sudutnalar.com, 8 Oktober 2026
Oleh : Dwi Salsabela Wahyudin

Khulwi Fikrotun Nafasah saat mengikuti ajang AKSI Indosiar 2025 (Dok. Khulwi Fikrotun Nafasah)
PURWOKERTO, SUDUTNALAR– Panggung AKSI Indosiar 2025 pernah membawa Khulwi Fikrotun Nafasah hingga Top 9. Setelah kompetisi itu berakhir, ia kembali menjalani kesehariannya sebagai mahasiswa D3 Bahasa Inggris Universitas Jenderal Soedirman. Di tengah jadwal kuliah, Khulwi masih meluangkan waktu untuk mengisi pengajian, kegiatan yang tetap ia jalani meskipun kesibukannya sebagai mahasiswa semakin bertambah.
Mahasiswa semester 3 angkatan 2025 asal Purbalingga itu sebelumnya merupakan santri Pondok Pesantren Madani, Tunjungmuli, Karangmoncol, Purbalingga. Dari lingkungan pesantren tersebut, kesempatan untuk mengikuti AKSI datang. Khulwi dipilih oleh kiai dan guru-guru untuk mengikuti proses seleksi setelah sebelumnya dilakukan pemilihan di pesantren.
“Sebenarnya saya mengikuti AKSI karena saya didaftarkan oleh pihak pesantren. Waktu itu di pesantren ada proses pemilihan dari kiai dan guru-guru untuk menentukan siapa yang akan mengikuti seleksi AKSI. Alhamdulillah, saya dipercaya dan dipilih untuk mengikuti seleksi tersebut,” ujar Khulwi.
Keikutsertaannya di AKSI menjadi pengalaman baru bagi Khulwi. Ia menjadi peserta yang paling muda di antara peserta lainnya. Kondisi tersebut membuatnya banyak belajar dari kakak-kakak peserta yang membimbing dan mengayominya selama mengikuti kompetisi. Para juri juga memberikan arahan yang menurutnya menjadi pengalaman berharga.
Selama berada di AKSI, Khulwi tidak hanya belajar mengenai cara menyampaikan ceramah. Ia juga belajar bagaimana bersikap, berpikir, dan menghadapi berbagai situasi dengan cepat. Pengalaman bersama peserta lain menjadi salah satu hal yang paling ia ingat dari ajang tersebut.
Setelah AKSI berakhir, kegiatan mengisi pengajian tetap ia jalani. Kepercayaan yang ia dapatkan dari banyak orang membuat Khulwi merasa memiliki tanggung jawab untuk terus belajar dan berbagi ilmu. Namun, saat ini ia juga memiliki tanggung jawab lain sebagai mahasiswa.
Kesibukan kuliah membuat Khulwi harus membagi waktu dengan lebih teratur. Ia memprioritaskan perkuliahan dari Senin hingga Jumat, sedangkan Sabtu dan Minggu biasanya digunakan untuk mengisi pengajian. Ketika ada undangan pada hari kuliah, ia terkadang memilih untuk menolaknya agar perkuliahan tidak terganggu.
“Saya membaginya dengan membuat batasan waktu. Bagi saya, kuliah itu memiliki waktu yang jelas, sedangkan mengaji dan berdakwah waktunya tidak terbatas. Karena itu, saya mendahulukan kuliah dari hari Senin sampai Jumat dan berusaha agar jadwal kuliah tidak terganggu,” katanya.
Pembagian waktu tersebut tidak selalu mudah. Khulwi mengaku terkadang harus terburu-buru dalam menjalankan kedua kegiatan tersebut. Meski begitu, ia tetap berusaha menjalani kuliah dan mengisi pengajian dengan sebaik mungkin.
Keputusan untuk tetap mengisi pengajian di tengah kesibukan kuliah memiliki alasan tersendiri. Khulwi menganggap kepercayaan untuk menyampaikan ilmu kepada orang lain sebagai amanah yang harus dijaga. Karena itu, bertambahnya kesibukan sebagai mahasiswa tidak membuatnya ingin meninggalkan kegiatan tersebut.
“Karena bagi saya, mengisi pengajian adalah sebuah amanah. Ketika saya sudah diberi kepercayaan untuk menjadi seorang ustazah dan menyampaikan ilmu kepada orang lain, saya merasa punya tanggung jawab untuk menjaga kepercayaan tersebut,” ujar Khulwi.
Kegiatan mengisi pengajian juga menjadi cara Khulwi untuk terus belajar. Ketika menyampaikan ilmu kepada jamaah, ia merasa dirinya ikut diingatkan untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Ia berusaha agar apa yang disampaikan kepada orang lain juga dapat ia terapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Pengalaman sebagai santri dan peserta AKSI kemudian menjadi bagian dari perjalanan Khulwi hingga menjalani kehidupan sebagai mahasiswa. Sekarang, ia harus membagi waktu antara ruang kuliah dan kegiatan mengisi pengajian. Tidak semua undangan dapat diterima, tetapi ia tetap berusaha menjalankan kegiatan tersebut tanpa mengabaikan pendidikan.
“Bagi saya, ceramah bukan hanya tentang saya menyampaikan sesuatu kepada jamaah. Justru ketika saya berceramah, saya juga sedang belajar dan mengingatkan diri saya sendiri,” tutur Khulwi.
