Skip to content
sudutnalar.com
Menu
  • Beranda
  • Tentang
  • Bahasa
  • Wisata
  • Tips
  • Budaya
  • Teknologi
  • Sosial
  • Politik
  • Sastra
  • Kuliner
  • Hiburan
  • Profile
  • Pendidikan
  • Feature
  • Ekonomi
  • Hukum
Menu

Jalan Panjang di Balik Sebuah Cerita Kak Imung

Posted on Oktober 8, 2026Oktober 8, 2026 by Erdi Aqil Fauzan

Penulis: Feliska Lena Distiansyah  |  Narasumber: Mulyadi Yulianto  |  Keterangan: Feature News  |  Selasa, 6 Oktober 2026

Mulyadi Yulianto saat berbincang di kediamannya, Purwokerto. (Dok. Pribadi Feliska Lena Distiansyah)

BANYUMAS, SUDUTNALAR β€” Tidak ada yang tahu sejauh apa sebuah kesukaan dapat membawa seseorang. Mulyadi Yulianto, yang kerap disapa Kak Imung, mulai mengenal dunia mendongeng ketika masih menjadi mahasiswa. Kisah nabi dan sahabat yang disampaikan oleh teman-temannya perlahan menumbuhkan ketertarikan dalam dirinya. Dari sekadar mendengar, ia mulai ingin mencoba bercerita.

Saat itu, Mulyadi aktif berkegiatan di Masjid Fatimatuzzahra Purwokerto dan Taman Pendidikan Al-Qur’an. Di lingkungan tersebut, ia mulai belajar dan berlatih mendongeng. Belum ada panggung besar. Hanya ada rasa tertarik yang membuatnya terus mencoba. Ketertarikan itu perlahan menjadi bagian dari aktivitas yang ia jalani. Ia belajar menyampaikan cerita dan melihat bagaimana orang lain merespons cerita yang dibawakannya.

Kesempatan datang ketika ia mengikuti KKN. Di sana, cerita yang ia bawakan mendapat sambutan dari anak-anak dan masyarakat. Antusiasme mereka menjadi pengalaman yang membekas dalam perjalanan Mulyadi. Respons tersebut membuat kepercayaan dirinya tumbuh. Ia pun semakin yakin untuk terus menekuni dunia mendongeng. Dari pengalaman itu, ia mulai melihat bahwa cerita bukan hanya sesuatu yang didengar untuk mengisi waktu. Cerita juga dapat menjadi cara untuk menyampaikan sesuatu kepada orang lain.

Sejak itu, cerita tidak lagi berhenti di lingkungan tempat ia memulainya. Kesempatan demi kesempatan membawanya ke berbagai wilayah Indonesia. Ia pernah mendongeng di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, hingga Maluku. Cerita yang dibawanya bahkan sampai kepada komunitas Indonesia di Hong Kong.

Namun, perjalanan itu bukan sekadar tentang tempat-tempat yang telah didatanginya. Ada proses panjang di balik setiap cerita yang disampaikan. Mulyadi tidak selalu menyiapkan dongeng dalam bentuk naskah. Ia mengembangkan gagasan secara spontan dengan mengandalkan improvisasi saat bercerita. Cara tersebut membuatnya dapat menyesuaikan cerita dengan keadaan dan orang-orang yang berada di hadapannya.

Bagi pria asal Purwokerto tersebut, mendongeng bukan hanya soal membuat orang menikmati cerita. Ada sesuatu yang ingin ditinggalkan setelah cerita selesai. Ada pesan yang ingin sampai kepada pendengar. Terutama ketika berhadapan dengan anak-anak, ia ingin kehadirannya dapat memberikan manfaat. Hal itu membuat kegiatan mendongeng tidak berhenti pada proses bercerita. Baginya, ada nilai yang ingin dibagikan melalui setiap cerita yang disampaikan.

Di situlah perjalanan Mulyadi menemukan maknanya. Cerita yang dahulu ia dengar dari orang lain kini berpindah melalui dirinya. Apa yang pernah menjadi bagian dari proses belajarnya kemudian menjadi sesuatu yang dapat ia bagikan kepada orang lain. Peran yang dahulu hanya sebagai pendengar perlahan berubah menjadi seseorang yang meneruskan cerita.

Perjalanan itu juga membuatnya percaya bahwa minat tidak harus langsung menjadi sesuatu yang besar. Ada hal-hal yang membutuhkan waktu untuk tumbuh. Yang terpenting adalah kemauan untuk terus menjalaninya. Pesan itu pula yang ingin ia sampaikan kepada anak muda.

β€œTekuni apa yang menjadi minat. Setiap aktivitas pasti ada nilainya jika terus dijalani,” tuturnya.

Kini, cerita yang dahulu hanya ia dengar ketika menjadi mahasiswa telah membawanya bertemu dengan banyak orang dan melewati berbagai tempat. Perjalanannya mungkin bermula dari sesuatu yang sederhana. Namun, dari kesederhanaan itulah langkahnya terus bergerak.

Sebab, tidak semua perjalanan besar dimulai dengan tujuan yang besar. Ada yang bermula dari ketertarikan kecil, tumbuh dari keberanian untuk mencoba, lalu berkembang karena seseorang memilih untuk terus belajar dan tidak berhenti menjalaninya. Begitu pula perjalanan Mulyadi, yang bermula dari cerita-cerita sederhana yang ia dengar ketika menjadi mahasiswa, hingga akhirnya ia memiliki kesempatan untuk menyampaikan cerita kepada banyak orang di berbagai tempat.

Penulis – Feliska Lena Distiansyah

Editor – Nasywa Putri Cahyarani

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

Berita Terbaru

  • Dulu Semalam Suntuk, Kini Sekadar Pembuka Acara: Cerita Lengger dari Rumah Lengger Banyumas
    By bagus aji
    Oktober 9, 2026
    Lukisan penari lengger dan seperangkat calung di sudut […]
  • Gemblong Ocar-Acir di Tengah Perubahan Selera Generasi Muda
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Penulis: Erdi Aqil Fauzan | Keterangan: Feature, […]
  • Ketika Krama Inggil Perlahan Kehilangan Suara di Patikraja
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Oleh: Farah Nasywa Nurrahma | Narasumber: Mareta & […]

Pendidikan

  • SMA Muhammadiyah Sokaraja Benahi Manajemen untuk Pulihkan Kepercayaan Masyarakat
    By shafrifa aulia
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Keterbatasan Perpustakaan Tak Padamkan Semangat Membaca, Pojok Literasi Jadi Solusi bagi Murid UPTD SDN 3 Kedungdawa
    By calista aneen
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Kopi dan Laptop: Cerita Mahasiswa Unsoed Menghadapi Tenggat Tugas Tengah Semester
    By athaya qila
    Pendidikan
    September 29, 2026

Bahasa

  • Mengenal Dunia Inklusif Melalui Kelas Bahasa Isyarat Himpunan Mahasiswa KIP-K Unsoed
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Terbaru
    September 21, 2026
  • Usung Tema “Citta Karya”, Seminar Kepenulisan 2026 Hadirkan Luluk HF, Penulis “Mariposa”
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Berlangsung 14–16 September
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Hiburan, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Dibuka, Wabup Dorong Budaya Baca Masyarakat
    By akt 24
    Bahasa Bahasa, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Hadirkan Beragam Stan Literasi
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan
    September 21, 2026

Kuliner

  • Segelas Dawet Ayu, Rezeki yang Tak Tertukar
    By Hanunah Mumtaz
    Feature, Kuliner, Sosial
    Oktober 8, 2026
  • Makaroni Tasik Mang Dadang, Kuliner Pedas Hits di Purwokerto
    By Hanunah Mumtaz
    Kuliner
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Wisata

  • Riak Sang Penyu, Potret Kehidupan di Kawasan Konservasi
    By kelasB
    Pendidikan, Wisata
    September 21, 2026
  • Sabtu Malam, Kawasan Malioboro Dipenuhi Wisatawan
    By akt 24
    Wisata
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Sudut Nalar

Media pemberitaan mahasiswa
Hasil praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman

Tautan

Tentang Kami
Susunan Redaksi
Pedoman Media Siber
Kirim Tulisan
Arsip Berita.

Tentang

Diterbitkan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman, sebagai bagian dari praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Dosen Pengampu : Dr. Memet Sudaryanto, M.Pd.

©2026 sudutnalar.com | Design: Newspaperly WordPress Theme