Skip to content
sudutnalar.com
Menu
  • Beranda
  • Tentang
  • Bahasa
  • Wisata
  • Tips
  • Budaya
  • Teknologi
  • Sosial
  • Politik
  • Sastra
  • Kuliner
  • Hiburan
  • Profile
  • Pendidikan
  • Feature
  • Ekonomi
  • Hukum
Menu

Dari Gerobak Jagung, Ahmad Menjaga Harapan untuk Keluarga

Posted on Oktober 8, 2026Oktober 8, 2026 by Erdi Aqil Fauzan

Penulis: Gesit Adhe Priyana | Editor: Desta Hikmah Setyani | Narasumber: Ahmad Jalaludin | Keterangan: Feature News | Rabu, 07 Oktober 2026 | 20.48 WIB

Ahmad Jalaludin saat menjajakan jagung rebus dagangannya. (Dok. Gesit Adhe Priyana)

BANYUMAS, SUDUTNALAR β€”  menjelang sore, jalanan mulai dipenuhi kendaraan dan orang-orang yang beraktivitas setelah menyelesaikan pekerjaan mereka. Di tengah ramainya jalan, sebuah gerobak berisi jagung rebus bergerak perlahan dari satu tempat ke tempat lain. Aroma jagung yang masih hangat sesekali menarik perhatian orang yang melintas. Dari gerobak sederhana itulah, penghasilan untuk sebuah keluarga berusaha dikumpulkan setiap hari.

Di balik gerobak tersebut ada Ahmad Jalaludin, pria berusia 50 tahun yang kesehariannya berjualan jagung rebus keliling. Tinggal di Pamijen, Banyumas, dan berasal dari Bukateja, Purbalingga, Ahmad mulai berjualan sekitar pukul 13.00 WIB. Ia terus berkeliling hingga dagangannya habis atau waktunya tiba untuk pulang.

Jagung yang dijual Ahmad bukan miliknya sendiri. Ia mengambil dagangan dari seorang pemilik usaha untuk kemudian dijajakan kepada pembeli. Setiap hari, Ahmad harus berusaha menjual jagung sebanyak mungkin. Pasalnya, jika dagangan tidak habis, jagung yang tersisa menjadi tanggungannya sendiri dan tidak dapat dikembalikan.

Risiko tersebut membuat aktivitas berjualan Ahmad tidak selalu mudah. Ketika pembeli ramai, dagangannya dapat lebih cepat habis. Namun, saat pembeli sepi, ia harus tetap berkeliling dan menawarkan dagangan agar tidak mengalami kerugian.

Di balik rutinitasnya berjualan, Ahmad memiliki keluarga yang menjadi bagian penting dari perjuangannya. Ia telah menikah dan memiliki dua anak. Anak pertamanya kini sudah bekerja setelah menyelesaikan pendidikan di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), jurusan Pendidikan Bahasa Inggris.

β€œYang pertama sudah kerja. Kalau yang kedua masih kuliah di Jakarta, tapi kuliahnya online,” kata Ahmad.

Sementara itu, anak keduanya masih menempuh pendidikan di Jakarta secara daring. Meskipun berada jauh dari keluarga, Ahmad tetap berusaha mendukung pendidikan anaknya. Penghasilan dari berjualan jagung menjadi salah satu sumber untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Setiap hari, Ahmad harus menghadapi ketidakpastian dalam berjualan. Tidak ada jaminan seluruh jagung yang dibawanya akan habis. Jika pembeli ramai, dagangannya dapat lebih cepat terjual. Namun, ketika pembeli sepi, ia harus tetap berkeliling dan menawarkan dagangannya.

Pekerjaan sebagai penjual jagung rebus mungkin terlihat sederhana. Namun, di baliknya terdapat tanggung jawab yang tidak ringan. Ahmad harus menghadapi perjalanan berkeliling, kondisi pembeli yang tidak menentu, hingga risiko kerugian ketika jagung yang dibawanya tidak habis.

Usianya yang sudah 50 tahun tidak membuat Ahmad berhenti bekerja. Setiap hari ia kembali memulai perjalanan dengan membawa dagangan. Panas matahari, perjalanan berkeliling, hingga risiko jagung tidak habis menjadi bagian yang harus ia hadapi.

Bagi Ahmad, bekerja bukan hanya tentang menjual jagung. Ada kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi dan pendidikan anak yang harus terus didukung. Setiap jagung yang berhasil terjual menjadi penghasilan yang dapat dibawa pulang untuk keluarganya.

Saat malam tiba dan aktivitas jualan berakhir, Ahmad akan kembali ke rumah. Gerobak yang digunakan sepanjang hari mungkin terlihat sederhana. Namun, bagi Ahmad, gerobak itu menjadi saksi bisu dari usaha seorang ayah dalam mempertahankan kehidupan keluarganya.

Di balik jagung rebus yang dijajakan dari satu tempat ke tempat lain, tersimpan cerita tentang seorang ayah yang tidak berhenti berusaha. Ahmad mungkin hanya membawa jagung dalam gerobaknya, tetapi bersama dagangan itu ia juga membawa harapan agar keluarganya tetap bertahan dan anak-anaknya memiliki masa depan yang lebih baik.

Penulis: Gesit Adhe Priyana (J1D025115)

Editor: Desta Hikmah Setyani (J1D025099)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

Berita Terbaru

  • Dulu Semalam Suntuk, Kini Sekadar Pembuka Acara: Cerita Lengger dari Rumah Lengger Banyumas
    By bagus aji
    Oktober 9, 2026
    Lukisan penari lengger dan seperangkat calung di sudut […]
  • Gemblong Ocar-Acir di Tengah Perubahan Selera Generasi Muda
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Penulis: Erdi Aqil Fauzan | Keterangan: Feature, […]
  • Ketika Krama Inggil Perlahan Kehilangan Suara di Patikraja
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Oleh: Farah Nasywa Nurrahma | Narasumber: Mareta & […]

Pendidikan

  • SMA Muhammadiyah Sokaraja Benahi Manajemen untuk Pulihkan Kepercayaan Masyarakat
    By shafrifa aulia
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Keterbatasan Perpustakaan Tak Padamkan Semangat Membaca, Pojok Literasi Jadi Solusi bagi Murid UPTD SDN 3 Kedungdawa
    By calista aneen
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Kopi dan Laptop: Cerita Mahasiswa Unsoed Menghadapi Tenggat Tugas Tengah Semester
    By athaya qila
    Pendidikan
    September 29, 2026

Bahasa

  • Mengenal Dunia Inklusif Melalui Kelas Bahasa Isyarat Himpunan Mahasiswa KIP-K Unsoed
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Terbaru
    September 21, 2026
  • Usung Tema “Citta Karya”, Seminar Kepenulisan 2026 Hadirkan Luluk HF, Penulis “Mariposa”
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Berlangsung 14–16 September
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Hiburan, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Dibuka, Wabup Dorong Budaya Baca Masyarakat
    By akt 24
    Bahasa Bahasa, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Hadirkan Beragam Stan Literasi
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan
    September 21, 2026

Kuliner

  • Segelas Dawet Ayu, Rezeki yang Tak Tertukar
    By Hanunah Mumtaz
    Feature, Kuliner, Sosial
    Oktober 8, 2026
  • Makaroni Tasik Mang Dadang, Kuliner Pedas Hits di Purwokerto
    By Hanunah Mumtaz
    Kuliner
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Wisata

  • Riak Sang Penyu, Potret Kehidupan di Kawasan Konservasi
    By kelasB
    Pendidikan, Wisata
    September 21, 2026
  • Sabtu Malam, Kawasan Malioboro Dipenuhi Wisatawan
    By akt 24
    Wisata
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Sudut Nalar

Media pemberitaan mahasiswa
Hasil praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman

Tautan

Tentang Kami
Susunan Redaksi
Pedoman Media Siber
Kirim Tulisan
Arsip Berita.

Tentang

Diterbitkan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman, sebagai bagian dari praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Dosen Pengampu : Dr. Memet Sudaryanto, M.Pd.

©2026 sudutnalar.com | Design: Newspaperly WordPress Theme