Nabila Kamilia Putri, 7 Oktober | 19.00 WIB

Inesa Prasasti saat mengajar murid kelas tiga di MI Cokroaminoto Sayangan. (Doc. Pribadi)
BANJARNEGARA, SUDUTNALAR – Jarum jam di dinding ruang kelas tiga MI Cokroaminoto Sayangan, Banjarnegara, menunjukkan pukul 07.15 WIB. Riuh celoteh anak-anak berpadu dengan langkah sepatu datar yang terdengar di atas lantai keramik putih. Di balik meja guru, Inesa Prasasti menyusun tumpukan kertas tugas dengan jemari yang sigap. Gadis berusia 19 tahun itu tersenyum tipis, merapikan kerudungnya sebelum melangkah menghampiri seorang murid yang mengerutkan dahi di sudut meja.
Inesa membungkuk pelan, menyesuaikan tinggi badannya dengan sang murid, lalu menjelaskan kembali materi dengan suara yang tenang dan telaten. Ketika pemahaman mulai terlihat dari raut wajah muridnya, Inesa kembali melangkah mengelilingi barisan meja kayu. Sesekali ia menepuk bahu murid yang mulai kehilangan fokus atau membetulkan posisi duduk mereka. Bagi Inesa, keriuhan kelas bukanlah gangguan, melainkan irama harian yang mewarnai kesehariannya sejak 13 Juli 2026.
Namun, begitu bel pulang sekolah berbunyi pada pukul 11.30 WIB, peran Inesa tak lantas usai. Setelah memeriksa lembar tugas murid, merapikan alat tulis, dan menyusun rencana materi esok hari, ia melangkah pulang bukan untuk beristirahat panjang. Di luar dinding MI Cokroaminoto, Inesa adalah mahasiswi semester tiga Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar di Universitas Terbuka Purwokerto.
Ketika malam tiba dan suasana Banjarnegara makin hening, lampu kamar Inesa menjadi saksi pertukaran perannya. Lembaran buku pelajaran SD berganti dengan diktat kuliah yang tebal. Hari Minggu yang kerap diidentikkan dengan waktu bersantai bersama keluarga atau teman sebaya, justru menjadi puncak kesibukannya untuk mengikuti perkuliahan offline, berdiskusi, dan menuntaskan tenggat tugas akademik.
Menjalani peran ganda di usia muda bukanlah sekadar mengisi waktu luang. Ada dorongan kuat untuk menguji ilmu yang didapat di bangku kuliah secara langsung di lapangan. Ia ingin memahami beragam karakter anak usia sekolah dasar agar kelak benar-benar siap menjadi pendidik profesional. Lebih dari itu, ada niat lain yang ingin diwujudkannya, yaitu meraih kemandirian finansial.

Inesa Prasasti bersama murid-muridnya di MI Cokroaminoto Sayangan. (Dok.Inesa)
Sebagian honor yang ia terima digunakan untuk menyicil biaya kuliah dan mencukupi kebutuhan harian. Hidup terpisah dari sang ibu menempa Inesa untuk menjadi dewasa lebih cepat. Ia enggan terus-menerus membebankan kebutuhan pendidikannya kepada orang tua sekaligus belajar mengelola hidup secara mandiri.
Lelah tentu tak jarang datang. Kelelahan fisik dan mental sesekali membuatnya mengelus dada, bahkan sempat terlintas keinginan untuk menyerah ketika jadwal kuliah dan tugas sekolah bertabrakan.
“Kadang terasa berat karena harus membagi waktu antara mengajar, kuliah, dan beristirahat. Namun, saya berusaha menjalaninya satu per satu,” ungkap Inesa lurus.
Dukungan keluarga menjadi penguat di tengah keletihannya. Orang tua Inesa tak pernah berhenti mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan di tengah padatnya rutinitas harian. Namun, kejutan paling manis kerap datang dari tempat yang tak terduga: murid-muridnya sendiri di sekolah.
Inesa mengenang satu momen hangat ketika ia sempat merasa jengkel karena suasana kelas yang sulit dikondisikan. Keesokan harinya, di atas meja gurunya, tergeletak sepucuk surat sederhana yang ditulis tangan dengan kepolosannya, disertai sebungkus cokelat kecil. Surat permintaan maaf dari anak-anak itu seketika menghapus rasa lelahnya dan menegaskan kembali alasannya bertahan.
Di saat teman-teman sebayanya dapat menikmati masa muda dan berfokus penuh pada dunia perkuliahan, Inesa memilih jalan yang membentuknya menjadi pribadi yang lebih tangguh dan berdedikasi. Bagi Inesa, setiap keringat dan waktu istirahat yang terpangkas merupakan bentuk investasi nyata bagi masa depannya sendiri.
“Semangat selalu, terutama bagi teman-teman yang sedang kuliah sambil bekerja. Jangan menyerah hanya karena prosesnya terasa berat. Percayalah, doa yang kita langitkan, usaha yang kita lakukan, dan perjuangan yang kita jalani hari ini akan menjadi bagian dari perjalanan menuju masa depan. Tetap jalani, tetap berusaha, dan percaya bahwa setiap perjuangan akan membawa hasil,” tuturnya mantap
Pagi kembali menyapa Banjarnegara. Inesa kembali berdiri tegak di depan kelas tiga dengan spidol di jemarinya. Di antara riuh suara anak-anak dan goresan tinta hitam di papan tulis putih, ada seorang anak muda yang tidak hanya sedang mengajar materi pelajaran, tetapi juga sedang merajut masa depannya sendiri dengan kemampuannya sendiri.
