Skip to content
sudutnalar.com
Menu
  • Beranda
  • Tentang
  • Bahasa
  • Wisata
  • Tips
  • Budaya
  • Teknologi
  • Sosial
  • Politik
  • Sastra
  • Kuliner
  • Hiburan
  • Profile
  • Pendidikan
  • Feature
  • Ekonomi
  • Hukum
Menu

Menyusuri Jalan ke Jalan Memikul Kerupuk Cantir, Riyanto Menjemput Rezeki Tanpa Lelah

Posted on Oktober 8, 2026Oktober 8, 2026 by Erdi Aqil Fauzan

Penulis: Revaliana Arianti | Narasumber: Riyanto | Keterangan: Feature News | Rabu, 7 Oktober 2026 | 20.26 WIB

Riyanto Penjual Kerupuk Cantir (Dok. Revaliana Arianti)

BANYUMAS, SUDUTNALAR — Sejauh mana seseorang harus melangkah untuk menjemput rezeki? Bagi Riyanto, menyusuri sudut-sudut Purwokerto di bawah terik matahari hingga dinginnya angin malam telah menjadi bagian yang disyukuri tiap harinya. Di tengah riuk pikuk lalu lintas kota yang tak pernah tidur, langkah kakinya tetap berayun perlahan, membawa harapan yang digantungkan pada dua keranjang dengan penuh semangat.

Riyanto, 47 tahun, merupakan warga Karanglewas, Banyumas yang berjualan kerupuk cantir secara berkeliling. Ia mulai berjualan sekitar pukul 09.00 Pagi dengan membawa kerupuk dari pemasok di Cilongok. Tidak memiliki tempat berjualan tetap, Riyanto menyusuri sejumlah kawasan untuk mencari pembeli.

“Kerupuk ini saya ambil dari pemasok khas Cilongok, kemudian saya jual Kembali.” ujar Riyanto, Rabu(7/10/2026).

Kerupuk cantir tersebut dibeli dengan harga Rp6.000 per bungkus dan dijual kembali seharga Rp12.000. Keuntungan yang diperoleh digunakan untuk memutar kembali modal agar ia dapat mengambil dagangan berikutnya. Menurut Riyanto, hasil penjualan tidak selalu sama setiap harinya.

“Kerupuk ini saya ambil dari pemasok asli Cilongok, kemudian saya jual kembali. Dengan begitu, modal yang saya dapatkan bisa digunakan untuk mengambil kerupuk dan dijual lagi,” ujar Riyanto.

Pilihan menjual kerupuk dalam keadaan mentah muncul dari pengalaman sebelumnya. Riyanto pernah menjual kerupuk yang sudah matang, tetapi sejumlah pembeli justru meminta kerupuk mentah agar dapat menggorengnya sendiri di rumah.

“Saya pernah menjual yang matang, tetapi banyak pembeli yang meminta yang mentah agar dapat digoreng sendiri dan dinikmati dalam keadaan hangat,” ujarnya.

Untuk mendapatkan pembeli, Riyanto berkeliling melalui sejumlah wilayah. Ia biasa melewati underpass jalan baru, menuju Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), kemudian ke arah Mersi hingga kawasan Pasar Wage bagian timur. Dagangan tersebut dibawa di pundaknya sepanjang perjalanan.

“Saya terkadang berjualan di sekitar underpass. Dari sana saya berjalan menuju UMP, kemudian ke arah Mersi hingga Pasar Wage bagian timur,” ujar Riyanto.

Perjalanan berjualan tidak selalu berakhir pada hari yang sama. Ketika kerupuk tak habis terjual, Riyanto memilih tidak kembali ke kediamannya, ia justru akan kembali ke rumah sekitar dua hari kemudian. Selama tidak pulang,  ia menggunakan masjid sebagai tempat untuk beristirahat atau tidur.

“Kalau kerupuk mentah belum habis terjual, terkadang saya baru pulang dua hari sekali. Saya lebih memilih untuk beristirahat atau tidur di masjid,” katanya.

Di umur yang masih sangat produktif, Riyanto hanya tinggal bersama istrinya saja. Ia mengatakan kondisi istrinya sehat. Meskipun belum dikaruniai seorang anak hingga saat ini, ia tetap semangat menjalani aktivitas berjualan demi memenuhi kebutuhan hidup dan menjaga modal usahanya agar terus berputar.

“Yang penting tetap berusaha. Rezeki sudah ada yang mengatur. Terkadang dagangan cepat laku, terkadang lambat, tetapi saya tetap menjalaninya,” ujarnya.

Langit yang semakin gelap tidak serta-merta menghentikan langkah Riyanto. Kerupuk cantir yang masih tersisa tetap dibawanya, menjadi pengingat bahwa hari itu belum sepenuhnya selesai. Di antara lalu lintas yang terus bergerak, ia kembali menunggu kesempatan untuk mendapatkan pembeli yang tidak tahu kapan akan datang membawa rezeki bagi dirinya.

Dari Karanglewas hingga jalan-jalan di Purwokerto, Riyanto terus berjalan dengan kerupuk cantir di pundaknya. Baginya, setiap langkah bukan sekadar perjalanan mencari pembeli, melainkan cara untuk mempertahankan usaha dan menjemput rezeki. Selama masih mampu berjalan dan berusaha, ia memilih untuk tidak berhenti.

Penulis — Revaliana Arianti

Editor — Zalfa Nur Afiifah

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

Berita Terbaru

  • Dulu Semalam Suntuk, Kini Sekadar Pembuka Acara: Cerita Lengger dari Rumah Lengger Banyumas
    By bagus aji
    Oktober 9, 2026
    Lukisan penari lengger dan seperangkat calung di sudut […]
  • Gemblong Ocar-Acir di Tengah Perubahan Selera Generasi Muda
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Penulis: Erdi Aqil Fauzan | Keterangan: Feature, […]
  • Ketika Krama Inggil Perlahan Kehilangan Suara di Patikraja
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Oleh: Farah Nasywa Nurrahma | Narasumber: Mareta & […]

Pendidikan

  • SMA Muhammadiyah Sokaraja Benahi Manajemen untuk Pulihkan Kepercayaan Masyarakat
    By shafrifa aulia
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Keterbatasan Perpustakaan Tak Padamkan Semangat Membaca, Pojok Literasi Jadi Solusi bagi Murid UPTD SDN 3 Kedungdawa
    By calista aneen
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Kopi dan Laptop: Cerita Mahasiswa Unsoed Menghadapi Tenggat Tugas Tengah Semester
    By athaya qila
    Pendidikan
    September 29, 2026

Bahasa

  • Mengenal Dunia Inklusif Melalui Kelas Bahasa Isyarat Himpunan Mahasiswa KIP-K Unsoed
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Terbaru
    September 21, 2026
  • Usung Tema “Citta Karya”, Seminar Kepenulisan 2026 Hadirkan Luluk HF, Penulis “Mariposa”
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Berlangsung 14–16 September
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Hiburan, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Dibuka, Wabup Dorong Budaya Baca Masyarakat
    By akt 24
    Bahasa Bahasa, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Hadirkan Beragam Stan Literasi
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan
    September 21, 2026

Kuliner

  • Segelas Dawet Ayu, Rezeki yang Tak Tertukar
    By Hanunah Mumtaz
    Feature, Kuliner, Sosial
    Oktober 8, 2026
  • Makaroni Tasik Mang Dadang, Kuliner Pedas Hits di Purwokerto
    By Hanunah Mumtaz
    Kuliner
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Wisata

  • Riak Sang Penyu, Potret Kehidupan di Kawasan Konservasi
    By kelasB
    Pendidikan, Wisata
    September 21, 2026
  • Sabtu Malam, Kawasan Malioboro Dipenuhi Wisatawan
    By akt 24
    Wisata
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Sudut Nalar

Media pemberitaan mahasiswa
Hasil praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman

Tautan

Tentang Kami
Susunan Redaksi
Pedoman Media Siber
Kirim Tulisan
Arsip Berita.

Tentang

Diterbitkan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman, sebagai bagian dari praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Dosen Pengampu : Dr. Memet Sudaryanto, M.Pd.

©2026 sudutnalar.com | Design: Newspaperly WordPress Theme