Penulis: Nasywa Putri Cahyarani | Narasumber: Minah | Keterangan: Feature News | Rabu, 6 Oktober 2026 | 05.21 WIB

Aktivitas Bu Minah di lapaknya. (Dok. Pribadi Nasywa Putri Cahyarani, 6 Oktober 2026)
BANYUMAS, SUDUTNALAR — Bau khas pasar bercampur dengan aktivitas para pedagang yang mulai sibuk sejak pagi. Di salah satu lapak, Minah, 55 tahun, sudah memulai pekerjaannya sejak pukul 02.00 dini hari. Sekitar pukul 03.00, ia tiba di pasar untuk menunggu kiriman ayam. Setelah ayam datang, ia mulai memotong sesuai pesanan, membersihkan daging, dan menata dagangannya. Memasuki pukul 04.00, lapaknya sudah siap melayani pembeli pertama.
Rutinitas tersebut telah dijalani Minah selama kurang lebih 15 tahun. Berjualan ayam potong bukan sekadar pekerjaan baginya, tetapi menjadi sumber utama penghasilan keluarga.
“Awal mulanya dulu saya cuma bantu-bantu di lapak orang. Pas suami sakit-sakitan dan anak-anak masih butuh biaya sekolah, saya nekat pinjam modal kecil-kecilan buat buka lapak sendiri dari nol,” ujar Minah.
Ketika pertama kali membuka usaha, Minah hanya berani membawa sekitar 10–15 ekor ayam setiap hari. Dengan modal yang terbatas, ia perlahan menjalankan usahanya dan membangun pelanggan sendiri.
Kesibukan di lapaknya paling terasa sejak subuh hingga sekitar pukul 08.00. Ibu-ibu rumah tangga, pedagang sayur keliling, dan pemilik warung makan menjadi beberapa pelanggan yang datang pada pagi hari. Setelah pukul 09.00, kondisi mulai lebih sepi dan Minah biasanya menunggu pembeli eceran yang datang kemudian.
Untuk memulai aktivitasnya setiap hari, Minah harus memastikan berbagai perlengkapan tersedia. Pisau yang tajam, talenan, timbangan, es batu, hingga kantong plastik menjadi bagian dari persiapannya. Kebersihan lapak dan kesegaran daging juga menjadi hal yang harus diperhatikan.
Di balik aktivitas tersebut, ada berbagai tantangan yang harus dihadapi. Ayam sebagai barang dagangan yang mudah rusak membuat Minah harus berhati-hati ketika pembeli sedang sepi. Ia belum memiliki freezer berukuran besar untuk menyimpan stok dalam waktu lama.
“Tantangan paling berat itu kalau daging ayam mulai memerah karena sepi pembeli, atau pas harga dari kandang mendadak melonjak tinggi,” katanya.
Hari sepi biasanya terjadi ketika hujan deras sejak subuh atau saat memasuki tanggal tua. Jika masih terdapat ayam yang tersisa hingga sore, Minah memilih menawarkan dagangannya kepada pelanggan warung makan atau pembuat bakso dengan harga modal. Menurutnya, yang terpenting dagangan habis dan modal dapat kembali berputar untuk berjualan keesokan harinya.
Kenaikan harga ayam juga menjadi persoalan tersendiri. Minah harus mempertimbangkan kondisi pembeli sekaligus menjaga agar usahanya tetap berjalan.
“Mau naikin harga, kasihan pembeli dan takut mereka lari. Nggak dinaikin, saya yang rugi,” ujarnya.
Meski menghadapi berbagai kesulitan, ada satu pengalaman yang masih diingat Minah sejak awal berjualan. Saat itu, seorang pelanggan datang membeli ayam untuk keperluan syukuran, tetapi lupa membawa dompet. Minah tetap memberikan ayam tersebut dan membolehkan pelanggan membayarnya kemudian.
Beberapa hari setelahnya, pelanggan tersebut kembali bukan hanya untuk membayar, tetapi juga membawa oleh-oleh. Sejak saat itu, ia menjadi salah satu pelanggan setia Minah hingga sekarang.
Penghasilan dari berjualan ayam digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, mulai dari makan sehari-hari, membayar kontrakan, hingga sebelumnya membantu biaya sekolah anak-anak. Sebagian penghasilan juga disisihkan untuk tabungan darurat. Setelah suaminya tidak lagi bisa melakukan pekerjaan berat, usaha tersebut menjadi semakin penting bagi kehidupan keluarganya.
Menjalani pekerjaan selama bertahun-tahun tentu tidak selalu mudah. Tangan yang terkadang teriris, dinginnya air es, serta kaki yang pegal menjadi bagian dari keseharian Minah. Namun, ia tetap memilih bertahan karena keluarga menjadi alasan terbesarnya.
“Yang bikin saya tetap bertahan ya anak-anak dan cucu. Walau tangan sering teriris, dingin kena air es tiap subuh, dan kaki pegal-pegal, begitu ingat kebutuhan rumah tangga dan bisa bantu anak, rasa capek langsung hilang,” tuturnya.
Ke depan, Minah berharap usaha yang telah dijalaninya selama 15 tahun dapat terus berjalan. Ia ingin memiliki freezer sendiri agar penyimpanan ayam lebih aman. Untuk keluarganya, harapannya sederhana, yaitu melihat anak dan cucunya memiliki kehidupan yang lebih baik.
Kisah Minah menunjukkan bahwa setiap pekerjaan memiliki perjuangannya masing-masing. Dari rutinitas yang dimulai sejak dini hari, ia mengajarkan arti ketekunan, tanggung jawab, dan pantang menyerah dalam menghadapi keadaan. Kesulitan tidak selalu menjadi alasan untuk berhenti, selama masih ada keluarga yang harus diperjuangkan dan harapan yang ingin diwujudkan. Dari sebuah lapak sederhana, Minah membuktikan bahwa kerja keras dan keteguhan hati dapat menjadi bekal untuk terus bertahan dan melangkah ke depan.
