Sudutnalar.com, Sabtu, 12 September 2026, 21.27 WIB

Pertunjukan Calung Funk di kawasan Malioboro, Yogyakarta (Foto: Dok. Ilma Lutfi Anasari)
YOGYAKARTA, sudutnalar.com – Di tengah keramaian Malioboro, alunan musik dan gerak penari dari Calung Funk berhasil mencuri perhatian pengunjung. Kelompok musik jalanan asal Yogyakarta yang telah tampil sejak 2008 menghadirkan pertunjukan yang memadukan musik dan tari, membuat sejumlah pengunjung menghentikan langkah untuk menyaksikannya.
Johny, selaku ketua Calung Funk mengatakan Malioboro bukan sekadar tempat untuk tampil. Pengunjung dapat mengenal budaya sekaligus memperoleh informasi mengenai berbagai program yang ada di kawasan Malioboro. Kawasan tersebut dipilih karena menjadi salah satu destinasi wisata yang ramai dikunjungi wisatawan dalam negeri maupun luar negeri. Lokasinya yang dekat dengan tempat tinggal para pemain juga menjadi alasan mereka bertahan di kawasan itu.
“Pertama, Malioboro itu destinasi wisata, banyak wisatawan dalam negeri maupun luar negeri. Tempatnya juga dekat dengan tempat tinggal,” ujar Johny.
Selama bertahun-tahun tampil di ruang terbuka, Calung Funk tidak hanya mengandalkan permainan musik. Kelompok tersebut mengembangkan konsep dengan memadukan angklung, perkusi, dan sejumlah alat musik lain dengan tari tradisional dalam satu penampilan yang dapat dinikmati langsung oleh pengunjung. Perpaduan tersebut menjadi ciri khas dan kreativitas yang membedakan penampilan mereka dari hiburan lainnya.
“Daya tariknya, kita buat suatu konsep pertunjukan yang tidak ada di tempat lain dengan mengkolaborasikan tari tradisional dengan alat musik angklung, perkusi, dan lain-lain,” ujar Johny.

Penampilan Calung Funk yang memadukan permainan musik dan tari di kawasan Malioboro (Foto: Dok. Ilma Lutfi Anasari)
Salah satu hal yang turut menjadi keunikan kelompok Calung Funk adalah alat musik yang digunakan. Johny mengatakan angklung yang dimainkan merupakan hasil kerajinan tangan dari kelompoknya. Keunikan pertunjukan tersebut juga dirasakan oleh Karina, pengunjung asal Jakarta. Karina tertarik menyaksikan permainan angklung yang dipadukan dengan tarian, sebuah pertunjukan yang menurutnya jarang ditemui di Jakarta.
“Seru, di Jakarta hampir nggak ada pertunjukan seperti ini,” ujar Karina.
Pandangan serupa disampaikan Farel, pengunjung asal Semarang. Farel melihat angklung sebagai salah satu daya tarik karena alat musik tersebut semakin jarang ditemui. Ketertarikan Farel tidak berhenti pada keberadaan angklung. Farel mengaku kagum melihat banyaknya susunan nada atau kunci yang harus diingat oleh para pemain, tetapi mereka tetap mampu memainkannya dengan baik.
“Yang membuat tertarik itu karena angklung sudah jarang ditemui,” ujar Farel.
“Yang paling berkesan itu permainan angklung. Banyak banget permainan atau kuncinya, tetapi mereka dapat memainkannya sangat baik,” tambahnya.
Jhony teringat pada antusiasme penonton yang tetap bertahan di lokasi meski pertunjukan memasuki waktu istirahat. Bahkan, beberapa pengunjung dari luar daerah sengaja menunggu pertunjukan berikutnya. Bagi Johny, respons penonton menjadi salah satu alasan Calung Funk untuk terus menjalankan pertunjukannya.
Selama hampir dua dekade tampil di Malioboro, Calung Funk juga menghadapi berbagai tantangan. Tampil di ruang terbuka, cuaca menjadi salah satu kendala yang harus dihadapi. Tantangan lain datang dari permintaan penonton dan keramaian yang dimanfaatkan oleh oknum tidak bertanggung jawab. Johny mengatakan pemain harus menghadapi permintaan lagu yang belum pernah mereka tampilkan sebelumnya. Situasi tersebut menuntut pemain untuk mampu menyesuaikan diri dengan permintaan yang muncul secara spontan selama pertunjukan. Meski demikian, persiapan khusus sebelum tampil kini tidak lagi menjadi keharusan bagi Calung Funk karena jam terbang para pemain sudah tinggi.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, Johny berharap Calung Funk tetap mampu bertahan dan terus berkembang. Johny ingin menghadirkan inovasi baru agar penampilan mereka tetap menarik bagi pengunjung. Harapan tersebut sejalan dengan pengalaman pengunjung.
Tampil di ruang terbuka membuat Calung Funk memiliki cara sendiri untuk mempertahankan perhatian penonton. Dari alat musik yang dibuat sendiri, perpaduan dengan tari tradisional yang menjadi hiburan dan meninggalkan kesan bagi penontonnya, hingga kemampuan pemain merespons situasi di lapangan. Sehingga kelompok ini memiliki keunikan di tengah riuh Malioboro.
Penulis – Ilma Lutfi Anasari
Editor – Elisyia Putri Himawan
