Skip to content
sudutnalar.com
Menu
  • Beranda
  • Tentang
  • Bahasa
  • Wisata
  • Tips
  • Budaya
  • Teknologi
  • Sosial
  • Politik
  • Sastra
  • Kuliner
  • Hiburan
  • Profile
  • Pendidikan
  • Feature
  • Ekonomi
  • Hukum
Menu

Tanpa Toko, Juna Cake & Cookies Tumbuh dari Dapur Rumah

Posted on Oktober 9, 2026Oktober 9, 2026 by dava hanif

Rabu, 7 Oktober 2026 | Penulis: Diah Verra Wati

Dokumentasi produk Juna Cake

(sumber: facebook Dewi Intansari)

PEMALANG, SUDUT NALAR – Aroma mentega dan vanila perlahan memenuhi sebuah rumah sederhana ketika Dewi Intansari mulai menyiapkan pesanan kue. Di atas meja dapur, tepung, telur, gula, dan mentega telah tersusun. Mixer sesekali menyala, sementara beberapa loyang menunggu digunakan. Pagi itu, dapur rumah kembali berubah menjadi ruang produksi kecil untuk Juna Cake & Cookies.

Dewi Intansari merupakan ibu rumah tangga yang menjalankan usaha kue rumahan bernama Juna Cake & Cookies di Desa Surajaya, Kecamatan Pemalang, Kabupaten Pemalang. Rumahnya berada di lingkungan permukiman yang tidak langsung menghadap jalan besar. Tidak ada banner, papan nama, ataupun etalase yang menandai rumah tersebut sebagai tempat usaha.

Bagi orang yang baru pertama kali datang, rumah itu mungkin terlihat seperti rumah pada umumnya. Namun, dari dapur sederhana itulah usaha kue tersebut dijalankan. Produksi tidak dilakukan setiap hari, melainkan ketika ada pesanan atau saat pemiliknya membuka open PO.

“Kalau ada pesanan baru saya membuat kue. Kadang saya juga buka PO, jadi kalau sudah ada yang pesan baru saya produksi,” kata Dewi saat ditemui di rumahnya, Rabu (7/10/2026).

Pada hari tanpa pesanan, dapur kembali menjadi tempat menyiapkan kebutuhan keluarga. Namun, ketika pesanan masuk, suasananya berubah. Peralatan membuat kue dikeluarkan, bahan-bahan ditimbang, dan meja dapur digunakan untuk mengolah hingga mengemas pesanan.

Juna Cake bermula dari kebiasaan membuat kue untuk keluarga. Kegemaran tersebut kemudian perlahan berkembang menjadi usaha setelah beberapa tetangga mencicipi hasil buatannya dan mulai melakukan pemesanan untuk berbagai acara keluarga.

“Awalnya cuma buat keluarga. Terus ada tetangga yang mencoba dan bilang kuenya enak. Setelah itu mulai ada yang pesan untuk acara,” ujarnya.

Dari sana, pesanan mulai datang dengan beragam jenis kue, seperti brownies, bolu, dan kue ulang tahun. Sistem PO juga diterapkan untuk beberapa jenis kue agar jumlah produksi dapat disesuaikan dengan permintaan pelanggan.

Informasi mengenai PO biasanya disebarkan melalui WhatsApp dan media sosial. Foto kue yang telah dibuat menjadi cara untuk memperkenalkan produk kepada calon pelanggan. Tanpa toko dan banner, media sosial berfungsi sebagai etalase bagi Juna Cake.

Pelanggan baru juga datang melalui rekomendasi dari orang-orang yang sebelumnya pernah memesan. Cerita mengenai rasa dan kualitas kue kemudian berpindah dari satu orang ke orang lain.

“Banyak juga yang tahu dari teman atau tetangga. Ada pelanggan yang sudah pernah pesan, lalu merekomendasikan ke orang lain,” katanya.

Cara promosi tersebut membuat usaha tetap dapat berjalan meskipun berada di lingkungan permukiman. Selama pelanggan mengetahui kontak dan melihat produk yang ditawarkan, pemesanan dapat dilakukan tanpa harus datang ke toko.

Kesibukan biasanya meningkat menjelang Lebaran. Jika pada hari biasa produksi lebih banyak menyesuaikan pesanan atau PO, menjelang Idulfitri permintaan kue kering mulai bertambah.

Nastar, kastengel, dan beberapa jenis kue kering lainnya dibuat dalam jumlah lebih banyak. Adonan disiapkan, dicetak, dipanggang, kemudian dimasukkan ke dalam stoples sebelum diberikan kepada pelanggan.

“Kalau menjelang Lebaran biasanya lebih ramai. Banyak yang pesan kue kering untuk di rumah atau untuk diberikan kepada keluarga,” tuturnya.

Meningkatnya pesanan berarti bertambah pula waktu yang harus dihabiskan di dapur. Di tengah kesibukan tersebut, pekerjaan rumah tangga tetap harus diselesaikan. Ketika kue berada di dalam oven, waktu yang ada dimanfaatkan untuk mengerjakan keperluan lainnya.

“Yang paling sulit itu membagi waktu. Kalau pesanannya banyak, pekerjaan rumah juga tetap harus jalan,” katanya.

Juna Cake dirintis dengan memanfaatkan peralatan yang sudah tersedia di rumah. Belum adanya toko maupun dapur produksi khusus membuat usaha dijalankan sesuai kemampuan dan jumlah pesanan yang diterima.

Harga bahan baku yang berubah-ubah juga menjadi salah satu tantangan. Telur, tepung, gula, dan mentega merupakan bahan yang harus diperhitungkan agar harga jual tetap sebanding dengan biaya produksi.

Meski begitu, kualitas kue tetap menjadi perhatian. Mengurangi bahan bukan pilihan yang diambil hanya untuk menekan biaya produksi karena kepuasan pelanggan dianggap penting untuk mempertahankan kepercayaan.

“Saya lebih memilih menyesuaikan jumlah atau jenis pesanan daripada mengurangi kualitas bahan. Kalau pelanggan sudah percaya, kepercayaan itu harus dijaga,” ujarnya.

Bagi pemiliknya, Juna Cake bukan sekadar kegiatan membuat dan menjual kue. Usaha tersebut menjadi cara untuk tetap produktif dari rumah sekaligus membantu perekonomian keluarga.

Tidak ada keinginan untuk membuat usaha itu langsung berkembang besar dalam waktu singkat. Juna Cake dijalankan secara perlahan dengan tetap mempertahankan pelanggan yang sudah ada.

“Saya tidak harus langsung besar. Yang penting usaha ini tetap berjalan. Kalau suatu saat bisa punya tempat produksi sendiri dan membuka pekerjaan untuk orang lain, saya tentu senang,” katanya.

Menjelang siang, beberapa kotak pesanan telah tersusun rapi di atas meja. Kue yang dibuat sejak pagi siap diantar kepada pelanggan. Setelah memastikan semuanya lengkap, peralatan yang digunakan mulai dibereskan.

Dapur kembali seperti semula. Mixer berhenti, loyang disusun kembali, dan meja yang sebelumnya dipenuhi bahan kue perlahan kosong.

Tidak ada banner yang perlu diturunkan. Tidak ada etalase yang harus ditutup. Juna Cake kembali menjadi sebuah rumah sederhana di lingkungan yang jauh dari keramaian jalan besar.

Namun, ketika pesanan berikutnya datang atau open PO kembali diumumkan, dapur itu akan kembali hidup.

Dari rumah sederhana tanpa papan nama, Juna Cake tumbuh dengan cara yang tidak rumit melalui satu pesanan, satu unggahan di media sosial, dan satu rekomendasi pelanggan kepada orang lain. Dari sanalah, usaha kecil itu perlahan menemukan jalannya sendiri.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

Berita Terbaru

  • Dulu Semalam Suntuk, Kini Sekadar Pembuka Acara: Cerita Lengger dari Rumah Lengger Banyumas
    By bagus aji
    Oktober 9, 2026
    Lukisan penari lengger dan seperangkat calung di sudut […]
  • Gemblong Ocar-Acir di Tengah Perubahan Selera Generasi Muda
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Penulis: Erdi Aqil Fauzan | Keterangan: Feature, […]
  • Ketika Krama Inggil Perlahan Kehilangan Suara di Patikraja
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Oleh: Farah Nasywa Nurrahma | Narasumber: Mareta & […]

Pendidikan

  • SMA Muhammadiyah Sokaraja Benahi Manajemen untuk Pulihkan Kepercayaan Masyarakat
    By shafrifa aulia
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Keterbatasan Perpustakaan Tak Padamkan Semangat Membaca, Pojok Literasi Jadi Solusi bagi Murid UPTD SDN 3 Kedungdawa
    By calista aneen
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Kopi dan Laptop: Cerita Mahasiswa Unsoed Menghadapi Tenggat Tugas Tengah Semester
    By athaya qila
    Pendidikan
    September 29, 2026

Bahasa

  • Mengenal Dunia Inklusif Melalui Kelas Bahasa Isyarat Himpunan Mahasiswa KIP-K Unsoed
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Terbaru
    September 21, 2026
  • Usung Tema “Citta Karya”, Seminar Kepenulisan 2026 Hadirkan Luluk HF, Penulis “Mariposa”
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Berlangsung 14–16 September
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Hiburan, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Dibuka, Wabup Dorong Budaya Baca Masyarakat
    By akt 24
    Bahasa Bahasa, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Hadirkan Beragam Stan Literasi
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan
    September 21, 2026

Kuliner

  • Segelas Dawet Ayu, Rezeki yang Tak Tertukar
    By Hanunah Mumtaz
    Feature, Kuliner, Sosial
    Oktober 8, 2026
  • Makaroni Tasik Mang Dadang, Kuliner Pedas Hits di Purwokerto
    By Hanunah Mumtaz
    Kuliner
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Wisata

  • Riak Sang Penyu, Potret Kehidupan di Kawasan Konservasi
    By kelasB
    Pendidikan, Wisata
    September 21, 2026
  • Sabtu Malam, Kawasan Malioboro Dipenuhi Wisatawan
    By akt 24
    Wisata
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Sudut Nalar

Media pemberitaan mahasiswa
Hasil praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman

Tautan

Tentang Kami
Susunan Redaksi
Pedoman Media Siber
Kirim Tulisan
Arsip Berita.

Tentang

Diterbitkan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman, sebagai bagian dari praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Dosen Pengampu : Dr. Memet Sudaryanto, M.Pd.

©2026 sudutnalar.com | Design: Newspaperly WordPress Theme