Oleh: Farah Nasywa Nurrahma | Narasumber: Mareta & Sarni | Keterangan: Feature News | Selasa, 6 Oktober 2026, 19.30 WIB

Sumber: NETRAWARGA.COM
BANYUMAS, SUDUTNALAR – Ada bahasa yang tidak benar-benar hilang dalam sehari. Ia pergi perlahan, sedikit demi sedikit, sampai suatu hari generasi muda mungkin hanya mengenal namanya tanpa lagi mampu menggunakannya. Di Desa Patikraja, Kecamatan Patikraja, Kabupaten Banyumas, ragam bahasa Jawa krama inggil menghadapi keadaan serupa. Bahasa yang selama ini menjadi salah satu bentuk penghormatan kepada orang yang lebih tua mulai kehilangan ruang dalam percakapan generasi muda.
Fenomena tersebut terlihat dari pengalaman Mareta, 22 tahun, yang hanya memahami beberapa kosakata krama inggil dan lebih sering menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa Jawa ngapak ketika berbicara dengan orang yang lebih tua. Kebiasaan itu terbentuk karena sejak kecil ia lebih terbiasa menggunakan bahasa Indonesia dan sesekali bahasa Inggris.
Bagi Mareta, krama inggil bukanlah sesuatu yang sepenuhnya asing. Beberapa kosakatanya masih dikenali. Namun, ketika harus menggunakannya dalam percakapan, ia tidak lagi dapat berkomunikasi dengan lancar.
“Saya mengerti beberapa kosakata saja, tetapi tidak lancar berkomunikasi dengan orang lain,” ujar Mareta.
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun, di baliknya tersimpan gambaran tentang sebuah bahasa yang perlahan kehilangan penuturnya di kalangan generasi muda. Kosakatanya masih ada, tetapi kebiasaan menggunakannya mulai memudar. Ketika berbicara dengan nenek atau kakek, misalnya, Mareta tidak menjadikan krama inggil sebagai bahasa utama. Ia lebih nyaman menggunakan bahasa yang sudah akrab dalam kehidupannya.
“Bahasa Indonesia, atau paling ya menggunakan bahasa daerah (ngapak),” katanya.
Bagi sebagian orang, peralihan bahasa mungkin tampak sebagai hal kecil. Percakapan tetap berlangsung dan pesan tetap tersampaikan. Namun, bahasa tidak hanya berfungsi untuk menyampaikan pesan. Dalam bahasa Jawa, pilihan tingkat tutur juga membawa nilai kesopanan dan penghormatan kepada lawan bicara.
Karena itu, ketika krama inggil semakin jarang digunakan, yang perlahan tergerus bukan hanya kemampuan menyebutkan kosakatanya. Ada bagian dari kebiasaan budaya yang ikut kehilangan ruang dalam kehidupan sehari-hari.
Mareta mengatakan, keadaan tersebut berkaitan dengan kebiasaan berbahasa yang telah terbentuk sedari kecil.
Bahasa yang paling sering didengar dan digunakan sejak kecil memang cenderung menjadi bahasa yang lebih mudah digunakan. Sementara itu, bahasa yang jarang digunakan dapat semakin sulit dipraktikkan, meskipun beberapa kosakatanya masih diingat.
Di tengah perubahan kebiasaan tersebut, generasi yang lebih tua masih menyimpan harapan. Sarni, 68 tahun, berharap generasi muda tidak membiarkan penggunaan krama inggil berhenti pada generasinya. Ia berharap generasi muda tetap menggunakan krama inggil sebagai bagian dari upaya melestarikan budaya Jawa. Menurutnya, generasi muda boleh saja mempelajari berbagai bahasa dari luar, tetapi jangan sampai bahasa daerah sendiri justru hilang.
Harapan Sarni terasa seperti pesan yang ditujukan kepada generasi yang sedang tumbuh dalam dunia yang semakin terbuka. Bahasa asing dapat membuka pintu menuju dunia yang lebih luas. Namun, bahasa daerah adalah salah satu hal yang menghubungkan seseorang dengan tempat ia tumbuh dan budaya yang membentuk kehidupannya.
Jika generasi muda tidak lagi memiliki kebiasaan menggunakan krama inggil, siapa yang kelak akan meneruskannya?
Pertanyaan tersebut mungkin terdengar sederhana, tetapi jawabannya berada pada kebiasaan sehari-hari. Pelestarian bahasa tidak selalu membutuhkan panggung besar, program besar, atau perayaan budaya yang meriah. Ia dapat dimulai dari rumah: dari sapaan seorang cucu kepada nenek atau kakeknya, dari percakapan seorang anak dengan orang tuanya, atau dari keberanian generasi muda mencoba menggunakan kosakata yang selama ini jarang mereka ucapkan.
Mungkin pada awalnya terasa canggung. Mungkin beberapa kata tertukar. Namun, bahasa tidak membutuhkan penutur yang langsung sempurna. Kelestarian bahasa bergantung pada kemauan penuturnya untuk terus menggunakannya. Sebab, bahasa yang tidak pernah digunakan perlahan hanya akan menjadi kenangan.
Begitu pula krama inggil. Ia mungkin belum benar-benar hilang dari Desa Patikraja. Kosakatanya masih dikenal, sebagian orang masih memahaminya, dan generasi tua masih menyimpan ingatan tentangnya. Tetapi tanpa kemauan generasi muda untuk menggunakannya, bahasa tersebut dapat semakin sunyi dari percakapan sehari-hari.
Pada akhirnya, persoalan krama inggil bukan hanya tentang hilangnya beberapa kata dalam bahasa Jawa. Lebih dari itu, ada warisan budaya dan nilai penghormatan antargenerasi yang sedang dipertaruhkan.
Sebab, ketika seorang cucu masih mau belajar mengucapkan bahasa yang digunakan nenek dan kakeknya, ia sebenarnya sedang melakukan lebih dari sekadar belajar bahasa: ia sedang menjaga agar suara dari generasi sebelumnya tetap memiliki tempat di generasi berikutnya.
