Skip to content
sudutnalar.com
Menu
  • Beranda
  • Tentang
  • Bahasa
  • Wisata
  • Tips
  • Budaya
  • Teknologi
  • Sosial
  • Politik
  • Sastra
  • Kuliner
  • Hiburan
  • Profile
  • Pendidikan
  • Feature
  • Ekonomi
  • Hukum
Menu

34 Tahun Dedikasi Eli Winarti Merawat TPQ Sanggar Huda di Desa Semedo

Posted on Oktober 9, 2026Oktober 9, 2026 by dava hanif

Penulis: Anisa Rahmawati | Editor: Nisa Nurul Aida

Kamis, 8 Oktober 2026

 Aktivitas mengaji di TPQ Sanggar Huda (foto: Anisa) 

BANYUMAS, SUDUTNALAR – Sinar matahari sore menembus celah atap bening dan jendela, menerangi lantai keramik putih TPQ di sudut Desa Semedo. Di ruangan yang kini tampak bersih dan cukup luas itu, belasan anak berpeci dan berkerudung duduk rapi, sebagian tekun mengeja lembaran Iqro dan sebagian lagi lancar melantunkan ayat Al-Qur’an. Di dinding, berderet bingkai foto kenangan wisuda santri dari tahun ke tahun. Foto tersebut menjadi bukti pengabdian Eli Winarti  yang telah mengajar di TPQ selama 34 tahun. 

Perjalanan Eli di TPQ Sanggar Huda bermula pada tahun 1992. Langkahnya mengajar dimulai ketika seorang kiai desa mendengar Eli membaca Al-Qur’an di masjid. Karena bacaan dan tajwidnya dinilai fasih, sang kiai memintanya untuk mengajar anak-anak di lingkungan sekitar. Eli pun menerima tawaran tersebut tanpa ragu.

“Masa sudah diberi kesempatan mengajar Al-Qur’an saya tidak mau? Saya senang, sama sekali tidak merasa terpaksa,” ujar Eli, Kamis (08/10).

Perjuangan Eli mengajar tidak selalu berjalan mudah. Sebelum memiliki tempat yang lebih memadai, sebelumnya kegiatan mengaji menumpang di sebuah ruangan sempit di samping masjid desa. Dengan ukuran yang hanya 2 x 5 meter, Eli harus menampung lebih dari 40 anak yang berdesakan saat belajar. Kondisi makin berat saat musim hujan tiba karena air sering menerobos masuk dari celah bawah pintu.

Di tempat lama tersebut, saat hujan tiba Eli terpaksa mengajar sambil membawa dua lembar kain lap tebal. Satu lap dipakai untuk menyumbat celah pintu, sedangkan lap lainnya digunakan untuk menyerap dan memeras air yang terlanjur masuk menggenangi ruangan.

“Sering saya mengepel lantai yang tergenang air hujann sambil menahan sedih, tapi anak-anak tetap lanjut belajar hafalan doa. Mengajar agama itu kadang rasanya seperti memegang api, terasa berat dan panas,” tutur Eli. 

Setelah bertahun-tahun bertahan dengan keterbatasan di samping masjid, TPQ Sanggar Huda kini telah berpindah ke bangunan baru yang berdiri tepat di samping rumah Eli. Tempat baru ini memiliki ukuran yang jauh lebih luas dan layak, sehingga mampu menampung sekitar 60 hingga 85 anak yang datang belajar setiap harinya mulai pukul 13.30 WIB.

Selama puluhan tahun, Eli mengajar tanpa memasang tarif atau mengharapkan bayaran. Untuk kebutuhan operasional kecil seperti membeli spidol atau mengganti sapu lidi yang rusak, ia lebih sering menggunakan uang pribadinya daripada meminta kepada pengurus TPQ. Perhatian berupa insentif dari pihak desa dan Kemenag baru ia dapatkan dalam beberapa tahun terakhir.

Bagi Eli, momen paling berkesan dari seluruh pengabdiannya adalah saat Khatmil Qur’an tahunan diadakan. Menurutnya, melihat anak-anak desa lancar menuntaskan Al-Qur’an adalah kebahagiaan terbesar yang tidak bisa dinilai dengan uang.

“Saya ini orang desa yang tidak berpendidikan tinggi. Tapi bisa melihat anak-anak khatam Al-Qur’an itu membuat terharu luar biasa. Itu alasan utama saya bertahan,” ungkapnya. Kegiatan mengaji biasanya berakhir pada pukul 16.30 WIB. Anak-anak bersiap merapikan kitab Iqro maupun Al-Qur’an dari atas meja, lalu berbaris mencium tangan Eli sebelum pulang ke rumah masing-masing. 

Saat ditanya alasannya terus mengajar hingga tiga dekade lebih, Eli menyampaikan prinsip hidupnya yang sederhana, “Hidup cuma satu kali dan waktu tidak bisa diulang. Saya hanya ingin memanfaatkan waktu yang ada untuk berbuat baik dan menjadi bekal di akhirat nanti,” pungkasnya.

Perjuangan Eli ini menjadi pengingat nyata bahwa ketulusan tidak pernah diukur dari seberapa megah tempat belajar atau seberapa besar imbalan yang diterima. Di tengah zaman yang serba dinilai dengan materi, dedikasi sunyi seperti milik Eli adalah lentera yang terus menjaga asa dan pendidikan karakter generasi penerus tetap menyala.

.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

Berita Terbaru

  • Dulu Semalam Suntuk, Kini Sekadar Pembuka Acara: Cerita Lengger dari Rumah Lengger Banyumas
    By bagus aji
    Oktober 9, 2026
    Lukisan penari lengger dan seperangkat calung di sudut […]
  • Gemblong Ocar-Acir di Tengah Perubahan Selera Generasi Muda
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Penulis: Erdi Aqil Fauzan | Keterangan: Feature, […]
  • Ketika Krama Inggil Perlahan Kehilangan Suara di Patikraja
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Oleh: Farah Nasywa Nurrahma | Narasumber: Mareta & […]

Pendidikan

  • SMA Muhammadiyah Sokaraja Benahi Manajemen untuk Pulihkan Kepercayaan Masyarakat
    By shafrifa aulia
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Keterbatasan Perpustakaan Tak Padamkan Semangat Membaca, Pojok Literasi Jadi Solusi bagi Murid UPTD SDN 3 Kedungdawa
    By calista aneen
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Kopi dan Laptop: Cerita Mahasiswa Unsoed Menghadapi Tenggat Tugas Tengah Semester
    By athaya qila
    Pendidikan
    September 29, 2026

Bahasa

  • Mengenal Dunia Inklusif Melalui Kelas Bahasa Isyarat Himpunan Mahasiswa KIP-K Unsoed
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Terbaru
    September 21, 2026
  • Usung Tema “Citta Karya”, Seminar Kepenulisan 2026 Hadirkan Luluk HF, Penulis “Mariposa”
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Berlangsung 14–16 September
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Hiburan, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Dibuka, Wabup Dorong Budaya Baca Masyarakat
    By akt 24
    Bahasa Bahasa, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Hadirkan Beragam Stan Literasi
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan
    September 21, 2026

Kuliner

  • Segelas Dawet Ayu, Rezeki yang Tak Tertukar
    By Hanunah Mumtaz
    Feature, Kuliner, Sosial
    Oktober 8, 2026
  • Makaroni Tasik Mang Dadang, Kuliner Pedas Hits di Purwokerto
    By Hanunah Mumtaz
    Kuliner
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Wisata

  • Riak Sang Penyu, Potret Kehidupan di Kawasan Konservasi
    By kelasB
    Pendidikan, Wisata
    September 21, 2026
  • Sabtu Malam, Kawasan Malioboro Dipenuhi Wisatawan
    By akt 24
    Wisata
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Sudut Nalar

Media pemberitaan mahasiswa
Hasil praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman

Tautan

Tentang Kami
Susunan Redaksi
Pedoman Media Siber
Kirim Tulisan
Arsip Berita.

Tentang

Diterbitkan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman, sebagai bagian dari praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Dosen Pengampu : Dr. Memet Sudaryanto, M.Pd.

©2026 sudutnalar.com | Design: Newspaperly WordPress Theme