Penulis: Feliska Lena Distiansyah | Narasumber: Mulyadi Yulianto | Keterangan: Feature News | Selasa, 6 Oktober 2026

Mulyadi Yulianto saat berbincang di kediamannya, Purwokerto. (Dok. Pribadi Feliska Lena Distiansyah)
BANYUMAS, SUDUTNALAR β Tidak ada yang tahu sejauh apa sebuah kesukaan dapat membawa seseorang. Mulyadi Yulianto, yang kerap disapa Kak Imung, mulai mengenal dunia mendongeng ketika masih menjadi mahasiswa. Kisah nabi dan sahabat yang disampaikan oleh teman-temannya perlahan menumbuhkan ketertarikan dalam dirinya. Dari sekadar mendengar, ia mulai ingin mencoba bercerita.
Saat itu, Mulyadi aktif berkegiatan di Masjid Fatimatuzzahra Purwokerto dan Taman Pendidikan Al-Qurβan. Di lingkungan tersebut, ia mulai belajar dan berlatih mendongeng. Belum ada panggung besar. Hanya ada rasa tertarik yang membuatnya terus mencoba. Ketertarikan itu perlahan menjadi bagian dari aktivitas yang ia jalani. Ia belajar menyampaikan cerita dan melihat bagaimana orang lain merespons cerita yang dibawakannya.
Kesempatan datang ketika ia mengikuti KKN. Di sana, cerita yang ia bawakan mendapat sambutan dari anak-anak dan masyarakat. Antusiasme mereka menjadi pengalaman yang membekas dalam perjalanan Mulyadi. Respons tersebut membuat kepercayaan dirinya tumbuh. Ia pun semakin yakin untuk terus menekuni dunia mendongeng. Dari pengalaman itu, ia mulai melihat bahwa cerita bukan hanya sesuatu yang didengar untuk mengisi waktu. Cerita juga dapat menjadi cara untuk menyampaikan sesuatu kepada orang lain.
Sejak itu, cerita tidak lagi berhenti di lingkungan tempat ia memulainya. Kesempatan demi kesempatan membawanya ke berbagai wilayah Indonesia. Ia pernah mendongeng di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, hingga Maluku. Cerita yang dibawanya bahkan sampai kepada komunitas Indonesia di Hong Kong.
Namun, perjalanan itu bukan sekadar tentang tempat-tempat yang telah didatanginya. Ada proses panjang di balik setiap cerita yang disampaikan. Mulyadi tidak selalu menyiapkan dongeng dalam bentuk naskah. Ia mengembangkan gagasan secara spontan dengan mengandalkan improvisasi saat bercerita. Cara tersebut membuatnya dapat menyesuaikan cerita dengan keadaan dan orang-orang yang berada di hadapannya.
Bagi pria asal Purwokerto tersebut, mendongeng bukan hanya soal membuat orang menikmati cerita. Ada sesuatu yang ingin ditinggalkan setelah cerita selesai. Ada pesan yang ingin sampai kepada pendengar. Terutama ketika berhadapan dengan anak-anak, ia ingin kehadirannya dapat memberikan manfaat. Hal itu membuat kegiatan mendongeng tidak berhenti pada proses bercerita. Baginya, ada nilai yang ingin dibagikan melalui setiap cerita yang disampaikan.
Di situlah perjalanan Mulyadi menemukan maknanya. Cerita yang dahulu ia dengar dari orang lain kini berpindah melalui dirinya. Apa yang pernah menjadi bagian dari proses belajarnya kemudian menjadi sesuatu yang dapat ia bagikan kepada orang lain. Peran yang dahulu hanya sebagai pendengar perlahan berubah menjadi seseorang yang meneruskan cerita.
Perjalanan itu juga membuatnya percaya bahwa minat tidak harus langsung menjadi sesuatu yang besar. Ada hal-hal yang membutuhkan waktu untuk tumbuh. Yang terpenting adalah kemauan untuk terus menjalaninya. Pesan itu pula yang ingin ia sampaikan kepada anak muda.
βTekuni apa yang menjadi minat. Setiap aktivitas pasti ada nilainya jika terus dijalani,β tuturnya.
Kini, cerita yang dahulu hanya ia dengar ketika menjadi mahasiswa telah membawanya bertemu dengan banyak orang dan melewati berbagai tempat. Perjalanannya mungkin bermula dari sesuatu yang sederhana. Namun, dari kesederhanaan itulah langkahnya terus bergerak.
Sebab, tidak semua perjalanan besar dimulai dengan tujuan yang besar. Ada yang bermula dari ketertarikan kecil, tumbuh dari keberanian untuk mencoba, lalu berkembang karena seseorang memilih untuk terus belajar dan tidak berhenti menjalaninya. Begitu pula perjalanan Mulyadi, yang bermula dari cerita-cerita sederhana yang ia dengar ketika menjadi mahasiswa, hingga akhirnya ia memiliki kesempatan untuk menyampaikan cerita kepada banyak orang di berbagai tempat.
Penulis β Feliska Lena Distiansyah
Editor β Nasywa Putri Cahyarani
