
Sumber: Koleksi Pribadi Dedi Supriyanto
Banyumas β Sudutnalar.com, Anggota DPRD Kabupaten Banyumas, Dedi Supriyanto, membagikan kisah perjalanan politiknya dalam sebuah wawancara di kediamannya belum lama ini. Pria kelahiran Banyumas, 24 Desember 1982, kini menjabat sebagai pimpinan Komisi II ini mengaku sempat apolitis sebelum akhirnya terjun ke dunia politik sejak tahun 2001 lewat Partai Keadilan Sejahtera (PKS).
Sikap apolitis pada Dedi itu justru tumbuh di tengah lingkungan yang lekat dengan politik. Sejak remaja, Dedi tinggal bersama sang kakek, seorang politisi senior, namun menganggap dunia politik tidak menarik baginya.
Pandangan tersebut berubah usai merantau dan menyadari bahwa berbagai kebutuhan masyarakat, seperti beras dan bahan bakar minyak, tidak terlepas dari keputusan politik. Kesadaran itu kemudian mendorongnya untuk terlibat dan memperjuangkan kepentingan masyarakat.
Salah satu pengalaman yang paling diingat Dedi terjadi ketika DPRD membahas Peraturan Daerah tentang Pengendalian Peredaran Minuman Beralkohol. Saat itu, terdapat usulan agar tempat karaoke diizinkan menjual minuman beralkohol. Dedi bersama fraksinya menolak keras usulan tersebut karena khawatir dijadikan dalih bagi berdirinya usaha karaoke ilegal hingga ke pelosok desa.
Pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan Dedi dalam menjalankan perannya sebagai wakil rakyat. Bagi Dedi, integritas adalah prinsip utama yang wajib dipegang seorang wakil rakyat, dan ia menjalankan prinsip itu sejak pertama kali memutuskan terjun ke dunia politik hingga saat ini.
Setelah melalui perjalanan politik sampai akhirnya menjadi wakil rakyat selama dua periode, Dedi berharap generasi muda tidak menganggap politik sebagai sesuatu yang jauh dari kehidupan mereka. Menurutnya, keterlibatan generasi muda sangat diperlukan agar mereka tidak hanya menjadi penonton dalam menentukan arah kebijakan.
βJangan sampai anak muda hanya jadi penonton yang bisa mengeluh tetapi tidak bisa ikut menentukan arah kebijakan. Masuklah dan ambil bagian. Perubahan yang baik itu lahir dari mereka yang berani terlibat, bukan yang hanya diam menunggu,β ujar Dedi.
Penulis : Inas Hanin Bachrullah
Editor : Gendis Kumalasari
