orang lain.
Sebagai dosen Pendidikan Agama Islam, ia berharap mahasiswa tidak hanya memiliki semangat untuk terus belajar, tetapi juga mampu menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Ia juga berkomitmen mengembangkan pembelajaran Pendidikan Agama Islam agar tetap relevan dengan perkembangan zaman. Menurutnya, pembelajaran Pendidikan Agama Islam perlu terus diperbarui, baik dari sisi metode pengajaran maupun substansi keilmuan yang disampaikan kepada mahasiswa.
“Intinya sederhana, saya sebagai dosen bisa memberikan manfaat bagi mahasiswa, UMP, dan juga masyarakat,” ujarnya.
Kepada generasi muda, ia berpesan agar mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi tanpa kehilangan nilai dan jati diri. Teknologi dapat dimanfaatkan sebagai alat pendukung pembelajaran, tetapi mahasiswa tetap perlu mempertahankan kemampuan berpikir kritis, berkomunikasi, dan berkreativitas dengan berlandaskan akhlak serta tanggung jawab.
Ia juga mengingatkan generasi muda agar tidak takut mengalami kegagalan. Menurutnya, kegagalan merupakan bagian dari proses yang dapat mengajarkan seseorang untuk terus belajar dan memperbaiki diri.
“Jangan pernah takut gagal karena jika kita tidak gagal, kita tidak tahu dari mana, bagaimana, dan kapan kita harus belajar. Intinya, jangan pernah berhenti belajar,” pesannya.
Pada akhirnya, Sa’bati Mela Matsania berharap mahasiswa dapat memahami bahwa pendidikan bukan hanya tentang memperoleh pengetahuan, tetapi juga tentang menjadi manusia yang lebih baik. Ketika suatu saat mahasiswa tidak lagi mengingat seluruh materi yang pernah diberikan, ia berharap nilai-nilai seperti tanggung jawab, kejujuran, dan kedisiplinan tetap terbawa dalam kehidupan mereka.
Ia meyakini setiap mahasiswa memiliki potensi untuk berkembang, meskipun memiliki kemampuan dan latar belakang yang berbeda. Ketika memasuki dunia profesi, ia berharap mahasiswa tetap menjadi manusia yang berilmu, berakhlak, dan bermanfaat bagi sesama.
“Bagi saya, keberhasilan seorang pendidik adalah ketika nilai yang pernah ditanamkan terus hidup dalam diri mahasiswa tersebut. Kemudian, mereka bisa meneruskannya kepada orang lain,” pungkasnya.
Penulis : Kayla Fadilla
Editor : Lelyana Dwi Maharani
