Skip to content
sudutnalar.com
Menu
  • Beranda
  • Tentang
  • Bahasa
  • Wisata
  • Tips
  • Budaya
  • Teknologi
  • Sosial
  • Politik
  • Sastra
  • Kuliner
  • Hiburan
  • Profile
  • Pendidikan
  • Feature
  • Ekonomi
  • Hukum
Menu

Sumur Mengering, Warga Cilacap Bertahan dengan Cara Ngangsu di Tengah Kemarau Panjang

Posted on Oktober 8, 2026Oktober 8, 2026 by Erdi Aqil Fauzan

Sumber: Dok. Pribadi Gendis Kumalasari

CILACAP, SUDUTNALAR – Suara tali tambang yang bergesekan dengan katrol sumur gali terdengar berulang, memecah suasana hening di sekitar sumur. Di bibir sumur, beberapa galon dan jeriken telah terisi air dan berjajar menunggu untuk dibawa pulang. Air yang diambil dari dasar sumur tampak keruh kecokelatan, bercampur dengan tanah dan lumpur. Pemandangan tersebut menjadi gambaran nyata bagaimana kemarau panjang membuat sumber air warga semakin menipis dan sulit diandalkan.

Bagi warga, kondisi tersebut memaksa mereka mencari air dengan cara yang tidak perlu dilakukan ketika sumber air masih mencukupi. Warga harus mendatangi sumur gali dan mengangkat air secara manual dengan bantuan tali, katrol, dan ember. Aktivitas itulah yang dikenal sebagai ngangsu. Air yang terkumpul kemudian dibawa pulang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mulai dari memasak dan mencuci hingga membasuh muka.

Sukarso menjadi salah satu warga yang menjalani aktivitas tersebut sejak awal Juli. Ketika persediaan air di rumah mulai tidak mencukupi, ia harus berjalan menuju sumur gali di tengah permukiman warga. Sumur tersebut masih mengeluarkan air dari dasarnya, meski jumlahnya terbatas dan kondisinya tidak lagi sejernih sebelum kemarau datang. 

“Airnya sekarang sudah keruh, banyak campuran tanah. Jadi setelah diambil, saya saring dulu pakai kain, terus biasanya saya endapkan lagi sebelum digunakan,” ujar Sukarso sambil menunjukkan kain putih yang terikat pada mulut galon.

Air dari sumur tidak langsung digunakan untuk minum. Sesampainya di rumah, Sukarso menyaring dan mengendapkannya terlebih dahulu sebelum merebusnya. Cara tersebut dilakukan agar air yang bercampur tanah dan lumpur lebih layak digunakan untuk kebutuhan rumah tangga.

Namun, air sumur saja belum cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan. Bantuan air bersih dari pemerintah daerah menjadi salah satu sumber yang dinantikan warga. Ketika truk tangki datang ke desa, warga segera membawa jeriken dan wadah air untuk mendapatkan bagian.

“Kalau tangki air bersih datang ke balai desa, kami langsung membawa jeriken untuk mengambil air. Tapi karena airnya dibagikan untuk satu desa, jatahnya terbatas. Biasanya saya paling banyak membawa pulang dua jeriken. Air itu kemudian saya simpan untuk kebutuhan yang penting, seperti minum dan memasak, sedangkan untuk mandi dan mencuci tetap menggunakan air dari sumur,” ujar Sukarso.

Air dari tangki kemudian disimpan untuk kebutuhan yang dianggap paling penting, terutama memasak dan minum. Sementara kebutuhan lain, seperti mandi dan mencuci, tetap dipenuhi dengan air hasil ngangsu. Setiap persediaan harus digunakan sehemat mungkin agar cukup sampai bantuan air berikutnya datang atau sumber air kembali tersedia.

Bagi Sukarso, kemarau tidak hanya mengubah kondisi tanah dan sumber air, tetapi juga mengubah cara warga menjalani keseharian. Kebutuhan yang sebelumnya dapat dipenuhi dengan mudah kini harus diperhitungkan. Air untuk mencuci, mandi, memasak, dan minum memiliki porsi masing-masing agar tidak cepat habis.

Pagi dan sore, Sukarso dan warga lainnya mendatangi sumur untuk mendapatkan air yang masih tersisa. Tidak banyak yang dapat dibawa pulang dalam sekali mengambil, tetapi air tersebut tetap menjadi persediaan penting bagi setiap keluarga.

Ngangsu kini bukan sekadar aktivitas mengambil air, tetapi telah menjadi bagian dari upaya warga bertahan di tengah kemarau yang belum menunjukkan tanda-tanda berakhir. Setiap kali tali ditarik dan air diangkat dari dasar sumur, ada kebutuhan rumah tangga yang sedang diupayakan untuk tetap terpenuhi. Bagi warga, setiap tarikan tali berarti kesempatan untuk membawa pulang air yang akan digunakan untuk melanjutkan aktivitas di rumah.


Kemarau boleh membuat sumur menyusut dan tanah mengering, tetapi setiap tetes air yang berhasil dibawa pulang adalah bukti bahwa kehidupan masih terus diperjuangkan.

Penulis : Gendis Kumalasari

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

Berita Terbaru

  • Dulu Semalam Suntuk, Kini Sekadar Pembuka Acara: Cerita Lengger dari Rumah Lengger Banyumas
    By bagus aji
    Oktober 9, 2026
    Lukisan penari lengger dan seperangkat calung di sudut […]
  • Gemblong Ocar-Acir di Tengah Perubahan Selera Generasi Muda
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Penulis: Erdi Aqil Fauzan | Keterangan: Feature, […]
  • Ketika Krama Inggil Perlahan Kehilangan Suara di Patikraja
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Oleh: Farah Nasywa Nurrahma | Narasumber: Mareta & […]

Pendidikan

  • SMA Muhammadiyah Sokaraja Benahi Manajemen untuk Pulihkan Kepercayaan Masyarakat
    By shafrifa aulia
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Keterbatasan Perpustakaan Tak Padamkan Semangat Membaca, Pojok Literasi Jadi Solusi bagi Murid UPTD SDN 3 Kedungdawa
    By calista aneen
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Kopi dan Laptop: Cerita Mahasiswa Unsoed Menghadapi Tenggat Tugas Tengah Semester
    By athaya qila
    Pendidikan
    September 29, 2026

Bahasa

  • Mengenal Dunia Inklusif Melalui Kelas Bahasa Isyarat Himpunan Mahasiswa KIP-K Unsoed
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Terbaru
    September 21, 2026
  • Usung Tema “Citta Karya”, Seminar Kepenulisan 2026 Hadirkan Luluk HF, Penulis “Mariposa”
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Berlangsung 14–16 September
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Hiburan, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Dibuka, Wabup Dorong Budaya Baca Masyarakat
    By akt 24
    Bahasa Bahasa, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Hadirkan Beragam Stan Literasi
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan
    September 21, 2026

Kuliner

  • Segelas Dawet Ayu, Rezeki yang Tak Tertukar
    By Hanunah Mumtaz
    Feature, Kuliner, Sosial
    Oktober 8, 2026
  • Makaroni Tasik Mang Dadang, Kuliner Pedas Hits di Purwokerto
    By Hanunah Mumtaz
    Kuliner
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Wisata

  • Riak Sang Penyu, Potret Kehidupan di Kawasan Konservasi
    By kelasB
    Pendidikan, Wisata
    September 21, 2026
  • Sabtu Malam, Kawasan Malioboro Dipenuhi Wisatawan
    By akt 24
    Wisata
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Sudut Nalar

Media pemberitaan mahasiswa
Hasil praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman

Tautan

Tentang Kami
Susunan Redaksi
Pedoman Media Siber
Kirim Tulisan
Arsip Berita.

Tentang

Diterbitkan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman, sebagai bagian dari praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Dosen Pengampu : Dr. Memet Sudaryanto, M.Pd.

©2026 sudutnalar.com | Design: Newspaperly WordPress Theme