Skip to content
sudutnalar.com
Menu
  • Beranda
  • Tentang
  • Bahasa
  • Wisata
  • Tips
  • Budaya
  • Teknologi
  • Sosial
  • Politik
  • Sastra
  • Kuliner
  • Hiburan
  • Profile
  • Pendidikan
  • Feature
  • Ekonomi
  • Hukum
Menu

Bertahan Hidup dengan Penghasilan Rp20–40 Ribu per Hari: Kisah Pak Bambang, Badut Upin di SPBU Pabuaran

Posted on Oktober 8, 2026Oktober 8, 2026 by calista aneen

sudutnalar.com, 8 Oktober 2026

Oleh : Salwa Ghaisani

(Badut Upin bekerja di pinggir jalan kawasan SPBU Pabuaran, Purwokerto. (dok: Salwa Ghaisani))

PURWOKERTO, SUDUTNALAR – Kostum Upin yang sudah lusuh melekat di tubuh Pak Bambang. Sejak pagi hingga malam, pria berusia 45 tahun itu menjalani pekerjaannya sebagai badut di sekitar SPBU Pabuaran, Purwokerto. Di balik kostum yang digunakan untuk menghibur orang-orang, ada seorang suami dan ayah yang berusaha memenuhi kebutuhan keluarganya dengan penghasilan Rp20 ribu hingga Rp40 ribu sehari.

Sudah dua tahun Pak Bambang menjalani pekerjaan tersebut. Setiap hari, ia mengenakan kostum Upin dan bekerja dari pagi hingga malam. Penghasilan yang diperoleh tidak selalu banyak. Namun, uang yang didapat tetap ia usahakan agar cukup untuk kebutuhan sehari-hari.

β€œDicukup-cukupin, alhamdulillah,” ujar Pak Bambang.

Pak Bambang memiliki seorang istri dan dua anak. Sebagai kepala keluarga, penghasilan yang diperolehnya menjadi bagian dari usaha untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Dengan pendapatan yang terbatas, ia tetap memilih untuk bekerja dan menjalani pekerjaan yang ada.

Menjadi badut bukanlah pekerjaan yang sejak awal dijalani Pak Bambang. Sebelumnya, ia bekerja sebagai kuli bangunan. Ia juga pernah merantau ke Sumatera dan Kalimantan untuk mencari pekerjaan dan proyek. Namun, pekerjaan sebagai kuli bangunan tidak selalu tersedia.

Ketika proyek tidak ada, mencari pekerjaan menjadi semakin sulit. Keadaan tersebut membuat Pak Bambang harus mencari cara lain agar tetap memiliki penghasilan. Dari situlah ia kemudian memilih menjadi badut. Pekerjaan tersebut sudah dijalaninya selama dua tahun hingga sekarang.

Bagi Pak Bambang, pekerjaan tidak harus selalu sesuai dengan apa yang pernah dikerjakan sebelumnya. Selama masih bisa dilakukan dan menghasilkan uang untuk kebutuhan keluarga, pekerjaan tersebut tetap ia jalani. Menjadi badut akhirnya menjadi salah satu cara yang dipilihnya untuk bertahan di tengah sulitnya mencari pekerjaan.

Penghasilan Rp20 ribu hingga Rp40 ribu sehari harus ia cukupkan untuk menjalani kehidupan bersama keluarganya. Jumlah tersebut memang tidak besar. Namun, bagi Pak Bambang, penghasilan itu tetap disyukuri karena berasal dari usaha yang dilakukannya sendiri.

Bagi Pak Bambang, ujian adalah kehidupan itu sendiri. Setiap hari memiliki tantangan yang harus dijalani, terutama dalam memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Sulitnya mencari pekerjaan dan penghasilan yang terbatas menjadi bagian dari kehidupan yang harus ia hadapi.

Meski demikian, Pak Bambang tidak banyak mengeluhkan keadaan. Ia memilih untuk terus bekerja dan menjalani apa yang ada. Pak Bambang berpesan kepada dirinya sendiri untuk selalu bersyukur atas apa yang dimiliki dan tetap patuh kepada Tuhan. Menurutnya, apa pun keadaan yang sedang dijalani merupakan bagian dari kehidupan yang harus diterima dan disyukuri. Selama masih diberi kesempatan untuk bekerja dan memenuhi kebutuhan keluarganya, ia memilih untuk menjalaninya dengan ikhlas.

Ketika ditanya mengenai harapannya ke depan, Pak Bambang tidak banyak menyebutkan keinginan. Ia memilih untuk menjalani kehidupan yang ada dan mengikuti takdir Tuhan. “Jalanin aja dulu, Mbak,” katanya.

Jawaban singkat tersebut menjadi gambaran bagaimana Pak Bambang menjalani kehidupannya. Ia tidak terlalu memikirkan pekerjaan apa yang akan dijalaninya nanti. Untuk saat ini, ia memilih tetap bekerja dengan apa yang dimilikinya.

Dari pagi hingga malam, kostum Upin yang sudah lusuh kembali menjadi pakaian kerjanya. Bagi orang yang melihatnya, kostum tersebut mungkin hanya tampak sebagai pakaian seorang badut. Namun, bagi Pak Bambang, kostum itu menjadi bagian dari pekerjaannya untuk mendapatkan penghasilan.

Di balik kostum tersebut, ada seorang ayah yang sedang berusaha memenuhi kebutuhan istri dan kedua anaknya. Setelah sebelumnya bekerja sebagai kuli bangunan dan merantau untuk mencari proyek, kini ia menjalani pekerjaan sebagai badut karena sulitnya mendapatkan pekerjaan.

Rp20 ribu hingga Rp40 ribu yang diperoleh setiap hari menjadi penghasilan yang harus dicukupkan. Pak Bambang mungkin tidak tahu pekerjaan apa yang akan dijalaninya di masa depan. Namun, selama masih bisa bekerja, ia memilih untuk terus berjalan.

Di SPBU Pabuaran, kostum Upin itu kembali dikenakan. Bukan sekadar untuk menghibur orang-orang, tetapi juga menjadi bagian dari perjuangan Pak Bambang dalam memenuhi kebutuhan keluarganya. Baginya, kehidupan adalah ujian yang harus dijalani dengan terus berusaha, bersyukur, dan tetap patuh kepada Tuhan.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

Berita Terbaru

  • Dulu Semalam Suntuk, Kini Sekadar Pembuka Acara: Cerita Lengger dari Rumah Lengger Banyumas
    By bagus aji
    Oktober 9, 2026
    Lukisan penari lengger dan seperangkat calung di sudut […]
  • Gemblong Ocar-Acir di Tengah Perubahan Selera Generasi Muda
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Penulis: Erdi Aqil Fauzan | Keterangan: Feature, […]
  • Ketika Krama Inggil Perlahan Kehilangan Suara di Patikraja
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Oleh: Farah Nasywa Nurrahma | Narasumber: Mareta & […]

Pendidikan

  • SMA Muhammadiyah Sokaraja Benahi Manajemen untuk Pulihkan Kepercayaan Masyarakat
    By shafrifa aulia
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Keterbatasan Perpustakaan Tak Padamkan Semangat Membaca, Pojok Literasi Jadi Solusi bagi Murid UPTD SDN 3 Kedungdawa
    By calista aneen
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Kopi dan Laptop: Cerita Mahasiswa Unsoed Menghadapi Tenggat Tugas Tengah Semester
    By athaya qila
    Pendidikan
    September 29, 2026

Bahasa

  • Mengenal Dunia Inklusif Melalui Kelas Bahasa Isyarat Himpunan Mahasiswa KIP-K Unsoed
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Terbaru
    September 21, 2026
  • Usung Tema “Citta Karya”, Seminar Kepenulisan 2026 Hadirkan Luluk HF, Penulis “Mariposa”
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Berlangsung 14–16 September
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Hiburan, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Dibuka, Wabup Dorong Budaya Baca Masyarakat
    By akt 24
    Bahasa Bahasa, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Hadirkan Beragam Stan Literasi
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan
    September 21, 2026

Kuliner

  • Segelas Dawet Ayu, Rezeki yang Tak Tertukar
    By Hanunah Mumtaz
    Feature, Kuliner, Sosial
    Oktober 8, 2026
  • Makaroni Tasik Mang Dadang, Kuliner Pedas Hits di Purwokerto
    By Hanunah Mumtaz
    Kuliner
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Wisata

  • Riak Sang Penyu, Potret Kehidupan di Kawasan Konservasi
    By kelasB
    Pendidikan, Wisata
    September 21, 2026
  • Sabtu Malam, Kawasan Malioboro Dipenuhi Wisatawan
    By akt 24
    Wisata
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Sudut Nalar

Media pemberitaan mahasiswa
Hasil praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman

Tautan

Tentang Kami
Susunan Redaksi
Pedoman Media Siber
Kirim Tulisan
Arsip Berita.

Tentang

Diterbitkan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman, sebagai bagian dari praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Dosen Pengampu : Dr. Memet Sudaryanto, M.Pd.

©2026 sudutnalar.com | Design: Newspaperly WordPress Theme