Penulis: Anisa Rahmawati | Editor: Nisa Nurul Aida
Kamis, 8 Oktober 2026

Aktivitas mengaji di TPQ Sanggar Huda (foto: Anisa)
BANYUMAS, SUDUTNALAR – Sinar matahari sore menembus celah atap bening dan jendela, menerangi lantai keramik putih TPQ di sudut Desa Semedo. Di ruangan yang kini tampak bersih dan cukup luas itu, belasan anak berpeci dan berkerudung duduk rapi, sebagian tekun mengeja lembaran Iqro dan sebagian lagi lancar melantunkan ayat Al-Qur’an. Di dinding, berderet bingkai foto kenangan wisuda santri dari tahun ke tahun. Foto tersebut menjadi bukti pengabdian Eli Winarti yang telah mengajar di TPQ selama 34 tahun.
Perjalanan Eli di TPQ Sanggar Huda bermula pada tahun 1992. Langkahnya mengajar dimulai ketika seorang kiai desa mendengar Eli membaca Al-Qur’an di masjid. Karena bacaan dan tajwidnya dinilai fasih, sang kiai memintanya untuk mengajar anak-anak di lingkungan sekitar. Eli pun menerima tawaran tersebut tanpa ragu.
“Masa sudah diberi kesempatan mengajar Al-Qurβan saya tidak mau? Saya senang, sama sekali tidak merasa terpaksa,” ujar Eli, Kamis (08/10).
Perjuangan Eli mengajar tidak selalu berjalan mudah. Sebelum memiliki tempat yang lebih memadai, sebelumnya kegiatan mengaji menumpang di sebuah ruangan sempit di samping masjid desa. Dengan ukuran yang hanya 2 x 5 meter, Eli harus menampung lebih dari 40 anak yang berdesakan saat belajar. Kondisi makin berat saat musim hujan tiba karena air sering menerobos masuk dari celah bawah pintu.
Di tempat lama tersebut, saat hujan tiba Eli terpaksa mengajar sambil membawa dua lembar kain lap tebal. Satu lap dipakai untuk menyumbat celah pintu, sedangkan lap lainnya digunakan untuk menyerap dan memeras air yang terlanjur masuk menggenangi ruangan.
“Sering saya mengepel lantai yang tergenang air hujann sambil menahan sedih, tapi anak-anak tetap lanjut belajar hafalan doa. Mengajar agama itu kadang rasanya seperti memegang api, terasa berat dan panas,” tutur Eli.
Setelah bertahun-tahun bertahan dengan keterbatasan di samping masjid, TPQ Sanggar Huda kini telah berpindah ke bangunan baru yang berdiri tepat di samping rumah Eli. Tempat baru ini memiliki ukuran yang jauh lebih luas dan layak, sehingga mampu menampung sekitar 60 hingga 85 anak yang datang belajar setiap harinya mulai pukul 13.30 WIB.
Selama puluhan tahun, Eli mengajar tanpa memasang tarif atau mengharapkan bayaran. Untuk kebutuhan operasional kecil seperti membeli spidol atau mengganti sapu lidi yang rusak, ia lebih sering menggunakan uang pribadinya daripada meminta kepada pengurus TPQ. Perhatian berupa insentif dari pihak desa dan Kemenag baru ia dapatkan dalam beberapa tahun terakhir.
Bagi Eli, momen paling berkesan dari seluruh pengabdiannya adalah saat Khatmil Qur’an tahunan diadakan. Menurutnya, melihat anak-anak desa lancar menuntaskan Al-Qur’an adalah kebahagiaan terbesar yang tidak bisa dinilai dengan uang.
“Saya ini orang desa yang tidak berpendidikan tinggi. Tapi bisa melihat anak-anak khatam Al-Qur’an itu membuat terharu luar biasa. Itu alasan utama saya bertahan,” ungkapnya. Kegiatan mengaji biasanya berakhir pada pukul 16.30 WIB. Anak-anak bersiap merapikan kitab Iqro maupun Al-Qur’an dari atas meja, lalu berbaris mencium tangan Eli sebelum pulang ke rumah masing-masing.
Saat ditanya alasannya terus mengajar hingga tiga dekade lebih, Eli menyampaikan prinsip hidupnya yang sederhana, “Hidup cuma satu kali dan waktu tidak bisa diulang. Saya hanya ingin memanfaatkan waktu yang ada untuk berbuat baik dan menjadi bekal di akhirat nanti,” pungkasnya.
Perjuangan Eli ini menjadi pengingat nyata bahwa ketulusan tidak pernah diukur dari seberapa megah tempat belajar atau seberapa besar imbalan yang diterima. Di tengah zaman yang serba dinilai dengan materi, dedikasi sunyi seperti milik Eli adalah lentera yang terus menjaga asa dan pendidikan karakter generasi penerus tetap menyala.
.
