Penulis: Desta Hikmah Setyani | Editor: Gesit Adhe Priyana | Keterangan: Feature | Jumat, 09 Oktober 2026 | 08.36 WIB

Sisi sunyi seorang pahlawan. Hari Dwi Aryono (33), anggota tim rescue Dinas Pemadam Kebakaran, membaca dokumen laporan di pos penjagaan di sela-sela waktu siaga sambil menunggu panggilan darurat. (Foto: Dok. Desta Hikmah Setyani)
Suara alarm darurat mendadak mengubah suasana atmosfer pos penjagaan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan. Dalam hitungan detik, suasana hangat berisi obrolan santai antarpetugas langsung berubah menjadi suasana tegang dengan pergerakan cepatarena pergerakan kilat yang menegangkan. Para petugas segera bangkit dari kursi kayu, lalu meraih jaket pelindung tahan api yang berat, dan menaiki truk merah raksasa. Detik itu juga, kendaraan berat tersebut menderu kencang membelah jalanan gelap, meninggalkan kenyamanan waktu istirahat demi memjalankan tugas menyelamatkan nyawa orang lainpertaruhkan nyawa untuk menyelamatkan jiwa-jiwa yang tidak mereka kenal.
Bagi masyarakat awam, petugas pemadam kebakaran (damkar) sering kali hanya dipandang sebelah mata sebagai pahlawan saat si jago merah mengamuk melahap bangunan. Padahal, di balik seragam tebal, celana tahan panas, dan helm pelindung berat yang melekat di tubuh mereka, tersimpan cerita pengorbanan dan sunyi serta gejolak emosi yang jarang tersorot oleh kamera mediapenonton.
Hari Dwi Aryono (33), seorang anggota tim penyelamat (rescue) yang telah mengabdikan dirinya sebagai petugas di mendedikasikan dirinya di Dinas Pemadam Kebakaran sejak Oktober 2023, menuturkan sisi lain dari profesinya yang menuntut ketahanan mental luar biasa. Selama menjalankan tugas kurang lebih tiga tahun, Hari mengalami berbagai spektrum emosiMenjalani tugas selama kurang lebih tiga tahun memberikan Hari berbagai spektrum emosi yang mendalam, mulai dari rasa bangga yang teramat sangat hingga rasa kecewa yang menyesakkan dada.
“Ketika kami berhasil mengevakuasi, mungkin ada rasa senang dan bangga tersendiri. Tetapi ketika kami gagal mengevakuasi, banyak rasa kecewa yang kita miliki. Adapun momen yang mungkin tidak terduga,” ungkap Hari saat ditemui di pos penjagaan.
Bagi seorang petugas rescue, situasi tak terduga dan risiko mempertaruhkan nyawa bukan lagi hal asingmomen di luar dugaan dan taruhan nyawa bukan lagi hal asing yang mengejutkan. Hari mengenang salah satu kejadian paling dramatis dan pilu yang pernah ia tangani di wilayah Desa Cilongok. Saat itu, seorang ayah dan anak terjebak di dalam sebuah sumur tua yang mengandung gas beracun. Ketika tim penyelamat turun ke dasar sumur yang gelap gulita untuk memberikan pertolongan darurat, saat sang ayah bahkan masih sempat meninggal dunia mengembuskan napas terakhirnya di tengah proses evakuasi yang genting. Begitu tubuh korban ditarik ke permukaan dan diperiksa oleh tim medis, nyawa korban mereka sudah tidak dapat diselamatkantertolong lagi sebuah memori kelam yang hingga hari ini masih membekas kuat dalami ingatan para petugas di lapangan.
Tak hanya berhadapan dengan kobaran api yang panasnya membakar kulit ataupun gas beracun mematikan, tugas tim damkar di era modern kini semakin beragam. Media sosial kerap memuat berbagai kisah unik di luar kasus kebakaran murni yang berujung pada panggilan darurat ke kantor damkar. Mulai dari cincin pernikahan yang tersangkut di jari hingga membengkaknya jari akibat terjepit blok mesin motor, blok mesin motor yang menjepit jari warga, hingga kasus-kasus tak biasa yang dialami anak-anak kecil seperti jari yang masuk ke dalam gagang gayung atau terjebak di tutup sampo.
Lucunya, menurut Hari, banyak warga langsung mendatangi kantor damkar karena rumah sakit atau fasilitas kesehatan kerap merujuk kasus benda yang tersangkut semacam ini langsung kepada tim pemadam kebakaran. Di balik kesigapan merespons berbagai laporan unik tersebut, Hari menyampaikan satu pesan penting kepada masyarakat luas agar lebih bijak dalam membuat laporan sebelum menghubungi pihak damkar.

Petugas Pemadam Kebakaran Kabupaten Banyumas mengecek perlengkapan selang di kompartemen truk pemadam sesaat sebelum bersiap siaga menghadapi panggilan darurat. (Foto: Dok. Desta Hikmah Setyani)
“Kami memang bisa dibilang menerima segala laporan. Namun mohon lebih bijak lagi dalam membuat laporan. Utamakan laporan yang sifatnya mendesak, urgensi seperti membahayakan kondisi yang membahayakan manusia ataupun kondisi hewan. Dalam kondisi tersebut, masyarakat dapat melaporkannya kepada damkar, itu baru bisa laporan ke damkar,” pesan Hari dengan nada tegas.
Kelak, saat sirene merah itu kembali berbunyi di jalanan kota, ingatkanlah diri kita bahwa di balik helm berat dan pakaian tahan api yang pengap, terdapat ada debar jantung manusia biasa dengan yang kemenyimpan rinduan pada rumah. Mereka memilih maju saat semua orang berlari menyelamatkan diri, sebuah bentuk kepahlawanan sejati yang kerap dilakukan dibayar dalam dengan kesunyian.
Penulis: Desta Hikmah Setyani (J1D025099)
Editor : Gesit Adhe Priyana (J1D025115)
