Bintang Widya Pratama
Sudutnalar.com, 27 September 2026

Tampilan Sistem Monitoring PKL yang dikembangkan Jastin Linggar Tama.
Sumber: Dokumentasi Jastin Linggar Tama
BANYUMAS, SUDUTNALAR—Pengalaman menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) mendorong Jastin Linggar Tama mengembangkan sistem monitoring PKL untuk membantu sekolah mengelola dan memantau kegiatan siswa secara digital.
Sistem tersebut dikembangkan melalui Affandra Solusi Teknologi, tim kecil pengembangan perangkat lunak yang dijalankan Jastin sejak 2022. Gagasan ini muncul ketika ia melihat proses pemantauan siswa PKL masih banyak dilakukan secara manual.
“Waktu PKL, siswa tersebar di banyak tempat. Guru pembimbing harus memantau absensi, jurnal harian, dan kunjungan ke tempat PKL. Dulu semuanya masih menggunakan kertas dan grup WhatsApp. Rekapnya cukup berat dan sering ada data yang tertinggal,” ujar Jastin.
Sistem monitoring PKL dirancang untuk mengelola kegiatan PKL mulai dari pengajuan dan penempatan siswa hingga absensi, jurnal harian, monitoring guru, dan penilaian akhir.
Melalui sistem tersebut, guru pembimbing dapat melihat perkembangan siswa tanpa harus melakukan rekap secara manual. Sementara itu, siswa dapat mengisi absensi dan jurnal kegiatan selama menjalani PKL.
“Guru bisa langsung melihat siapa yang belum melakukan absensi atau belum mengisi jurnal tanpa harus menunggu laporan. Siswa juga lebih mudah karena laporan hariannya bisa dilakukan melalui WhatsApp yang sudah mereka gunakan sehari-hari,” kata Jastin.
Selain melalui situs web, sistem ini dilengkapi bot WhatsApp yang digunakan untuk mengirimkan pengingat dan membantu siswa melaporkan kegiatan harian. Pengembangan sistem menggunakan Laravel dan MySQL, sedangkan bot WhatsApp dibuat menggunakan Node.js.
Sistem tersebut saat ini digunakan oleh dua SMK. Pengembangannya terus dilakukan berdasarkan masukan dari sekolah dan pengalaman penggunaan pada setiap periode PKL.
Tantangan terbesar dalam pengembangan sistem adalah menyesuaikan aturan PKL yang berbeda di setiap sekolah. Jastin mengatakan sistem harus dibuat fleksibel agar dapat digunakan sesuai kebutuhan masing-masing sekolah.
“Setiap sekolah punya aturan PKL yang berbeda-beda sehingga sistem harus bisa menyesuaikan,” ujarnya.
Jastin berharap sistem monitoring PKL dapat digunakan oleh lebih banyak SMK sehingga guru pembimbing dapat mengurangi pekerjaan administratif dan lebih fokus dalam mendampingi siswa selama menjalani PKL.
“Semoga semakin banyak SMK yang terbantu dan guru pembimbing bisa lebih fokus membimbing siswa daripada mengurus rekap,” pungkasnya.
Penulis : Bintang Widya Pratama
Editor : Fara Aulia Fadilah
