Sudutnalar.com, Sabtu, 19 September 2026, 15.30 WIB

Lily Kusumasita Burkon, sosok wanita karier yang berprofesi sebagai dokter (Foto: Dok. Pribadi Lily Kusumawati Burkon)
Purwokerto – Sudutnalar.com, Menjadi dokter bukanlah cita-cita Lily. Sejak kecil, Lily justru tertarik dengan pekerjaan di bank karena senang saat membayangkan dirinya menghitung banyak uang. Namun, perjalanan hidup membawanya ke dunia kesehatan dan pendidikan. Selama 15 tahun, Lily tetap memilih mengabdi sebagai dokter sekaligus dosen.
Pilihan Lily dalam menekuni dunia kesehatan tidak datang begitu saja. Ketertarikannya mulai tumbuh dari lingkungan keluarga. Ibunya bekerja sebagai Laboran dan ayahnya bekerja di bidang K3 membuat dunia kesehatan menjadi sesuatu yang dekat dengannya.
Perjalanan menjadi dokter tentu tidak mudah. Lily menjalani pendidikan selama bertahun-tahun dengan berbagai tuntutan, mulai dari materi perkuliahan hingga tugas yang harus diselesaikan. Tidak hanya membutuhkkan kesiapan dalam belajar, tetapi juga siap secara mental, pikiran, dan fisik. Namun, Lily tetap memilih untuk tidak menyerah hingga akhirnya berhasil menyelesaikan pendidikannya.
Kini, Lily telah menjalani praktik sebagai dokter di Klinik Soedirman dan Klinik Amanda. Di samping kesibukannya sebagai dokter, Lily juga mengajar di Universitas Jenderal Soedirman.
“Saya menjalani dua-duanya, praktik sebagai dokter dan mengajar. Memang tidak mudah membagi waktunya, tetapi sejauh ini saya masih bisa menjalani keduanya.” ujar Lily
Selama menjalani profesinya sebagai dokter, Lily menemukan banyak makna dari setiap pasien. Baginya, pasien bukan hanya seseorang yang datang untuk mendapatkan pengobatan, tetapi juga sumber inspirasi dan pelajaran hidup.
“Pasien itu pusat inspirasi.” ujarnya.
Lily mengaku sering mendapat inspirasi dari berbagai kondisi pasien. Melihat perjuangan para pasien membuat Lily menyadari bahwa persoalan yang selama ini membuatnya sedih ternyata tidak seberapa dibandingkan dengan yang dihadapi orang lain. Hal ini membuatnya semakin memahami arti kehidupan.
Salah satu pengalaman paling membekas baginya ketika melihat orang tua yang sedang sakit tetapi ditelantarkan. Dari situ, Lily menyadari bahwa sakit menjadi titik lemah seseorang sekaligus memperlihatkan seberapa besar kasih sayang sebuah keluarga.
Menurutnya, ketika anak sakit, orang tua pasti rela berkorban apa saja agar anaknya sembuh. Namun, ketika orang tua yang sakit, belum tentu seorang anak memiliki kesiapan yang sama untuk berkorban. Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa seorang anak juga memiliki tanggung jawab untuk merawat orang tuanya.
Lily selalu memperlakukan pasien seperti keluarganya sendiri dan tetap memahami batas profesional dalam menangani keluarga. Menurutnya, rasa nyaman dan kecocokan antara dokter dengan pasien menjadi hal penting dalam menjalankan pekerjaannya.
Untuk tindakan tertentu, seperti operasi, seorang dokter tidak dianjurkan menangani anggota keluarganya sendiri. Namun, untuk perawatan tertentu, seperti membantu membersihkan luka pascaoperasi, hal tersebut dapat dilakukan sesuai kondisi.
Bagi Lily, sakit tidak selalu terlihat dari kondisi fisik. Seseorang bisa saja terlihat sehat secara fisik, tetapi sebenarnya sedang mengalami sakit secara mental. Karena itu, setiap pasien perlu dipahami bukan hanya dari penyakit yang terlihat, tetapi juga dari kondisi dan cerita yang mereka bawa sehingga Lily harus memikirkan diagnosis, obat, serta cara penanganan yang sesuai karena setiap pasien memiliki kebutuhan yang berbeda.
Di tengah berbagai tantangan profesinya, Lily memiliki cara sendiri dalam menghadapi tekanan. Ketika merasa stres karena pekerjaan, Lily memilih keluar sejenak dan beristirahat agar emosinya tidak berdampak kepada orang lain.
Lily memandang persoalan senioritas dalam dunia kedokteran dari sisi yang berbeda. Menurutnya, seseorang tidak seharusnya langsung menganggap teguran dari senior sebagai sesuatu yang merendahkan. Teguran tersebut bisa menjadi arahan agar seseorang mengetahui apa yang harus dilakukan.
“Justru tanpa senioritas kita tidak bisa belajar banyak hal dari pengalaman yang sudah mereka lalui.” tuturnya.
Mungkin cita-cita masa kecilnya menghitung uang di bank tidak terwujud. Akan tetapi, dari perjalanan yang awalnya tidak ia rencanakan, Lily menemukan makna lebih jauh tentang profesinya sebagai dokter, ia tidak hanya diberi kesempatan untuk membantu orang lain, tetapi juga belajar memahami bahwa di balik tubuh yang sakit, ada kekhawatiran yang dirasakan pasien, keluarga yang berharap, dan manusia yang hanya ingin kembali pulang dalam keadaan sehat. Pada akhirnya, setiap pasien yang ditemui akan menjadi bagian dari perjalanan yang mengajarkannya tentang kehidupan.
Penulis – Elisyia Putri Himawan
Editor – Ilma Lutfi Anasari
