Penulis: Rezza Firmanto | Narasumber: Tukadi | Keterangan: Feature News | Kamis, 8 Oktober 2026 | 11.30 WIB

Tukadi, 58 tahun, tetap menekuni usaha Cilok U-NIK Pentol yang dirintisnya sejak 2019. Dari satu gerobak, usahanya kini berkembang menjadi enam gerobak di sejumlah titik di Banyumas. Dokumentasi: Rezza Firmanto.
BANYUMAS, SUDUTNALAR- Gerobak berwarna merah dengan tulisan “CILOK U-NIK PENTOL” itu menjadi pemandangan yang mudah dikenali di sejumlah titik di Banyumas. Warna tersebut bukan dipilih tanpa alasan. Tukadi, penjual cilok berusia 58 tahun, sengaja memilih warna yang berbeda agar dagangannya mudah dikenali. Seluruh gerobak miliknya dibuat dengan warna dan tampilan yang sama.
Di balik gerobak sederhana itu, Tukadi menjalani perjalanan panjang sebelum usahanya dikenal banyak orang. Tangannya masih sibuk melayani pembeli, menyiapkan cilok dan pelengkapnya. Di atas gerobak, perlengkapan jualan tertata untuk melayani pembeli yang datang. Ia tidak hanya mengandalkan cabang-cabang yang sudah dimiliki. Sesekali, pria tersebut masih berjualan keliling dengan gerobaknya sendiri.
Sebelum menetap di Banyumas, Tukadi sempat merantau ke Bandung ketika masih muda. Di sana, ia bekerja sebagai penjual obat di sebuah perusahaan farmasi. Dalam perjalanan hidupnya, ia kemudian bertemu dengan perempuan yang menjadi istrinya. Setelah menikah dirinya menetap di Banyumas dan dikaruniai dua orang anak.
Sebagai kepala keluarga, ia terus mencari cara untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Tukadi pernah berjualan siomay. Namun, usaha tersebut menghadapi persaingan yang cukup banyak. Banyaknya penjual membuatnya harus mencari peluang lain agar tetap dapat memperoleh penghasilan.
Kesulitan semakin terasa ketika kedua anaknya memasuki jenjang SMK. Pada waktu yang hampir bersamaan, mertuanya mengalami stroke. Kebutuhan keluarga bertambah, sedangkan penghasilan yang diperoleh belum selalu mencukupi.
“Saat itu pernah kesulitan membayar uang SPP sekolah, dan saat itu juga mertua saya mengalami stroke,” ungkapnya.
Kondisi tersebut tidak membuatnya berhenti berusaha. Pada 2019, kemudian mulai berjualan cilok. Pada awalnya, ia menjalankan usaha tersebut seorang diri. Dengan satu gerobak berkeliling mencari pembeli. Lingkungan sekolah menjadi salah satu tempat yang ia datangi karena cilok banyak diminati anak-anak dan pelajar.

Tukadi melayani pelanggan Cilok U-NIK Pentol di Banyumas. Dokumentasi: Rezza Firmanto.
Perjalanan dari satu pembeli ke pembeli lain perlahan mulai membawa perubahan. Cilok buatan Tukadi mendapat perhatian setelah sejumlah orang membuat konten dan memberikan ulasan di media sosial. Mahasiswa juga ikut melakukan review. Promosi dari mulut ke mulut dan media sosial membuat ciloknya semakin dikenal. Pembeli tidak hanya berasal dari Banyumas. Orang dari luar daerah, termasuk Purbalingga, juga datang untuk membeli.
Dari usaha yang awalnya hanya dijalankan dengan satu gerobak, Cilok U-NIK Pentol kemudian berkembang. Kini Tukadi memiliki enam gerobak dengan beberapa titik penjualan di Banyumas. Gerobak tersebut dapat ditemui di depan Toko Yogi Banyumas, belakang SMK Negeri 3 Banyumas, depan SMP PGRI 1 Somagede, kawasan Auto Body Shop arah Alun-Alun Banyumas, serta di kantin SMA Negeri 1 Banyumas. Selain berjualan di titik-titik tersebut, Tukadi masih menjalankan aktivitas berjualan keliling.
Perkembangan itu turut terlihat dari omzet usahanya. Dari seluruh cabang, omzet Cilok U-NIK Pentol mencapai sekitar Rp4 juta per hari. Bagi Tukadi, angka tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang yang sebelumnya dimulai dari satu gerobak dan usaha yang dijalankan seorang diri.
Seiring meningkatnya permintaan, proses produksi juga harus menyesuaikan. Pedagang cilok yang berumur 58 tahun tersebut lalu meminjam uang ke bank untuk membeli mesin pembuat cilok. Sebelumnya, cilok dibuat secara manual menggunakan tangan. Ia juga meningkatkan kapasitas listrik di rumahnya di Desa Kedunggede, Banyumas, agar kegiatan produksi dapat berjalan dengan lebih baik.
Usaha yang awalnya hanya menjadi jalan keluar untuk memenuhi kebutuhan keluarga kini turut membuka kesempatan kerja bagi orang lain. Tukadi telah memiliki tujuh karyawan. Mereka membantu kegiatan produksi dan penjualan di cabang-cabang yang dimilikinya.

Cilok menjadi produk utama yang dijual Tukadi melalui usaha Cilok U-NIK Pentol. Dokumentasi: Rezza Firmanto.
Meski usahanya sudah berkembang, Ia tetap tidak melupakan bagaimana ia memulainya. Ia masih mau turun langsung berjualan dan bertemu dengan pembeli. Baginya, masukan dari pelanggan juga penting untuk mempertahankan dan memperbaiki kualitas usahanya.
“Misalnya ada kekurangan apa atau kritik ke saya silakan disampaikan karena saya suka masukan dari teman-teman, khususnya pembeli,” ujarnya.
Dari gerobaknya, pria tersebut juga belajar bahwa usaha tidak selalu dimulai dari keadaan yang besar. Baginya, kesempatan dapat muncul dari pekerjaan yang sederhana selama seseorang mau menjalaninya dengan tekun dan tidak mudah menyerah. Karena itu, ia memiliki pesan khusus bagi pelajar dan mahasiswa yang mungkin masih merasa gengsi untuk memulai usaha.
“Maaf ya, kalau Anda pelajar maupun mahasiswa, jangan pernah malu atau gengsi untuk memulai. Mulailah, contohnya dengan jualan, menjadi reseller,” pesan Tukadi.
Pesan itu sederhana, tetapi perjalanan hidupnya membuatnya terasa lebih kuat. Ia pernah merasakan sulitnya memenuhi kebutuhan sekolah anak dan menghadapi persoalan keluarga. Ia pernah mendorong satu gerobak seorang diri untuk mencari pembeli. Namun, dari langkah kecil itu, usahanya perlahan berkembang hingga memiliki enam gerobak, tujuh karyawan, dan omzet sekitar Rp4 juta per hari.
Di usia 58 tahun, dirinya masih memilih untuk terus bergerak, ia juga tidak ingin melihat pekerjaan dari seberapa tinggi gengsinya, tetapi dari seberapa besar kemauan seseorang untuk berusaha. Gerobak merah yang dahulu menjadi awal perjuangannya kini bukan sekadar tempat menjual cilok. Gerobak itu menjadi saksi bahwa usaha yang dimulai dari bawah tetap memiliki kesempatan untuk tumbuh.
Bagi Tukadi, memulai dari hal-hal kecil bukan sesuatu yang memalukan. Sebab, sebuah keberhasilan tidak selalu lahir dari langkah yang besar. Kadang, ia justru dimulai dari satu gerobak, keberanian menawarkan dagangan kepada orang lain, dan kemauan untuk tidak pernah gengsi memulai dari bawah.
Penulis : Rezza Firmanto
