Oleh Ilma Lutfi Anasari
Sudutnalar.com, Selasa, 6 Oktober 2026, 10.55 WIB

Kantin sekolah yang menjadi sumber penghasilan keluarga (Foto: Dok Ilma Lutfi Anasari)
DEMAK,SUDUTNALAR – Pagi itu, Badriyah mulai menata dagangannya di kantin sekolah. Makanan dan minuman ditata rapi, satu per satu siswa pun datang membeli. Aktivitas itu masih dijalani Badriyah meski kini kantinnya tidak seramai dulu.
Penerapan Adiwiyata dan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) turut memengaruhi penjualan. Namun, keadaan itu tidak membuat Badriyah menyerah untuk berjualan. Kantin tetap menjadi bagian dari kesehariannya.
Jauh sebelum berjualan di kantin sekolah, Badriyah telah terbiasa bekerja. Ia hanya menempuh pendidikan hingga sekolah dasar. Saat remaja, ia bekerja sebagai buruh di pabrik penyedap makanan di Semarang. Keinginannya untuk melanjutkan pendidikan tidak berhenti. Sambil bekerja dan membantu merawat adik-adiknya, ia mengikuti program Paket untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP.
Ketika dewasa, rencana pernikahan yang pernah dijalaninya gagal. Pada masa itu, usia 25 tahun sudah dianggap terlambat untuk menikah. Hingga akhirnya, Badriyah bertemu dengan laki-laki yang kemudian menjadi suaminya.
Suaminya bukan pegawai negeri dan tidak memiliki banyak harta. Kedua orang tuanya juga telah meninggal dunia. Badriyah menerima pernikahan tersebut setelah mempertimbangkan keadaan calon suaminya. Ia merasa kasihan terhadap kondisi yang dihadapi calon suaminya saat itu. Keduanya kemudian menjalani rumah tangga dengan bekerja dan mengumpulkan aset sedikit demi sedikit.
Tanah, sawah, emas, dan tabungan atas nama anak di bank menjadi sebagian aset yang berhasil mereka miliki. Mereka juga mendaftarkan diri untuk menunaikan ibadah haji. Aset tersebut disiapkan sebagai cadangan untuk kebutuhan anak-anak dan keadaan yang tidak terduga.
Dari sisi K sebagai anak pertama, perjalanan keluarganya membawa pengalaman tersendiri. Sejak kecil, K telah menempuh pendidikan di salah satu pesantren favorit hingga jenjang SMK. Setelah menyelesaikan pendidikan tersebut, K melanjutkan kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta di Semarang. Namun, sekitar dua tahun sebelum ayahnya meninggal, K memilih mengambil cuti kuliah karena mulai kehilangan motivasi untuk melanjutkan perkuliahan.
Saat itu, kehidupan keluarga masih berjalan dengan aktivitas masing-masing. Badriyah tetap bekerja, sementara K menjalani masa cuti kuliahnya. Hingga kemudian, kondisi keluarga berubah ketika ayah K mengalami sakit hingga satu bulan di rumah.
Ketika kondisinya memburuk, akhirnya ayahnya dibawa ke rumah sakit. Namun, setibanya di rumah sakit, ayah K sudah dinyatakan meninggal dunia. Peristiwa tersebut menjadi titik perubahan bagi kehidupan keluarga Badriyah.
Adik K yang masih bersekolah pulang ke rumah setelah mendapat kabar tentang kondisi ayahnya. Setibanya di rumah, ia belum melihat ambulans yang membawa ayahnya maupun kedatangan Badriyah dan K. Tidak lama kemudian, ambulans tiba di rumah membawa jenazah ayahnya. Suasana rumah mulai dipenuhi keluarga dan warga yang datang untuk membantu mempersiapkan pemakaman. K dan adiknya pun ikut terlibat dalam proses pemakaman, termasuk memandikan jenazah ayahnya.
Sebelum dimakamkan, K dan adiknya mencium kening ayahnya untuk terakhir kali. Momen tersebut menjadi perpisahan terakhir yang masih melekat dalam ingatannya.
Bagi K, suasana setelah kepergian ayahnya menjadi bagian yang sulit dilupakan. Ia melihat ibu dan adiknya menangis setelah kehilangan sosok yang selama ini menjadi bagian penting dalam keluarga. Di tengah keadaan tersebut, K mengaku sempat merasa kehilangan arah.
“Kacau. Sangat kacau. Seakan-akan kesialan datang bertubi-tubi,” ujar K ketika mengingat kondisi keluarganya.
Tujuh hari setelah ayahnya meninggal, K mendapat kabar dari ibunya bahwa pihak sekolah meminta untuk melanjutkan pekerjaan ayahnya agar Badriyah tetap dapat berjualan di sana. K kemudian memutuskan untuk meneruskan pekerjaan tersebut. Setelah itu, K kembali melanjutkan kuliah yang sempat terhenti. Keputusan tersebut didorong oleh tuntutan ibunya sekaligus keinginan untuk membantu keluarga. Selain kuliah, K tetap bekerja untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga dan biaya pendidikan adiknya.
“Kasihan melihat Ibu harus menjalani semuanya sendiri. Saya juga berpikir kalau saya ikut bekerja, setidaknya bisa membantu melanjutkan kebutuhan keluarga dan biaya adik,” ujar K.
“Sedih juga. Sebelumnya kebutuhan keluarga masih sangat terpenuhi, kalau ada keinginan masih bisa diusahakan. Setelah Ayah tidak ada, semuanya tiba-tiba berubah dan kami harus belajar menjalani kehidupan dengan keadaan yang berbeda,” lanjutnya.
Perubahan kehidupan keluarga juga dirasakan Badriyah setelah kehilangan suaminya. Ia harus melanjutkan kehidupan sekaligus memenuhi kebutuhan anak-anaknya seorang diri. Hampir tiga tahun setelah kepergian suaminya, adik K menyelesaikan pendidikan menengah dan melanjutkan kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri. Di tengah perannya sebagai ibu tunggal, Badriyah tetap berusaha memenuhi kebutuhan pendidikan anak-anaknya.
Dari pengalaman rumah tangganya, ia juga berpesan agar anaknya tidak memilih pasangan hanya berdasarkan cinta. Menurutnya, kepedulian terhadap pasangan juga menjadi hal penting dalam membangun rumah tangga. Orang yang peduli akan mempertimbangkan keadaan dan perasaan pasangannya sebelum melakukan sesuatu yang dapat menyakiti.
“Jangan hanya karena cinta. Kalau orang itu peduli, dia akan memikirkan keadaan dan perasaan pasangannya sebelum melakukan sesuatu,” ujar Badriyah.
Pagi kembali berganti di kantin sekolah. Badriyah masih menata dagangannya dan melayani siswa yang datang membeli. Penjualan memang tidak lagi seramai dahulu, tetapi ia tetap menjalani pekerjaan yang telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.
Dari bekerja sejak remaja, membangun keluarga, mendampingi anak-anak menempuh pendidikan, hingga kehilangan suami, Badriyah telah melalui perjalanan panjang yang berliku-liku. Namun, di tengah berbagai kehilangan dan keterbatasan, ia tetap memilih untuk melangkah. Baginya, hidup bukan sekadar tentang bertahan, tetapi tentang memastikan keluarganya tetap memiliki alasan untuk terus berjalan.
Penulis : Ilma Lutfi Anasari
Editor: Elisyia Putri Himawan
