Penulis: Mishyagian Romadon| Narasumber: Bella Ratnasari | Keterangan: Human interest | Rabu, 7 Oktober 2026 | 18.00 WIB

(Foto: Dok. Pribadi)
BANYUMAS, SUDUTNALAR – Uang Rp20 ribu mungkin tidak berarti bagi sebagian orang. Namun, bagi Bela, uang jumlah tersebut menjadi awal perjuangan panjang untuk membantu keluarganya. Dengan uang tersebut, ia membeli tepung tapioka, membuat cireng, lalu menjualnya di depan sekolah dasar.Saat itu, tidak ada modal besardan tidak ada kepastian dagangannya akan habis. Bela hanya memiliki keberanian untuk mencoba dan harapan agar mendapatkan uang untuk bisa dibawa pulang.
Kini, di warung mini sederhana miliknya, berbagai makanan ringan dan kebutuhan sehari-hari tersusun memenuhi ruang dagang. Di balik warung kecil itu, Bela terus menjalankan usahanya. Barang-barang yang dijual menjadi bagian dari perjalanan panjang yang dimulai sejak 2017. Saat itu, Bela masih memiliki seorang bayi dan sedang mencari cara untuk mendapatkan penghasilan. Ia kemudian mencoba berjualan cireng dengan modal hanya Rp20 ribu.
“Awal aku jualan, modal cuma Rp20 ribu. Saya akalin beli tepung tapioka lalu dibuat adonan cireng. Saya jual di depan SD. Alhamdulillah laku, dapat Rp60 ribu. Dari keuntungan itu saya sisakan untuk membuat warung di rumah,” ujar Bela.
Hasil penjualan pertama membuat Bela semakin yakin untuk melanjutkan usahanya. Uang yang diperoleh tidak langsung digunakan untuk keperluan lain. Sebagian uang tersebut kembali diputar sebagai modal. Sedikit demi sedikit, Bela berusaha mempertahankan usahanya.
Namun, penghasilan dari berjualan tidak selalu sama setiap harinya. Ketika warung ramai, pendapatan Bela dapat mencapai sekitar Rp100 ribu. Pada hari yang sepi, penghasilannya hanya sekitar Rp50 ribu. Perbedaan pendapatan tersebut membuat Bela harus mengatur uang dengan hati-hati agar modal usaha tetap tersedia dan kebutuhan keluarga tetap terpenuhi.
Keadaan keluarga Bela juga sempat keberatan ketika suaminya kehilangan pekerjaan setelah dipecat. Suaminya kemudian menganggur. Dalam keadaan tersebut, Bela semakin terdorong untuk mempertahankan usaha yang telah dijalankannya. Penghasilan dari warung menjadi salah satu cara untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari.
Kesulitan kembali datang ketika modal dagangannya habis. Bela kemudian mengambil tabungan sebesar Rp300 ribu. Uang yang selama ini disimpan tersebut digunakan untuk membeli bahan dan kembali membuat cireng. Ia berharap dagangan tersebut dapat terjual sehingga modalnya dapat kembali berputar.
Namun, harapan tersebut tidak sesuai dengan kenyataan. Cireng yang dibuat Bela tidak banyak terjual. Dagangan masih tersisa hingga akhirnya tidak terjual habis.
“Waktu itu saya kehabisan modal, tapi saya punya tabungan. Akhirnya saya ambil tabungan Rp300 ribu buat modal dan belanja bahan cireng. Saya bikin dengan percaya diri, berharap laku, tapi ternyata tetap sepi. Akhirnya cirengnya kebuang semua,” kata Bela.
Bagi Bela, kehilangan Rp300 ribu bukan perkara kecil. Uang tersebut berasal dari tabungan yang dikumpulkan untuk kebutuhan keluarga. Modal yang seharusnya kembali berputar justru hilang karena cireng yang tidak laku terjual. Meski mengalami kerugian, Bela tidak berhenti berjualan. Ia kembali mengumpulkan modal sedikit demi sedikit. Ada alasan yang membuat Bela tetap bertahan meskipun beberapa kali menghadapi keadaan sulit. Ketika ditanya alasan yang membuatnya terus berjualan, jawabannya singkat.
“Karena semangat anak-anak,” ujar Bela.
Bagi Bela, anak-anak menjadi salah satu alasan untuk terus berusaha. Di tengah keadaan ekonomi keluarga yang tidak selalu stabil, ia tetap membuka warung dan menjalankan usahanya. Keuntungan yang diperoleh kembali diputar untuk mempertahankan usaha. Tahun demi tahun berlalu. Usaha yang dulu dimulai dari Rp20 ribu perlahan berkembang menjadi warung mini di rumah.
“Dari modal itu saya kumpulkan bertahun-tahun sampai akhirnya saya mempunyai warung mini,” ujar Bela.
Perjuangan tersebut juga membawa perubahan bagi keluarganya. Dulu, Bela dan keluarganya belum memiliki rumah sendiri. Kini, mereka sudah memiliki rumah meskipun sederhana. Warung kecil yang berdiri di depan rumahnya menjadi bagian dari hasil usaha yang dikumpulkan Bela selama bertahun-tahun.
Perjalanan Bela bukan tentang modal besar atau keuntungan yang datang dalam waktu singkat. Semuanya bermula dari modal Rp20 ribu, tepung tapioka, adonan cireng, dan keberanian untuk mencoba. Ia pernah kehilangan modal Rp300 ribu karena dagangan tidak terjual dan sempat mengalami keadaan sulit ketika suaminya kehilangan pekerjaan dan sempat menganggur.
Penulis : Mishyagian Romadhon
Editor : Aurelia Dwi Salsabila
