Skip to content
sudutnalar.com
Menu
  • Beranda
  • Tentang
  • Bahasa
  • Wisata
  • Tips
  • Budaya
  • Teknologi
  • Sosial
  • Politik
  • Sastra
  • Kuliner
  • Hiburan
  • Profile
  • Pendidikan
  • Feature
  • Ekonomi
  • Hukum
Menu

Menjahit Langkah Orang Lain: Hampir Enam Dekade Sumiran di Emperan Kroya

Posted on Oktober 8, 2026Oktober 9, 2026 by Erdi Aqil Fauzan

Penulis: Inas Hanin Bachrullah | Narasumber: Sumiran | Keterangan: Feature News | Selasa, 6 Oktober 2026 | 15.29 WIB

Sumber: Dok. Pribadi

CILACAP, SUDUTNALAR — Menjelang pukul 16.00, deretan sepatu masih berjajar di atas sebuah kotak kayu berwarna hijau yang catnya mulai mengelupas. Sepatu kulit cokelat dengan sol yang aus, kets hitam berujung putih, hingga kets putih bertali menunggu giliran untuk diperbaiki.

Di belakang deretan sepatu itu, Sumiran duduk di kursi kayu kecil di emperan Toko Muncul Elektronik, Jalan Jenderal A. Yani, Kroya. Topi cokelat menaungi kepalanya, sementara kacamata bertengger di wajahnya. Kedua tangannya sesekali bergerak memeriksa sepatu di dekatnya. Kakinya yang kurus tanpa alas menyilang santai di atas lantai keramik, sementara sepasang sandal tergeletak tidak jauh dari kursinya.

Di tempat sederhana itulah Sumiran menghabiskan sebagian besar waktunya. Sejak 1965, ketika usianya sekitar sembilan tahun, ia mulai memperbaiki sepatu. Kini, di usia 70 tahun, ia masih menekuni keterampilan yang dipelajarinya dari sang ayah.

Sumber: Dok. Pribadi

Keterampilan itu tidak diperoleh dari sekolah atau tempat kursus. Ia belajar langsung dari ayahnya. Sejumlah peralatan seperti catut, tang, dan amleng tersimpan di antara perlengkapan kerjanya. Benang nilon pun dipilih sesuai warna dan jenis sepatu.

“Kalau yang hitam, hitam. Kalau yang kulit, kulit. Kalau yang putih, putih,” ujarnya.

Cara kerjanya pun berubah seiring waktu. Dahulu, sol sepatu dipasang menggunakan paku. Kini, ia lebih banyak menggunakan lem dan jahitan.

“Dulu solnya dipaku. Kalau sekarang dilem, dijahit,” katanya sambil memutar sebuah sepatu di tangannya.

Perjalanan Sumiran tidak sepenuhnya berlangsung di depan kotak kayu hijau itu. Pada 1970, ia meninggalkan pekerjaan memperbaiki sepatu dan menjadi kernet truk selama sekitar empat tahun. Ketika ditanya mengapa berhenti, jawabannya singkat.

“Tidak betah,” ujarnya.

Setelah itu, ia sempat bekerja di sebuah proyek di sekitar Benteng Pendem, Cilacap. Setelah beberapa waktu, ia kembali menekuni pekerjaan yang sejak kecil dikenalnya.

Setiap hari, Sumiran datang sekitar pukul 07.00 dan bekerja hingga pukul 16.00. Selama hampir sembilan jam, ia duduk di tempat yang sama sambil menunggu orang membawa sepatu yang membutuhkan perbaikan. Jumlah sepatu yang datang tidak selalu sama.

“Kadang lima, kadang sepuluh, kadang lima belas. Tidak menentu,” ujarnya.

Penghasilannya pun mengikuti jumlah pelanggan. Dalam sehari, ia memperoleh sekitar Rp50.000 hingga Rp150.000, bergantung pada jumlah dan jenis sepatu yang diperbaiki.

“Kadang 50, kadang 75, kadang 100, kadang 150,” ujarnya.

Ia menunjuk bagian sol pada salah satu sepatu di dekatnya. Melepas bagian tersebut, menurutnya, menjadi salah satu pekerjaan yang paling sulit.

“Yang ini, membuang bagian ini yang sulit,” katanya.

Sepatu proyek lebih merepotkan karena bagian ujungnya dilengkapi pelindung besi. Selain jenis sepatu, usia yang kian bertambah membuat pekerjaan terasa lebih berat karena tenaganya tidak lagi seperti dulu.

“Sudah tua, tenaganya sudah berkurang, Mbak.”

Meski pekerjaan tidak selalu ramai, Sumiran tetap datang setiap hari. Dari pekerjaan itulah ia menghidupi keluarganya. Ia memiliki lima anak, empat laki-laki dan satu perempuan. Dua anak laki-lakinya kini bekerja sebagai penjahit.

Ketika ditanya tentang istrinya, Sumiran menjawab pendek.

“Istri saya sudah meninggal.”

Menjelang sore, suasana di emperan itu perlahan berubah. Beberapa sepatu telah selesai diperbaiki, sementara yang lain masih menunggu dijahit atau diambil pemiliknya. Di depan tempatnya bekerja, orang-orang terus berlalu-lalang dengan langkah masing-masing.

Di antara orang-orang yang datang dan pergi, Sumiran telah menyaksikan banyak perubahan. Kawan-kawan yang dahulu memulai pekerjaan serupa bersamanya kini tidak lagi berada di tempat itu.

“Teman saya yang seangkatan sudah meninggal semua,” katanya pelan.

Ia terdiam sejenak sebelum mengulang kalimat terakhirnya.

“Tinggal saya.”

Selepas pukul 16.00, sepatu-sepatu di atas kotak hijau diambil pemiliknya satu per satu, pergi dengan sol yang kembali kokoh. Sumiran memasukkan kakinya ke sepasang sandal tipis dan merapikan kursi kayu kecilnya. Emperan itu perlahan kembali sepi.

Besok pukul tujuh, ia akan duduk di sana lagi. Kotak kayu hijau akan kembali dipenuhi sepatu yang menunggu diperbaiki, sementara tang, catut, benang, dan perlengkapan kerjanya kembali menemani rutinitas yang telah dijalaninya selama puluhan tahun.

Dari sekian orang yang dulu memulai bersamanya, kini hanya ia yang masih duduk di kursi itu. Hampir enam dekade ia memperbaiki sepatu agar orang lain dapat terus melangkah, sementara kawan-kawan yang memulai bersamanya telah lama berhenti melangkah.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

Berita Terbaru

  • Dulu Semalam Suntuk, Kini Sekadar Pembuka Acara: Cerita Lengger dari Rumah Lengger Banyumas
    By bagus aji
    Oktober 9, 2026
    Lukisan penari lengger dan seperangkat calung di sudut […]
  • Gemblong Ocar-Acir di Tengah Perubahan Selera Generasi Muda
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Penulis: Erdi Aqil Fauzan | Keterangan: Feature, […]
  • Ketika Krama Inggil Perlahan Kehilangan Suara di Patikraja
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Oleh: Farah Nasywa Nurrahma | Narasumber: Mareta & […]

Pendidikan

  • SMA Muhammadiyah Sokaraja Benahi Manajemen untuk Pulihkan Kepercayaan Masyarakat
    By shafrifa aulia
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Keterbatasan Perpustakaan Tak Padamkan Semangat Membaca, Pojok Literasi Jadi Solusi bagi Murid UPTD SDN 3 Kedungdawa
    By calista aneen
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Kopi dan Laptop: Cerita Mahasiswa Unsoed Menghadapi Tenggat Tugas Tengah Semester
    By athaya qila
    Pendidikan
    September 29, 2026

Bahasa

  • Mengenal Dunia Inklusif Melalui Kelas Bahasa Isyarat Himpunan Mahasiswa KIP-K Unsoed
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Terbaru
    September 21, 2026
  • Usung Tema “Citta Karya”, Seminar Kepenulisan 2026 Hadirkan Luluk HF, Penulis “Mariposa”
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Berlangsung 14–16 September
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Hiburan, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Dibuka, Wabup Dorong Budaya Baca Masyarakat
    By akt 24
    Bahasa Bahasa, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Hadirkan Beragam Stan Literasi
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan
    September 21, 2026

Kuliner

  • Segelas Dawet Ayu, Rezeki yang Tak Tertukar
    By Hanunah Mumtaz
    Feature, Kuliner, Sosial
    Oktober 8, 2026
  • Makaroni Tasik Mang Dadang, Kuliner Pedas Hits di Purwokerto
    By Hanunah Mumtaz
    Kuliner
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Wisata

  • Riak Sang Penyu, Potret Kehidupan di Kawasan Konservasi
    By kelasB
    Pendidikan, Wisata
    September 21, 2026
  • Sabtu Malam, Kawasan Malioboro Dipenuhi Wisatawan
    By akt 24
    Wisata
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Sudut Nalar

Media pemberitaan mahasiswa
Hasil praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman

Tautan

Tentang Kami
Susunan Redaksi
Pedoman Media Siber
Kirim Tulisan
Arsip Berita.

Tentang

Diterbitkan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman, sebagai bagian dari praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Dosen Pengampu : Dr. Memet Sudaryanto, M.Pd.

©2026 sudutnalar.com | Design: Newspaperly WordPress Theme