Penulis: Inas Hanin Bachrullah | Narasumber: Sumiran | Keterangan: Feature News | Selasa, 6 Oktober 2026 | 15.29 WIB

Sumber: Dok. Pribadi
CILACAP, SUDUTNALAR — Menjelang pukul 16.00, deretan sepatu masih berjajar di atas sebuah kotak kayu berwarna hijau yang catnya mulai mengelupas. Sepatu kulit cokelat dengan sol yang aus, kets hitam berujung putih, hingga kets putih bertali menunggu giliran untuk diperbaiki.
Di belakang deretan sepatu itu, Sumiran duduk di kursi kayu kecil di emperan Toko Muncul Elektronik, Jalan Jenderal A. Yani, Kroya. Topi cokelat menaungi kepalanya, sementara kacamata bertengger di wajahnya. Kedua tangannya sesekali bergerak memeriksa sepatu di dekatnya. Kakinya yang kurus tanpa alas menyilang santai di atas lantai keramik, sementara sepasang sandal tergeletak tidak jauh dari kursinya.
Di tempat sederhana itulah Sumiran menghabiskan sebagian besar waktunya. Sejak 1965, ketika usianya sekitar sembilan tahun, ia mulai memperbaiki sepatu. Kini, di usia 70 tahun, ia masih menekuni keterampilan yang dipelajarinya dari sang ayah.

Sumber: Dok. Pribadi
Keterampilan itu tidak diperoleh dari sekolah atau tempat kursus. Ia belajar langsung dari ayahnya. Sejumlah peralatan seperti catut, tang, dan amleng tersimpan di antara perlengkapan kerjanya. Benang nilon pun dipilih sesuai warna dan jenis sepatu.
“Kalau yang hitam, hitam. Kalau yang kulit, kulit. Kalau yang putih, putih,” ujarnya.
Cara kerjanya pun berubah seiring waktu. Dahulu, sol sepatu dipasang menggunakan paku. Kini, ia lebih banyak menggunakan lem dan jahitan.
“Dulu solnya dipaku. Kalau sekarang dilem, dijahit,” katanya sambil memutar sebuah sepatu di tangannya.
Perjalanan Sumiran tidak sepenuhnya berlangsung di depan kotak kayu hijau itu. Pada 1970, ia meninggalkan pekerjaan memperbaiki sepatu dan menjadi kernet truk selama sekitar empat tahun. Ketika ditanya mengapa berhenti, jawabannya singkat.
“Tidak betah,” ujarnya.
Setelah itu, ia sempat bekerja di sebuah proyek di sekitar Benteng Pendem, Cilacap. Setelah beberapa waktu, ia kembali menekuni pekerjaan yang sejak kecil dikenalnya.
Setiap hari, Sumiran datang sekitar pukul 07.00 dan bekerja hingga pukul 16.00. Selama hampir sembilan jam, ia duduk di tempat yang sama sambil menunggu orang membawa sepatu yang membutuhkan perbaikan. Jumlah sepatu yang datang tidak selalu sama.
“Kadang lima, kadang sepuluh, kadang lima belas. Tidak menentu,” ujarnya.
Penghasilannya pun mengikuti jumlah pelanggan. Dalam sehari, ia memperoleh sekitar Rp50.000 hingga Rp150.000, bergantung pada jumlah dan jenis sepatu yang diperbaiki.
“Kadang 50, kadang 75, kadang 100, kadang 150,” ujarnya.
Ia menunjuk bagian sol pada salah satu sepatu di dekatnya. Melepas bagian tersebut, menurutnya, menjadi salah satu pekerjaan yang paling sulit.
“Yang ini, membuang bagian ini yang sulit,” katanya.
Sepatu proyek lebih merepotkan karena bagian ujungnya dilengkapi pelindung besi. Selain jenis sepatu, usia yang kian bertambah membuat pekerjaan terasa lebih berat karena tenaganya tidak lagi seperti dulu.
“Sudah tua, tenaganya sudah berkurang, Mbak.”
Meski pekerjaan tidak selalu ramai, Sumiran tetap datang setiap hari. Dari pekerjaan itulah ia menghidupi keluarganya. Ia memiliki lima anak, empat laki-laki dan satu perempuan. Dua anak laki-lakinya kini bekerja sebagai penjahit.
Ketika ditanya tentang istrinya, Sumiran menjawab pendek.
“Istri saya sudah meninggal.”
Menjelang sore, suasana di emperan itu perlahan berubah. Beberapa sepatu telah selesai diperbaiki, sementara yang lain masih menunggu dijahit atau diambil pemiliknya. Di depan tempatnya bekerja, orang-orang terus berlalu-lalang dengan langkah masing-masing.
Di antara orang-orang yang datang dan pergi, Sumiran telah menyaksikan banyak perubahan. Kawan-kawan yang dahulu memulai pekerjaan serupa bersamanya kini tidak lagi berada di tempat itu.
“Teman saya yang seangkatan sudah meninggal semua,” katanya pelan.
Ia terdiam sejenak sebelum mengulang kalimat terakhirnya.
“Tinggal saya.”
Selepas pukul 16.00, sepatu-sepatu di atas kotak hijau diambil pemiliknya satu per satu, pergi dengan sol yang kembali kokoh. Sumiran memasukkan kakinya ke sepasang sandal tipis dan merapikan kursi kayu kecilnya. Emperan itu perlahan kembali sepi.
Besok pukul tujuh, ia akan duduk di sana lagi. Kotak kayu hijau akan kembali dipenuhi sepatu yang menunggu diperbaiki, sementara tang, catut, benang, dan perlengkapan kerjanya kembali menemani rutinitas yang telah dijalaninya selama puluhan tahun.
Dari sekian orang yang dulu memulai bersamanya, kini hanya ia yang masih duduk di kursi itu. Hampir enam dekade ia memperbaiki sepatu agar orang lain dapat terus melangkah, sementara kawan-kawan yang memulai bersamanya telah lama berhenti melangkah.
