Penulis: Kirania Eka Putri | Narasumber: Firman| Keterangan: Tokoh Inspiratif | Rabu, 7 Oktober 2026 | 17.04 WIB
BANYUMAS, SUDUTNALAR – Senja perlahan merayap di halaman Masjid Baiturrohmah, wilayah RW 5. Di bawah naungan langit yang mulai temaram, gelak tawa dan petikan gitar kecil berpadu dengan desau angin sore. Di tengah pelataran sederhana berbalut karpet tipis itu, Firman duduk bersila, dikelilingi belasan anak muda yang asyik melempar canda. Pria berusia 34 tahun ini bukan sekadar nama yang tertera di struktur organisasi; ia adalah denyut nadi yang menghidupkan kembali gairah 42 jiwa muda dari berbagai latar belakang usia, mulai dari anak SMP, SMA, mahasiswa, hingga mereka yang telah menapaki dunia kerja.

Bapak Firman, Ketua Remaja Masjid Baiturrohmah, berpose dengan mengenakan jas resmi dan peci hitam. (Foto : Firman)
Jejak langkah Firman hingga berada di titik ini bukanlah kisah tentang ambisi kekuasaan, melainkan sebuah panggilan ketulusan yang terpatri tanpa balasan materi. Empat tahun silam, ia menjejakkan kaki di lingkungan tersebut murni sebagai seorang pendatang baru yang asing. Tanpa ada ikatan darah atau akar keluarga di tanah itu, ia tak pernah mematok pamrih. Hari-harinya diisi dengan keikhlasan turun tangan dalam setiap hajatan warga, mulai dari berdiri di balik pengeras suara sebagai pembawa acara hingga dengan sabar, tanpa dibayar, merapikan barisan anak-anak dalam perlombaan kampung. Kesungguhan dan ketulusan tanpa pamrih itulah yang mengetuk hati Pak RW. Ketika tampuk kepemimpinan Remaja Masjid Baiturrohmah mengalami kekosongan sepeninggal ketua lama yang menikah, amanah itu diserahkan kepada Firman, bukan atas dasar popularitas, melainkan buah dari dedikasi sunyinya.
“Awalnya jujur ada rasa canggung yang luar biasa. Saya ini orang luar, pendatang baru, sementara anak-anak muda di sini punya dunianya sendiri,” kenang Firman sambil tersenyum menatap deretan anak mudanya.
Namun, alih-alih duduk di singgasana kekuasaan dengan atribut senioritas yang kaku, Firman menanggalkan sekat-sekat itu. Ia memilih melebur. Ia belajar memahami bahasa para remaja, ikut tertawa dalam candaan mereka, dan dengan sabar sedia mendengarkan setiap keresahan personal anggotanya. Jika ada ide cemerlang dari anak-anak muda ini, Firman sendiri yang dengan gigih membawanya naik ke meja rapat tingkat RW.
“Kalau kita mendatangi anak muda dengan aturan kaku, mereka akan lari. Kuncinya cuma satu: buat mereka nyaman, hargai setiap suara kecil mereka,” tutur Firman, menggambarkan filosofi pengabdiannya yang tulus.

Para anggota Remaja Masjid Baiturrohmah berkumpul di serambi masjid dalam balutan busana muslim setelah mengikuti kegiatan keagamaan. (Foto : Firman)
Di bawah kepemimpinan yang berjalan tulus tanpa mengharapkan materi ini, Remaja Masjid Baiturrohmah tumbuh menjadi sebuah ruang hidup yang merangkul siapa saja. Organisasi nonformal ini berjalan tanpa seleksi birokratis yang rumit. Pintu masjid terbuka lebar bagi siapa pun, dari pelajar, mahasiswa rantau, anak-anak berkebutuhan khusus, hingga warga non-Muslim yang ingin berpartisipasi dalam kerja sosial kemasyarakatan.
Hari-hari mereka diwarnai denyut kebersamaan yang nyata. Setiap bulan Ramadhan tiba, pelataran masjid bergemuruh oleh derap langkah tadarus, kajian sore, dan persiapan buka bersama. Di luar itu, tangan-tangan muda ini bahu-membahu menyukseskan perayaan 17 Agustus, turun ke jalan membersihkan fasilitas umum dalam kerja bakti, hingga merajut kedisiplinan lewat program Mabit (Masa Bina dan Takwa) setiap liburan akhir tahun.
Meski roda organisasi berputar tanpa sokongan anggaran tetap dan hanya mengandalkan ketukan pintu DKM atau pihak RW saat membutuhkan dana, semangat di dalamnya tidak pernah padam oleh keterbatasan. Tanpa gedung markas permanen serta hanya memanfaatkan teras masjid dan ruang tamu rumah warga, ikatan batin yang terajut justru begitu kuat menembus dinding-dinding materi.
Firman masih lekat dalam ingatan saat air mata tumpah dari pipi dua remaja aktif yang harus pindah rumah ke luar kota. Isak tangis perpisahan itu menjadi bukti paling jujur bahwa serambi sederhana tersebut telah berubah wujud menjadi rumah kedua yang sarat hangat kekeluargaan. Melalui kesabaran tanpa batas dan keikhlasan tanpa pamrih, Firman telah membuktikan satu hal: merawat generasi muda tidak butuh panggung yang megah atau bayaran yang tinggi, melainkan ketulusan hati untuk merangkul sesama di atas hamparan asa.
