Penulis: Rusmahendrati Kencana Rukmi | Narasumber: Febby Trias Mukti | Keterangan: Feature News | Rabu, 7 Oktober 2026 | 14.00 WIB

Febby Trias Mukti, seorang bidan dan pemilik Juwara Baby Spa & Mom Care (Dok. Koleksi Febby)
BANYUMAS, SUDUTNALAR – Seorang anak berusia 15 bulan berdiri dengan kedua tangan masih berpegangan. Kakinya mencoba melangkah, tetapi tubuhnya belum mampu menjaga keseimbangan. Di sampingnya, Febby Trias Mukti mengamati setiap gerakan sambil mengarahkan anak itu untuk mencoba lagi.
Pertemuan pertama belum membuahkan hasil. Pada pertemuan berikutnya, anak itu masih membutuhkan pegangan. Febby tetap mengulangi latihan dan mengajak orang tua ikut mendampingi agar latihan dapat dilanjutkan di rumah.
Hingga pada pertemuan ketiga, pegangan itu akhirnya dilepaskan. Anak tersebut berhasil melangkah sendiri. Momen itu menjadi salah satu pengalaman yang berkesan selama Febby menjalani profesinya sebagai bidan. Baginya, proses tersebut adalah bukti bahwa perkembangan seorang anak membutuhkan waktu, latihan, dan pendampingan.
Ketertarikan Febby pada bayi dan anak sudah muncul sejak masa kuliah.
“Sejak kuliah memang sudah ada rencana dan keinginan jadi bidan karena saya suka anak kecil dan bayi,” ujar Febby.
Setelah menjadi bidan, Febby melihat bahwa pekerjaannya tidak terbatas di lingkungan rumah sakit, klinik, atau puskesmas. Ia kemudian memilih mengembangkan kebidanan komplementer melalui pijat bayi dan pendampingan tumbuh kembang anak. Dari sebuah ruangan kecil di rumah, Juwara Baby Spa & Mom Care mulai dirintis.
Untuk memperkenalkan jasanya, Febby tidak menunggu pasien datang. Ia mendatangi posyandu di desanya hingga ke desa-desa tetangga.
“Harus bisa capai. Waktu awal memulai pun saya keliling ke posyandu-posyandu di desa, lalu ke desa tetangga,” katanya.
Tidak semua masyarakat langsung terbiasa dengan kehadiran bidan dalam perawatan anak. Sebagian masih lebih percaya kepada dukun bayi. Febby kemudian memperkenalkan peran bidan dan menjelaskan pentingnya perawatan yang tepat bagi ibu dan bayi. Ia terus datang dan berinteraksi dengan masyarakat hingga semakin banyak yang mengenal jasanya.
Usaha yang dimulai dari rumah itu kemudian berkembang. Selain melayani pasien di tempat, Febby menerima layanan home care dan mendatangi rumah pasien. Ia membawa perlengkapan kerjanya dari satu rumah ke rumah lainnya, menghadapi jarak dan cuaca yang tidak selalu bersahabat.
Musim hujan menjadi salah satu pengalaman yang masih ia ingat.
“Dulu waktu musim hujan tuh luar biasa, hampir setiap hari pasti pulang sore kehujanan. Sampai rumah basah kuyup,” tuturnya.
Di antara perjalanan dari rumah ke rumah, ada pengalaman bersama seorang bayi yang terus melekat dalam ingatannya. Febby pernah mendampingi bayi tersebut sejak berusia sekitar tiga hari hingga enam bulan. Ia menjadi orang pertama yang memijat dan memandikan bayi itu di rumah.
Dari waktu ke waktu, Febby melihat perubahan yang terjadi. Bayi yang sebelumnya hanya berbaring mulai tengkurap, kemudian mampu duduk. Perubahan itu berlangsung sedikit demi sedikit.
Perhatian Febby tidak berhenti pada bayi. Dalam kondisi tertentu, ia memberikan layanan gratis atau potongan harga kepada keluarga yang memiliki keterbatasan ekonomi. Ia juga mengingatkan orang tua untuk terus belajar dan bersabar dalam mendampingi tumbuh kembang anak.
“Ibu itu harus bahagia, karena kalau ibu sehat dan bahagia, anak juga akan ikut merasakan kebahagiaan,” tuturnya.
Kini, Juwara Baby Spa & Mom Care menjadi tempat Febby menjalankan profesinya. Sementara itu, layanan home care membuatnya tetap berpindah dari satu rumah pasien ke rumah lainnya. Setiap kunjungan mempertemukannya dengan keluarga dan tahapan tumbuh kembang yang berbeda.
“Menjadi bidan itu salah satu panggilan hati,” kata Febby.
Bertahun-tahun menjalani profesi itu membuat Febby terus berada di antara cerita ibu dan anak. Ada bayi yang baru belajar tengkurap, bayi yang mulai mampu duduk, hingga anak yang sedang belajar berdiri tanpa pegangan.
Proses tumbuh tidak selalu ditandai oleh perubahan besar. Terkadang, kemajuan hadir dalam gerakan sederhana yang mungkin hanya berlangsung beberapa detik. Seperti ketika seorang anak akhirnya melepaskan pegangan, berdiri sendiri, lalu mengambil langkah pertamanya.
