Rabu, 7 Oktober 2026

Menggambar Pola Batik. (Sumber foto: Batik Hadipriyanto)
BANYUMAS, SUDUTNALAR – Selembar kain tidak selalu selesai dalam hitungan hari. Pada batik tulis, proses pengerjaannya dapat berlangsung hingga berminggu-minggu, bahkan sebulan, tergantung pada detail motif yang dibuat. Setiap bagian dikerjakan secara bertahap. Proses pewarnaan pun dapat dilakukan beberapa kali ketika kain memiliki lebih dari dua warna.
Batik Banyumasan menjadi bagian dari proses pembuatan batik yang terus dipertahankan. Di balik motif dan warna pada kain, ada proses panjang yang membutuhkan ketelitian dan kesabaran. Perbedaan jenis dan kerumitan motif membuat waktu pengerjaan setiap kain tidak selalu sama.
Nurul menjelaskan bahwa pembuatan batik tersebut mulai dikembangkan sekitar 2008–2009. Pada masa itu, terdapat peluang untuk mengembangkan batik karena peminat terhadap usaha sebelumnya tidak terlalu banyak. Sejak saat itu, pembuatan batik terus dilakukan dengan berbagai jenis, mulai dari batik cap, batik kombinasi, batik semi tulis, hingga batik full tulis.
Batik tulis membutuhkan waktu paling panjang. Detail motif menjadi salah satu hal yang menentukan lama pengerjaan sebuah kain. Semakin banyak detail yang dibuat, semakin banyak pula tahapan yang harus dilakukan sebelum kain dapat diselesaikan.
“Yang full tulis itu bisa satu kain sampai seminggu, bisa sampai sebulan. Tergantung detailnya,” ujar Nurul.
Tidak hanya menggambar motif, proses pewarnaan juga membutuhkan waktu. Jika warna yang digunakan lebih dari dua, pencelupan dilakukan beberapa kali. Proses membatik pun dapat dilakukan satu sampai tiga kali sesuai dengan kebutuhan. Tahapan yang panjang membuat sebuah kain tidak dapat langsung selesai dalam waktu singkat.
Pembuatan batik dilakukan setiap hari. Untuk motif yang sederhana, pembatik yang sudah terbiasa dapat menghasilkan sekitar dua kain dalam sehari. Jumlah tersebut tetap bergantung pada tingkat detail motif. Semakin rumit pola yang dibuat, semakin panjang pula proses yang harus dilalui.
Batik yang dibuat menggunakan dasar motif Banyumasan. Beberapa motif yang dikenal antara lain muka, bungbul, menggara, dan boboan. Motif-motif tersebut menjadi bagian dari kekhasan batik Banyumasan yang tetap dipertahankan dalam pembuatan kain.
Mempertahankan batik tidak selalu berjalan mudah. Persaingan semakin terasa ketika semakin banyak tempat yang menyediakan batik. Kualitas menjadi hal yang perlu terus diperhatikan agar batik tetap mampu bertahan di tengah persaingan. Keberadaan pengrajin dan proses pembuatan yang terus dilakukan menjadi bagian penting dalam menjaga batik tetap dikenal.
Tantangan juga terasa ketika memasuki masa pandemi. Perubahan keadaan membuat upaya untuk mempertahankan pembuatan batik menjadi lebih berat.
“Setiap bisnis pasti ada kendalanya, apalagi pas pandemi itu sangat terasa. Bagaimana cara kita bisa bangun dan bertahan,” kata Nurul.
Mempertahankan batik tidak hanya berkaitan dengan menghasilkan kain. Ada proses panjang yang harus dijalani, terutama pada batik tulis. Waktu yang dibutuhkan bisa mencapai berminggu-minggu, tetapi proses tersebut tetap dilakukan dengan menyesuaikan detail dan warna pada kain.
Harapan agar batik tetap bertahan juga masih ada. Apa yang telah dibangun selama bertahun-tahun diharapkan tidak berhenti dan dapat terus berkembang. Dengan begitu, proses pembuatan batik dan motif khas Banyumasan dapat terus dikenal oleh masyarakat.
“Harapannya ya ingin maju terus. Jangan sampai bisnis yang sudah lama dibangun itu hilang. Pokoknya berkembang, lebih maju, lebih internasional. Amin,” ujar Nurul.
Selembar batik menyimpan proses yang tidak singkat. Ada ketelitian dalam setiap motif dan kesabaran dalam setiap tahap pembuatannya. Ketika proses tersebut terus dijalankan, batik Banyumasan memiliki kesempatan untuk tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Penulis: Saniya Rahma
Editor: Sabti Ainnur Rahmah
