Skip to content
sudutnalar.com
Menu
  • Beranda
  • Tentang
  • Bahasa
  • Wisata
  • Tips
  • Budaya
  • Teknologi
  • Sosial
  • Politik
  • Sastra
  • Kuliner
  • Hiburan
  • Profile
  • Pendidikan
  • Feature
  • Ekonomi
  • Hukum
Menu

Bukan Cita-Cita Sejak Kecil, Lily Kusumasita Burkon Menemukan Makna Menjadi Dokter dari Pasien

Posted on September 23, 2026September 23, 2026 by Erdi Aqil Fauzan

Sudutnalar.com, Sabtu, 19 September 2026, 15.30 WIB

Lily Kusumasita Burkon, sosok wanita karier yang berprofesi sebagai dokter (Foto: Dok. Pribadi Lily Kusumawati Burkon)

Purwokerto – Sudutnalar.com, Menjadi dokter bukanlah cita-cita Lily. Sejak kecil, Lily justru tertarik dengan pekerjaan di bank karena senang saat membayangkan dirinya menghitung banyak uang. Namun, perjalanan hidup membawanya ke dunia kesehatan dan pendidikan. Selama 15 tahun, Lily tetap memilih mengabdi sebagai dokter sekaligus dosen.

Pilihan Lily dalam menekuni dunia kesehatan tidak datang begitu saja. Ketertarikannya mulai tumbuh dari lingkungan keluarga. Ibunya bekerja sebagai Laboran dan ayahnya bekerja di bidang K3 membuat dunia kesehatan menjadi sesuatu yang dekat dengannya.

Perjalanan menjadi dokter tentu tidak mudah. Lily menjalani pendidikan selama bertahun-tahun dengan berbagai tuntutan, mulai dari materi perkuliahan hingga tugas yang harus diselesaikan. Tidak hanya membutuhkkan kesiapan dalam belajar, tetapi juga siap secara mental, pikiran, dan fisik. Namun, Lily tetap memilih untuk tidak menyerah hingga akhirnya berhasil menyelesaikan pendidikannya. 

Kini, Lily telah menjalani praktik sebagai dokter di Klinik Soedirman dan Klinik Amanda. Di samping kesibukannya sebagai dokter, Lily juga mengajar di Universitas Jenderal Soedirman.

“Saya menjalani dua-duanya, praktik sebagai dokter dan mengajar. Memang tidak mudah membagi waktunya, tetapi sejauh ini saya masih bisa menjalani keduanya.” ujar Lily

Selama menjalani profesinya sebagai dokter, Lily menemukan banyak makna dari setiap pasien. Baginya, pasien bukan hanya seseorang yang datang untuk mendapatkan pengobatan, tetapi juga sumber inspirasi dan pelajaran hidup.

“Pasien itu pusat inspirasi.” ujarnya.

Lily mengaku sering mendapat inspirasi dari berbagai kondisi pasien. Melihat perjuangan para pasien membuat Lily menyadari bahwa persoalan yang selama ini membuatnya sedih ternyata tidak seberapa dibandingkan dengan yang dihadapi orang lain. Hal ini membuatnya semakin memahami arti kehidupan.

Salah satu pengalaman paling membekas baginya ketika melihat orang tua yang sedang sakit tetapi ditelantarkan. Dari situ, Lily menyadari bahwa sakit menjadi titik lemah seseorang sekaligus memperlihatkan seberapa besar kasih sayang sebuah keluarga.

Menurutnya, ketika anak sakit, orang tua pasti rela berkorban apa saja agar anaknya sembuh. Namun, ketika orang tua yang sakit, belum tentu seorang anak memiliki kesiapan yang sama untuk berkorban. Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa seorang anak juga memiliki tanggung jawab untuk merawat orang tuanya.

Lily selalu memperlakukan pasien seperti keluarganya sendiri dan tetap memahami batas profesional dalam menangani keluarga. Menurutnya, rasa nyaman dan kecocokan antara dokter dengan pasien menjadi hal penting dalam menjalankan pekerjaannya. 

Untuk tindakan tertentu, seperti operasi, seorang dokter tidak dianjurkan menangani anggota keluarganya sendiri. Namun, untuk perawatan tertentu, seperti membantu membersihkan luka pascaoperasi, hal tersebut dapat dilakukan sesuai kondisi.

Bagi Lily, sakit tidak selalu terlihat dari kondisi fisik. Seseorang bisa saja terlihat sehat secara fisik, tetapi sebenarnya sedang mengalami sakit secara mental. Karena itu, setiap pasien perlu dipahami bukan hanya dari penyakit yang terlihat, tetapi juga dari kondisi dan cerita yang mereka bawa sehingga Lily harus memikirkan diagnosis, obat, serta cara penanganan yang sesuai karena setiap pasien memiliki kebutuhan yang berbeda.

Di tengah berbagai tantangan profesinya, Lily memiliki cara sendiri dalam menghadapi tekanan. Ketika merasa stres karena pekerjaan, Lily memilih keluar sejenak dan beristirahat agar emosinya tidak berdampak kepada orang lain.

Lily memandang persoalan senioritas dalam dunia kedokteran dari sisi yang berbeda. Menurutnya, seseorang tidak seharusnya langsung menganggap teguran dari senior sebagai sesuatu yang merendahkan. Teguran tersebut bisa menjadi arahan agar seseorang mengetahui apa yang harus dilakukan.

“Justru tanpa senioritas kita tidak bisa belajar banyak hal dari pengalaman yang sudah mereka lalui.” tuturnya.

Mungkin cita-cita masa kecilnya menghitung uang di bank tidak terwujud. Akan tetapi, dari perjalanan yang awalnya tidak ia rencanakan, Lily menemukan makna lebih jauh tentang profesinya sebagai dokter, ia tidak hanya diberi kesempatan untuk membantu orang lain, tetapi juga belajar memahami bahwa di balik tubuh yang sakit, ada kekhawatiran yang dirasakan pasien, keluarga yang berharap, dan manusia yang hanya ingin kembali pulang dalam keadaan sehat. Pada akhirnya, setiap pasien yang ditemui akan menjadi bagian dari perjalanan yang mengajarkannya tentang kehidupan.

Penulis – Elisyia Putri Himawan

Editor – Ilma Lutfi Anasari

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

Berita Terbaru

  • Dulu Semalam Suntuk, Kini Sekadar Pembuka Acara: Cerita Lengger dari Rumah Lengger Banyumas
    By bagus aji
    Oktober 9, 2026
    Lukisan penari lengger dan seperangkat calung di sudut […]
  • Gemblong Ocar-Acir di Tengah Perubahan Selera Generasi Muda
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Penulis: Erdi Aqil Fauzan | Keterangan: Feature, […]
  • Ketika Krama Inggil Perlahan Kehilangan Suara di Patikraja
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Oleh: Farah Nasywa Nurrahma | Narasumber: Mareta & […]

Pendidikan

  • SMA Muhammadiyah Sokaraja Benahi Manajemen untuk Pulihkan Kepercayaan Masyarakat
    By shafrifa aulia
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Keterbatasan Perpustakaan Tak Padamkan Semangat Membaca, Pojok Literasi Jadi Solusi bagi Murid UPTD SDN 3 Kedungdawa
    By calista aneen
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Kopi dan Laptop: Cerita Mahasiswa Unsoed Menghadapi Tenggat Tugas Tengah Semester
    By athaya qila
    Pendidikan
    September 29, 2026

Bahasa

  • Mengenal Dunia Inklusif Melalui Kelas Bahasa Isyarat Himpunan Mahasiswa KIP-K Unsoed
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Terbaru
    September 21, 2026
  • Usung Tema “Citta Karya”, Seminar Kepenulisan 2026 Hadirkan Luluk HF, Penulis “Mariposa”
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Berlangsung 14–16 September
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Hiburan, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Dibuka, Wabup Dorong Budaya Baca Masyarakat
    By akt 24
    Bahasa Bahasa, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Hadirkan Beragam Stan Literasi
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan
    September 21, 2026

Kuliner

  • Segelas Dawet Ayu, Rezeki yang Tak Tertukar
    By Hanunah Mumtaz
    Feature, Kuliner, Sosial
    Oktober 8, 2026
  • Makaroni Tasik Mang Dadang, Kuliner Pedas Hits di Purwokerto
    By Hanunah Mumtaz
    Kuliner
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Wisata

  • Riak Sang Penyu, Potret Kehidupan di Kawasan Konservasi
    By kelasB
    Pendidikan, Wisata
    September 21, 2026
  • Sabtu Malam, Kawasan Malioboro Dipenuhi Wisatawan
    By akt 24
    Wisata
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Sudut Nalar

Media pemberitaan mahasiswa
Hasil praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman

Tautan

Tentang Kami
Susunan Redaksi
Pedoman Media Siber
Kirim Tulisan
Arsip Berita.

Tentang

Diterbitkan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman, sebagai bagian dari praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Dosen Pengampu : Dr. Memet Sudaryanto, M.Pd.

©2026 sudutnalar.com | Design: Newspaperly WordPress Theme