
Sumber: Dok. Pribadi Gendis Kumalasari
CILACAP, SUDUTNALAR – Suara tali tambang yang bergesekan dengan katrol sumur gali terdengar berulang, memecah suasana hening di sekitar sumur. Di bibir sumur, beberapa galon dan jeriken telah terisi air dan berjajar menunggu untuk dibawa pulang. Air yang diambil dari dasar sumur tampak keruh kecokelatan, bercampur dengan tanah dan lumpur. Pemandangan tersebut menjadi gambaran nyata bagaimana kemarau panjang membuat sumber air warga semakin menipis dan sulit diandalkan.
Bagi warga, kondisi tersebut memaksa mereka mencari air dengan cara yang tidak perlu dilakukan ketika sumber air masih mencukupi. Warga harus mendatangi sumur gali dan mengangkat air secara manual dengan bantuan tali, katrol, dan ember. Aktivitas itulah yang dikenal sebagai ngangsu. Air yang terkumpul kemudian dibawa pulang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mulai dari memasak dan mencuci hingga membasuh muka.
Sukarso menjadi salah satu warga yang menjalani aktivitas tersebut sejak awal Juli. Ketika persediaan air di rumah mulai tidak mencukupi, ia harus berjalan menuju sumur gali di tengah permukiman warga. Sumur tersebut masih mengeluarkan air dari dasarnya, meski jumlahnya terbatas dan kondisinya tidak lagi sejernih sebelum kemarau datang.
“Airnya sekarang sudah keruh, banyak campuran tanah. Jadi setelah diambil, saya saring dulu pakai kain, terus biasanya saya endapkan lagi sebelum digunakan,” ujar Sukarso sambil menunjukkan kain putih yang terikat pada mulut galon.
Air dari sumur tidak langsung digunakan untuk minum. Sesampainya di rumah, Sukarso menyaring dan mengendapkannya terlebih dahulu sebelum merebusnya. Cara tersebut dilakukan agar air yang bercampur tanah dan lumpur lebih layak digunakan untuk kebutuhan rumah tangga.
Namun, air sumur saja belum cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan. Bantuan air bersih dari pemerintah daerah menjadi salah satu sumber yang dinantikan warga. Ketika truk tangki datang ke desa, warga segera membawa jeriken dan wadah air untuk mendapatkan bagian.
“Kalau tangki air bersih datang ke balai desa, kami langsung membawa jeriken untuk mengambil air. Tapi karena airnya dibagikan untuk satu desa, jatahnya terbatas. Biasanya saya paling banyak membawa pulang dua jeriken. Air itu kemudian saya simpan untuk kebutuhan yang penting, seperti minum dan memasak, sedangkan untuk mandi dan mencuci tetap menggunakan air dari sumur,” ujar Sukarso.
Air dari tangki kemudian disimpan untuk kebutuhan yang dianggap paling penting, terutama memasak dan minum. Sementara kebutuhan lain, seperti mandi dan mencuci, tetap dipenuhi dengan air hasil ngangsu. Setiap persediaan harus digunakan sehemat mungkin agar cukup sampai bantuan air berikutnya datang atau sumber air kembali tersedia.
Bagi Sukarso, kemarau tidak hanya mengubah kondisi tanah dan sumber air, tetapi juga mengubah cara warga menjalani keseharian. Kebutuhan yang sebelumnya dapat dipenuhi dengan mudah kini harus diperhitungkan. Air untuk mencuci, mandi, memasak, dan minum memiliki porsi masing-masing agar tidak cepat habis.
Pagi dan sore, Sukarso dan warga lainnya mendatangi sumur untuk mendapatkan air yang masih tersisa. Tidak banyak yang dapat dibawa pulang dalam sekali mengambil, tetapi air tersebut tetap menjadi persediaan penting bagi setiap keluarga.
Ngangsu kini bukan sekadar aktivitas mengambil air, tetapi telah menjadi bagian dari upaya warga bertahan di tengah kemarau yang belum menunjukkan tanda-tanda berakhir. Setiap kali tali ditarik dan air diangkat dari dasar sumur, ada kebutuhan rumah tangga yang sedang diupayakan untuk tetap terpenuhi. Bagi warga, setiap tarikan tali berarti kesempatan untuk membawa pulang air yang akan digunakan untuk melanjutkan aktivitas di rumah.
Kemarau boleh membuat sumur menyusut dan tanah mengering, tetapi setiap tetes air yang berhasil dibawa pulang adalah bukti bahwa kehidupan masih terus diperjuangkan.
Penulis : Gendis Kumalasari
