sudutnalar.com, 29 September 2026

Kegiatan Belajar Mengajar Bahasa Indonesia (Dok:Â Zuha Alfi Zulaika)
PURWOKERTO, SUDUT NALAR – Kelas yang pasif menjadi tantangan tersendiri bagi guru dalam mendorong siswa berpikir kritis dan berani menyampaikan pendapat. Hal tersebut yang mendorong guru Bahasa Indonesia SMP Negeri 3 Sokaraja, Roni Wahyono, menerapkan metode brainstorming dengan teknik lempar kartu sebagai pendekatan baru dalam pembelajaran menulis artikel ilmiah populer.
Roni menjelaskan, rasa takut berbuat salah dalam menyampaikan pendapat menjadi alasan utama siswa enggan bersuara di kelas. “Siswa kurang aktif, tidak berani mengungkapkan pendapat, dan hanya siswa tertentu saja yang mau berbicara,” ujarnya.
Pembelajaran diawali dengan pembagian kelas menjadi delapan kelompok, setiap kelompok terdiri dari empat siswa. Guru menyiapkan empat topik yang dibagikan kepada setiap kelompok, sehingga masing-masing siswa mendapat satu topik untuk kompetisi brainstorming dengan teknik lempar kartu. Setiap siswa kemudian mempelajari topiknya dengan mencari informasi dari berbagai sumber dibantu oleh teman sekelompoknya.
Sesi inti berlangsung dalam bentuk kompetisi. Kelas ditata membentuk huruf U dengan satu meja di tengah arena, lengkap dengan mikrofon dan sepuluh kartu untuk setiap kelompok. Setiap kelompok mengirimkan satu perwakilan sesuai topiknya, sementara satu kelompok lain bertugas bergantian sebagai moderator.
Begitu soal dibacakan, siswa yang ingin berpendapat mengambil mikrofon seraya melemparkan satu kartu ke tengah arena, baik untuk menyampaikan gagasan baru maupun menyetujui dan menyanggah pendapat peserta lain. Kelompok yang kartunya lebih dahulu habis dinyatakan sebagai pemenang untuk topik tersebut. Moderator mengumumkan perolehan nilai, lalu kompetisi berlanjut dengan peserta dan topik berikutnya, hingga akumulasi skor dari empat topik menentukan juara keseluruhan.
Perubahan pada keaktifan siswa mulai terlihat sejak teknik ini diterapkan. Siswa dinilai lebih berani berpendapat tanpa takut dianggap salah, lebih bersemangat menyampaikan gagasan, serta antarkelompok saling bersaing berebut kesempatan bicara sehingga suasana kelas menjadi lebih hidup.
Dampak paling terasa justru pada siswa yang sebelumnya paling sulit diajak berbicara. Mereka ikut terdorong bersuara berkat dukungan teman sekelompok, sebab setiap pendapat yang disampaikan turut menyumbang skor bagi kelompoknya.
Penerapan teknik ini bukan tanpa kendala. Keinginan peserta menyampaikan pendapat secepatnya kerap memicu rebutan mikrofon, sehingga moderator harus jeli menentukan siapa yang lebih dahulu memegangnya untuk dipersilakan berbicara. Kendala lain, masih ada siswa yang enggan angkat bicara sampai akhir kegiatan sehingga dikumpulkan dalam kelompok tersendiri dan diberi kesempatan khusus menanggapi suatu topik.
Meski sempat menemui kendala, teknik lempar kartu dinilai berhasil menumbuhkan keberanian siswa untuk berpendapat dan tetap dipertahankan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia ke depannya. “Teknik ini tetap dilaksanakan karena menyenangkan bagi siswa dan memunculkan rasa berani untuk berbicara tanpa takut salah atau disalahkan,” pungkas Roni.
Penulis: Zuha Alfi Zulaika
Editor: Vina Pratista
