Rezza Firmanto – sudutnalar.com

PURWOKERTO – Siapa bilang pameran arsip kuno itu membosankan? Akhir pekan kemarin, ruang kreatif Hetero Space Purwokerto mendadak disulap menjadi spot festival yang sangat estetis, memadukan nostalgia tempo dulu dengan gaya hidup modern anak muda. Di antara ratusan lembar foto hitam-putih, tampak sosok berkaos biru yang sibuk membidikkan kamera ponselnya ke berbagai sudut ruangan.
Sosok viral tersebut tidak lain adalah Oka Yudhistira Pranayudha, Camat Purwokerto Timur yang juga populer sebagai konten kreator edukasi sejarah digital lewat akun instagramnya. Kehadiran Pak Oka di festival bertajuk 130 Tahun Serajoedal Stoomtram Maatschappij (SDS) ini sukses mencuri perhatian publik. Bukan untuk kunjungan kedinasan yang kaku, melainkan murni berburu konten hiburan edukatif demi mengajak para pengikutnya di media sosial ikut merasakan atmosfer keseruan acara.
Baru saja melangkah masuk ke area pameran, sang Camat gaul langsung berpapasan dengan Yezkiel, salah satu relawan (volunteer) pameran yang dengan ramah memandu jalannya tour. Sambil mengarahkan kamera, Pak Oka tampak terkesima mendengar cerita di balik ratusan berkas langka yang dipajang indah tersebut.
“Ya jadi kita tampilkan di sini itu hasil dari risetnya teman-teman, dan khususnya itu ‘Mas Jatmiko’ yang langsung riset dokumen ke Belanda, terus kita dokumentasikan dan persembahkan di pameran hari ini gitu Bapak,” ujar Yezkiel dengan nada santai penuh keakraban.
Melalui obrolan interaktif yang dikemas seperti sesi vlogging santai tersebut, terungkap sebuah “trivia hiburan” sejarah yang sangat menarik bagi Gen Z Purwokerto. Ternyata, wilayah Purwokerto zaman dulu menjadi arena operasi dua perusahaan transportasi raksasa yang berbeda nasib, yaitu SDS (Stasiun Timur) yang kini fisiknya sudah hilang ditelan zaman, dan SS (Stasiun Besar Purwokerto) milik negara yang jalurnya masih aktif eksis melayani perjalanan rute jauh hingga saat ini.
“‘Jadi di Purwokerto ini tadi saya ngobrol ada dua perusahaan. Satu SDS yang sekarang sudah hilang,” tutur Pak Oka di depan kamera dengan gaya khas konten kreator kekinian.
Yezkiel pun melengkapi penjelasan tersebut dengan menjabarkan rute lokal Kereta SDS masa lalu yang membentang dari Purwokerto, Maos, Wonosobo, hingga jalur ekstra menuju Purbalingga. Menariknya lagi, Yezkiel memberikan “bocoran lokasi” bagi para pemburu foto estetik di media sosial. Walau stasiun utama SDS di tengah kota sudah rata dengan tanah, sisa-sisa bangunan kuno bernuansa kolonial yang instagramable ternyata masih berdiri kokoh di area pinggiran seperti Banjar, Wonosobo, Klampok, hingga Banjarsari.
Melihat antusiasme pameran yang begitu hidup, Pak Oka menyelipkan harapan agar fasilitas transportasi umum lokal bersejarah ini bisa kembali dikembangkan dengan gaya modern di masa depan. Festival Banjoemas Heritage Week 2026 sukses membuktikan bahwa narasi masa lalu tidak harus kaku. Melalui sentuhan industri kreatif dan aksi ngonten seru dari figur publik, belajar sejarah lokal kini resmi bergeser menjadi tren hiburan baru yang digandrungi generasi muda.
“Terima kasih ya Mas Yezkiel. Mudah-mudahan mengedukasi dan anak-anak muda semakin mencintai sejarah kotanya masing-masing,” pungkas Pak Oka sembari melambaikan tangan ceria ke arah kamera untuk menutup sesi konten hiburannya.
Penulis – Rezza Firmanto
Editor – Aflah Hafiz Amanullah
