Skip to content
sudutnalar.com
Menu
  • Beranda
  • Tentang
  • Bahasa
  • Wisata
  • Tips
  • Budaya
  • Teknologi
  • Sosial
  • Politik
  • Sastra
  • Kuliner
  • Hiburan
  • Profile
  • Pendidikan
  • Feature
  • Ekonomi
  • Hukum
Menu

Hampir Punah, Tradisi Kotekan Lesung di Desa Tambaknegara

Posted on Oktober 8, 2026Oktober 8, 2026 by Erdi Aqil Fauzan

Penulis: Caesaria Cahaya Rembulan | Narasumber: Arti Winarsih | Sudutnalar.com, Rabu, 7 Oktober 2026

(Dok. Koleksi: Mulia)

BANYUMAS, SUDUTNALAR — Suara alu yang dipukulkan ke lesung, dahulu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Dusun Kaliwangi, Desa Tambaknegara, Kecamatan Rawalo, Kabupaten Banyumas. Ketukan yang berbeda dari setiap pemain menghasilkan bunyi yang saling bersahutan. Namun, suara itu kini semakin jarang terdengar. Alat yang digunakan untuk memainkan kotekan pun sudah hampir tidak ada.

Lesung dan alu merupakan alat yang digunakan masyarakat untuk menumbuk padi. Lesung biasanya dibuat dari batang kayu berukuran besar dengan bagian tengah yang dilubangi, sedangkan alu merupakan batang kayu panjang yang digunakan untuk menumbuk. Dalam kesenian kotekan, beberapa orang memainkan alu dengan pola ketukan yang berbeda sehingga menghasilkan irama yang khas.

Jumlah pemain kotekan dapat mencapai empat hingga tujuh orang. Setiap pemain memiliki bagian masing-masing. Ada yang memainkan kotek siji, ngoprak, gawe, hingga memberikan ketukan gendong. Ketukan tersebut dimainkan secara bergantian dan saling menyahut.

Arti Winarsih, berumur 76 tahun, merupakan salah satu orang yang masih mengingat dan pernah memainkan kotekan. Ia mengenal tradisi tersebut sejak masih kecil, yaitu pada umurnya yang ke-12 (1963). Saat itu, ia hanya melihat saudaranya yang memainkan lesung dan alu.

“Saat itu saya cuman melihatnya saja saat saudara-saudara saya memainkannya,” ujar Winarsih.

Setelah waktu ke waktu hanya melihat, Winarsih mulai ikut berlatih kemudian ikut memainkannya. Ia pun mulai mengenal berbagai macam irama yang dimainkan, seperti Ngudang Anak, Ungkut-ungkutan, dan Kotek Loro.

Dahulu, kotekan sering dimainkan ketika bulan sedang terang. Warga akan berkumpul dan memainkan gubrakan, sebutan yang juga digunakan  Winarsih untuk tradisi tersebut. Kegiatan itu tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga dilakukan ketika warga sedang melakukan gotong royong, seperti mengolah hasil panen mereka.

Masyarakat biasanya bergotong royong mengolah hasil panen menggunakan lesung dan alu. Padi yang masih berkulit dimasukkan ke dalam lesung, kemudian ditumbuk menggunakan alu secara bergantian hingga kulitnya terlepas dan menghasilkan beras. Setelah itu, beras dapat kembali ditumbuk sampai halus menjadi tepung. Tepung tersebut kemudian digunakan untuk membuat makanan, seperti jenang untuk keperluan hajatan. Saat menumbuk, setiap orang memiliki pola ketukan yang berbeda sehingga menghasilkan bunyi yang saling bersahutan. Pekerjaan yang dilakukan bersama-sama itu membuat suasana menjadi ramai dan terasa lebih menyenangkan.

“Kalau terang bulan, rasanya ramai sekali. Warga berkumpul, dibarengi dengan suara lesung,” kenang Winarsih.

Dari berbagai irama yang pernah dimainkan, Ungkut-ungkutan menjadi salah satu yang paling berkesan bagi  Winarsih. Ia masih mengingat pola ketukan yang dimainkan secara cepat dan lambat.

“Ungkut-ungkutan,” jawabnya ketika ditanya tentang pengalaman yang paling berkesan. “Karena ketukannya asik.”

Namun, keramaian itu kini hampir tidak ditemukan lagi. Winarsih mengatakan bahwa kotekan sudah sangat jarang dimainkan. Minat masyarakat terhadap tradisi tersebut juga semakin berkurang karena muncul berbagai kesenian modern.

“Iya, sangat berkurang,” katanya.

Menurut Winarsih, masalah terbesar yang membuat kotekan sulit dilanjutkan adalah tidak adanya alat. Dahulu, Dusun Kaliwangi memiliki empat lesung beserta alunya. Namun, satu per satu lesung tersebut hilang. Salah satunya hanyut terbawa banjir, sedangkan lesung yang tersisa akhirnya lapuk dan tidak dapat digunakan lagi.

“Pertama, ada yang hanyut karena banjir. Kemudian ada juga karena sudah lapuk, jadi tidak bisa dipakai,” ujar Winarsih.

Lesung-lesung tersebut dahulu dibuat dari kayu jati berukuran besar yang diambil dari hutan pada masa itu. Kini, kayu untuk membuat lesung tersebut sulit ditemukan.

“Sampai sekarang tidak ada yang bisa membuatnya lagi karena kayu jati khusus buat lesung dan alunya tidak ada,” tuturnya.

Hilangnya alat juga membuat generasi muda semakin sulit untuk belajar. Padahal, menurut Winarsih, anak-anak muda masih memiliki keinginan untuk mempelajari kotekan jika alatnya tersedia.

“Kalau masih ada peraga dan alatnya, jelas mau,” katanya.

Selain alat, para pemain kotekan dari generasi sebelumnya juga semakin sedikit. Banyak pemain yang dahulu dikenal di Dusun Kaliwangi kini telah meninggal dunia. Winarsih menyebut beberapa nama yang ahli dalam memainkan lesung, yaitu Kari, Arwi, Kampren, Riwes, Sumirah, Sawi, Sarkem, Wadem, dan Supen.

Kini, Winarsih dan Atem menjadi beberapa orang yang masih mengetahui kesenian tersebut dari generasi sebelumnya. Mereka menjadi salah satu pengingat bahwa kotekan pernah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kaliwangi.

Bagi Winarsih, masa depan kotekan masih sulit untuk dipastikan. Tanpa lesung dan alu, kesenian tersebut tidak memiliki alat untuk dimainkan kembali.

Dahulu, suara alu dan lesung dapat mempertemukan warga dalam satu kegiatan. Kini, suara tersebut hanya tersisa dalam ingatan orang-orang yang pernah memainkannya. Bagi Winarsih, kotekan bukan hanya tentang bunyi dari kayu yang dipukulkan ke lesung, tetapi juga tentang masa ketika warga dapat berkumpul dan melakukan sesuatu bersama.

Jika tidak ada lagi lesung yang dapat dimainkan, suara itu mungkin tidak akan terdengar kembali di Dusun Kaliwangi. Namun, selama masih ada orang seperti Winarsih yang mengingatnya, cerita tentang kotekan belum benar-benar hilang.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

Berita Terbaru

  • Dulu Semalam Suntuk, Kini Sekadar Pembuka Acara: Cerita Lengger dari Rumah Lengger Banyumas
    By bagus aji
    Oktober 9, 2026
    Lukisan penari lengger dan seperangkat calung di sudut […]
  • Gemblong Ocar-Acir di Tengah Perubahan Selera Generasi Muda
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Penulis: Erdi Aqil Fauzan | Keterangan: Feature, […]
  • Ketika Krama Inggil Perlahan Kehilangan Suara di Patikraja
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Oleh: Farah Nasywa Nurrahma | Narasumber: Mareta & […]

Pendidikan

  • SMA Muhammadiyah Sokaraja Benahi Manajemen untuk Pulihkan Kepercayaan Masyarakat
    By shafrifa aulia
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Keterbatasan Perpustakaan Tak Padamkan Semangat Membaca, Pojok Literasi Jadi Solusi bagi Murid UPTD SDN 3 Kedungdawa
    By calista aneen
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Kopi dan Laptop: Cerita Mahasiswa Unsoed Menghadapi Tenggat Tugas Tengah Semester
    By athaya qila
    Pendidikan
    September 29, 2026

Bahasa

  • Mengenal Dunia Inklusif Melalui Kelas Bahasa Isyarat Himpunan Mahasiswa KIP-K Unsoed
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Terbaru
    September 21, 2026
  • Usung Tema “Citta Karya”, Seminar Kepenulisan 2026 Hadirkan Luluk HF, Penulis “Mariposa”
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Berlangsung 14–16 September
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Hiburan, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Dibuka, Wabup Dorong Budaya Baca Masyarakat
    By akt 24
    Bahasa Bahasa, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Hadirkan Beragam Stan Literasi
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan
    September 21, 2026

Kuliner

  • Segelas Dawet Ayu, Rezeki yang Tak Tertukar
    By Hanunah Mumtaz
    Feature, Kuliner, Sosial
    Oktober 8, 2026
  • Makaroni Tasik Mang Dadang, Kuliner Pedas Hits di Purwokerto
    By Hanunah Mumtaz
    Kuliner
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Wisata

  • Riak Sang Penyu, Potret Kehidupan di Kawasan Konservasi
    By kelasB
    Pendidikan, Wisata
    September 21, 2026
  • Sabtu Malam, Kawasan Malioboro Dipenuhi Wisatawan
    By akt 24
    Wisata
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Sudut Nalar

Media pemberitaan mahasiswa
Hasil praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman

Tautan

Tentang Kami
Susunan Redaksi
Pedoman Media Siber
Kirim Tulisan
Arsip Berita.

Tentang

Diterbitkan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman, sebagai bagian dari praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Dosen Pengampu : Dr. Memet Sudaryanto, M.Pd.

©2026 sudutnalar.com | Design: Newspaperly WordPress Theme