Oleh Elisyia Putri Himawan
Sudutnalar.com, Rabu, 7 Oktober 2026, 12.40 WIB

Rumah Warga di Kecamatan Kesugihan (Foto: Dok. Elisyia Putri Himawan)
CILACAP, SUDUTNALAR – Di balik dinding rumah yang tampak sederhana bagi orang melintas di Kecamatan Kesugihan, tersimpan cerita tentang keluarga yang bertahan dengan penghasilan tidak menentu. Tentang seorang anak yang harus meninggalkan sekolah ketika baru duduk di kelas dua sekolah dasar dan seorang ibu, R, yang memilih menyimpan luka rumah tangganya sendiri.
Kehidupan keluarga tersebut jauh dari kata berkecukupan. Penghasilan suami yang tidak stabil membuat kebutuhan sehari-hari sering kali tidak terpenuhi. Dalam keadaan ekonomi yang serba terbatas, pendidikan anak pun akhirnya menjadi salah satu yang dikorbankan.
Anak R berhenti sekolah ketika masih duduk di kelas dua SD. Seragam yang dahulu dikenakan untuk pergi belajar tidak lagi menjadi bagian dari kesehariannya. Bangku sekolah yang seharusnya masih ditempati harus ditinggalkan di tengah keterbatasan keluarga.
Namun, ada luka lain yang tidak terlihat dari luar. R diketahui beberapa kali mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Seorang perempuan lanjut usia yang tinggal di sekitar rumahnya mencoba menanyakan keadaan R terkait perlakuan suaminya. Namun, R justru melindungi suaminya.
“Enggak, suamiku nggak pernah mukulin aku,” jawab R.
Padahal, tubuh R saat itu dipenuhi luka dan lebam. Luka-luka itu terlihat, tetapi ia memilih menutupinya dengan jawaban singkat bahwa tidak pernah terjadi apa-apa. Di tengah keadaan tersebut, keluarga dan warga sekitar sebenarnya tidak tinggal diam. Mereka telah beberapa kali menegur suaminya dan mengingatkan agar ia tidak melakukan kekerasan terhadap istrinya serta lebih bertanggung jawab terhadap keluarganya.
Namun, teguran tersebut tidak serta-merta mengubah keadaan. Bahkan, kartu bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) yang seharusnya digunakan untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga justru dibakar olehnya. Hal itu terungkap ketika tetangga menanyakan kartu bantuan. Jawaban R justru membuat prihatin.
“Kartunya udah dibakar sama suamiku,” jawab R.
Peristiwa itu membuat warga semakin prihatin. Mereka tidak hanya mengetahui keadaan R, tetapi juga melihat bahwa persoalan yang dihadapi keluarganya membuat mereka semakin sulit memenuhi kebutuhan sehari-hari. Karena itu, warga berusaha membantu sesuai kemampuan mereka.
Tidak ada kemewahan, bantuan diberikan dalam bentuk makanan dan pakaian. Makanan untuk mengisi perut dan pakaian untuk dikenakan. Namun, bagi keluarga yang hidup dalam keterbatasan, perhatian kecil itu menjadi bentuk kepedulian yang berarti.
Persoalan ekonomi juga membawa dampak kesehatan dan keselamatan R. Ketika melahirkan anak keduanya, ia menjalani persalinan seorang diri tanpa bantuan bidan maupun dukun bayi. R hanya menghadapi persalinan dengan segala keterbatasan yang dimilikinya.
Hari demi hari tetap berjalan. Di tengah keadaan yang tidak mudah, R tetap menjalani kehidupan sehari-hari. Setiap pagi ia bangun, memasak, membereskan rumah, dan memikirkan makanan untuk hari berikutnya. Setelah semua pekerjaan rumah selesai, ia kembali menjalani aktivitas bersama keluarganya sambil memastikan anak-anaknya tetap mendapatkan apa yang mampu ia berikan.
Tidak banyak yang berubah dari rutinitasnya. R memilih untuk tetap menjalani kehidupannya tanpa banyak menceritakan luka yang pernah dialaminya. Baginya, hidup harus tetap berjalan, meskipun persoalan yang dihadapinya belum sepenuhnya selesai.
Kemiskinan dalam keluarga itu akhirnya tidak hanya berkaitan dengan penghasilan yang tidak menentu. Dampaknya terasa dalam pendidikan anak, akses terhadap layanan kesehatan, hingga kehidupan rumah tangga yang tidak sepenuhnya aman.
Penulis: Elisyia Putri Himawan
Editor: Ilma Lutfi Anasari
