Purwokerto, 23 September 2026

Sumber: Nafisah Permata Hati
Purwokerto – sudutnalar.com, Kegagalan dalam lomba saat duduk di sekolah dasar sempat membuat Nafisah Permata Hati meragukan bakatnya di bidang musik. Namun, pengalaman tersebut justru menjadi titik balik yang mendorongnya untuk terus berkembang hingga akhirnya terpilih sebagai Duta Berbakat Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK).
Ketertarikan Nafisah terhadap musik telah muncul sejak duduk di kelas 4 sekolah dasar. Ia mulai lebih serius mengembangkan bakatnya ketika memasuki SMP dan SMA dengan mengikuti berbagai perlombaan. Saat berkuliah, ia kembali mengembangkan bakat musiknya melalui kegiatan bermusik dan bergabung dalam sebuah band. Hingga kini, musik tetap menjadi bagian dari aktivitasnya karena ia merasa memiliki passion di bidang tersebut.
Perjalanan mengembangkan bakat tidak selalu berjalan mulus. Nafisah mengaku pernah merasa kurang percaya diri ketika melihat orang lain yang dianggap lebih memiliki kemampuan. Menurutnya, rasa kurang percaya diri menjadi salah satu tantangan terbesar yang harus ia hadapi dalam mengembangkan bakat.
Alih-alih menjadikan kemampuan orang lain sebagai alasan untuk berhenti, ia memilih menjadikannya sebagai acuan untuk berkembang. Baginya, melihat orang lain yang lebih baik justru dapat menjadi dorongan untuk meningkatkan kemampuan diri.
Pengalaman kegagalan juga pernah membuat Nafisah ingin berhenti mengembangkan bakat musik. Saat mengikuti lomba menyanyi untuk pertama kalinya ketika SD, ia tidak berhasil meraih yang diharapkan. Kegagalan tersebut sempat membuatnya berpikir bahwa dirinya tidak berbakat di bidang musik.
Namun, ia kemudian mencoba mengevaluasi kesalahan yang dilakukan saat perlombaan. Dari proses tersebut, Nafisah menyadari bahwa kegagalan dapat menjadi bahan pembelajaran untuk memperbaiki kemampuan.
“Setelah dipikir-pikir, aku evaluasi diri. Ternyata aku melakukan kesalahan waktu nyanyi. Jadi, aku menganggap kegagalan ini sebagai motivasi untuk menjadi lebih baik ke depannya,” ujar Nafisah.
Keberanian untuk kembali mencoba kemudian membawanya pada pengalaman lain ketika memasuki perkuliahan. Nafisah mengetahui adanya pemilihan Duta FPIK melalui pamflet yang dilihatnya di mading lobi fakultas. Gelar Duta Berbakat membuatnya tertarik untuk mencoba, meskipun pada awalnya ia merasa pesimistis karena peserta berasal dari seluruh jurusan dan angkatan di FPIK.
Dukungan dari teman dan orang tua membuat Nafisah berani mengikuti proses tersebut. Setelah memutuskan untuk terlibat dalam pemilihan, ia berusaha menjalani setiap tahapan dengan serius hingga akhirnya terpilih sebagai Duta Berbakat FPIK.
Pengalaman menjadi duta juga membawa perubahan dalam dirinya. Ia menyadari bahwa seorang duta tidak hanya membawa sebuah gelar, tetapi juga memiliki tanggung jawab dalam bersikap dan bertindak sebagai representasi dari fakultas.
Pengalaman tersebut kemudian ia bawa ketika menjalani aktivitas bermusik. Baginya, kemampuan tampil di atas panggung tidak hanya berkaitan dengan keterampilan bermusik, tetapi juga dengan sikap dan nilai yang harus dijaga.
Di luar aktivitas sebagai duta, Nafisah juga aktif dalam UKM Arteris bidang musik sebagai koordinator seni musik. Melalui posisi tersebut, ia berusaha membagikan kemampuan yang dimilikinya kepada anggota lain melalui program latihan rutin.
Baginya, mengembangkan bakat tidak harus dilakukan seorang diri. Kemampuan yang dimiliki juga dapat memberikan manfaat ketika dibagikan kepada orang lain agar mereka memiliki kesempatan untuk berkembang.
Dalam menjalani kuliah, berkegiatan, dan pengembangan bakat, Nafisah memegang tiga prinsip, yaitu tanggung jawab, manajemen waktu, dan skala prioritas. Ia menempatkan kuliah sebagai prioritas utama, kemudian mengatur waktu untuk kegiatan dan pengembangan bakat.
Menurutnya, ketiga aktivitas tersebut tetap dapat dijalankan secara bersamaan selama seseorang memahami tanggung jawab dan mampu menentukan prioritas.
Berdasarkan pengalaman tersebut, Nafisah berpesan kepada mahasiswa yang masih ragu menunjukkan bakatnya untuk tidak takut mencoba dan gagal. Menurutnya, sebuah usaha tidak selalu harus langsung menghasilkan kemenangan atau kesempurnaan.
“Jangan takut gagal dan jangan takut nyoba. Sesuatu yang dicoba itu tidak harus menang, tidak harus bagus, tidak harus langsung sempurna. Kalau gagal, anggap kegagalan itu sebagai bentuk proses dan motivasi untuk jadi lebih baik, bukan malah memberhentikan mimpi,” tuturnya.
Perjalanan Nafisah menunjukkan bahwa sebuah kegagalan tidak selalu menjadi akhir dari sebuah langkah. Keberanian untuk mencoba kembali, mengevaluasi diri, dan terus mengembangkan kemampuan dapat menjadi jalan bagi seseorang untuk menemukan potensi dirinya sekaligus memberikan manfaat bagi orang lain.
Penulis: Nabila Putri Klarensia
Editor: Rizqina Ayu Kasturi
