Penulis: Dava Hanif Ilyasa | Narasumber : Yatin | Keterangan: Feature | Kamis, 08 Oktober 2026 | 09.00 WIB

Yatin berjalan kaki membawa tas cangkingan berisi dagangan.
(Foto: Dok. Dava Hanif Ilyasa).
BANYUMAS, SUDUTNALAR – Pagi belum sepenuhnya ramai ketika Yatin mulai menyiapkan dagangannya. Di dapur, tangannya sibuk menggoreng gorengan yang akan dibawa berkeliling. Satu per satu gorengan yang telah matang disiapkan untuk dimasukkan ke dalam tas cangkingan. Setelah semua dagangan siap, perempuan berusia 60 tahun itu bersiap meninggalkan rumah.
Tas cangkingan kemudian menjadi teman perjalanan Yatin. Ia berjalan kaki menyusuri lingkungan sekitar, berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya sambil menawarkan gorengan kepada warga. Tidak ada kendaraan yang mengantarnya. Tidak ada pula tempat khusus yang membuatnya hanya perlu menunggu pembeli datang. Ia sendiri yang mendatangi calon pembeli dengan berjalan kaki.
Rutinitas itu telah menjadi bagian dari kesehariannya. Pagi yang bagi sebagian orang mungkin menjadi waktu untuk bersiap menjalani aktivitas, bagi Yatin justru menjadi awal dari perjuangan mencari penghasilan. Dari dapur, ia memulai pekerjaan sebelum kemudian membawa hasil gorengannya menyusuri jalan.
Bagi orang yang melihatnya dari kejauhan, aktivitas tersebut mungkin terlihat sederhana. Seorang ibu berjalan membawa tas berisi makanan dan sesekali berhenti menawarkan dagangannya. Namun, di balik langkah yang terlihat biasa itu terdapat kebutuhan keluarga yang harus terus dipenuhi.
Yatin sudah tidak lagi memiliki suami. Suaminya meninggal dunia setelah mengalami stroke. Sejak saat itu, ia harus menjalani kehidupan bersama anak-anaknya dan berusaha memenuhi kebutuhan keluarga dengan berjualan gorengan.
βYa karena kebutuhan, Nak. Setelah suami saya meninggal, saya harus tetap mencari uang untuk kebutuhan anak-anak,β ujar Yatin.
Dari tiga anaknya, satu orang telah menikah, sementara dua lainnya masih bersekolah. Kondisi tersebut membuat Yatin tetap bekerja meskipun usianya telah mencapai 60 tahun. Ia masih harus memikirkan kebutuhan sehari-hari sekaligus pendidikan kedua anaknya yang masih menempuh sekolah.
Setiap pagi, aktivitasnya kembali dimulai dari dapur. Gorengan disiapkan untuk dijual, kemudian dimasukkan ke dalam tas cangkingan. Setelah itu, perjalanan dimulai. Ia berjalan mengelilingi lingkungan sekitar, berharap dagangan yang dibawanya dapat terjual dan memberikan penghasilan untuk dibawa pulang.
Pekerjaan tersebut tentu tidak selalu mudah. Usia yang semakin bertambah membuat perjalanan berjalan kaki terasa lebih berat. Panas matahari dan kondisi jalan menjadi bagian dari tantangan yang harus dihadapi ketika berjualan.
βYa capek, Nak. Namanya sudah tua, jalan juga kadang terasa capek. Kalau panas ya panas, kalau hujan juga susah,β katanya.
Rasa lelah terkadang membuatnya harus berhenti sejenak. Namun, ketika masih ada dagangan yang belum terjual, perjalanan kembali dilanjutkan. Ia tetap menawarkan gorengan kepada warga yang ditemuinya. Bukan karena pekerjaan itu ringan, melainkan karena ada kebutuhan yang tidak bisa menunggu.
βKalau tidak jualan, nanti kebutuhan di rumah bagaimana,β ujarnya.
Kalimat sederhana itu menggambarkan alasan mengapa Yatin terus menjalani rutinitasnya. Berjualan menjadi cara yang ia lakukan untuk menjaga kebutuhan keluarganya tetap berjalan. Selama tubuhnya masih mampu digunakan untuk bekerja, ia memilih untuk tetap berusaha.
Dua anaknya yang masih bersekolah menjadi salah satu alasan terbesarnya untuk bertahan. Di tengah rutinitas yang melelahkan, pendidikan anak tetap menjadi sesuatu yang ingin ia perjuangkan. Ia ingin anak-anaknya tetap mendapatkan kesempatan untuk belajar tanpa harus kehilangan sekolah karena keadaan keluarga.
βYa anak-anak, Nak. Saya ingin mereka tetap sekolah. Selama saya masih bisa bekerja, ya saya usahakan,β tutur Yatin.
Harapannya tidak rumit. Ia ingin kedua anaknya dapat terus bersekolah dan kelak memiliki kehidupan yang lebih baik. Keinginan tersebut membuat pekerjaan yang dijalaninya setiap hari memiliki arti lebih dari sekadar mencari uang. Setiap gorengan yang disiapkan dan setiap jalan yang ditempuh menjadi bagian dari usahanya untuk keluarga.
Kisah Yatin juga menunjukkan bahwa perjuangan tidak selalu hadir dalam bentuk yang besar. Kadang, perjuangan justru terlihat dari rutinitas yang dilakukan berulang kali tanpa banyak diketahui orang. Bangun pagi, menggoreng dagangan, memasukkannya ke dalam tas, kemudian berjalan kaki dari satu tempat ke tempat lain menjadi keseharian yang terus ia jalani.
Ketika dagangan mulai berkurang, tas yang sejak pagi dibawanya perlahan menjadi lebih ringan. Hasil penjualan hari itu kemudian dibawa pulang untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Besok pagi, aktivitas yang sama akan kembali dimulai.
Di usianya yang telah 60 tahun, Yatin mungkin tidak memiliki langkah secepat ketika masih muda. Namun, langkahnya tidak berhenti. Ia terus berjalan membawa tas cangkingannya, melewati jalan yang sama dan menawarkan dagangan yang sama.
Sebab bagi Yatin, setiap langkah bukan hanya perjalanan mencari pembeli. Di balik langkah tersebut ada dua anak yang masih bersekolah, ada kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi, dan ada harapan yang ingin terus ia jaga.
Selama kedua kakinya masih mampu membawanya berjalan, Yatin akan terus melangkah. Bukan karena perjalanan itu mudah, tetapi karena ada anak-anak yang menunggu kepulangannya.
