Penulis: Anisa Rahmawati | Editor: Nisa Nurul Aida
Selasa, 22 September 2026

Satimin, Petugas Pemulasaraan Jenazah (foto: Anisa)
Pekuncen – Sudutalar.com, Di balik sunyinya kabar duka yang menyelimuti sebuah desa, ada sosok yang selalu bersiap melangkah tanpa ragu. Ia adalah Satimin (61), atau yang lebih akrab disapa Pak Kayim oleh warga setempat. Selama 26 tahun, jemarinya telah membantu memulasarakan jenazah warga. Sebuah panggilan jiwa yang lahir bukan dari garis keturunan, melainkan dari rasa tanggung jawab mendalam terhadap sesama.
Satimin memulai baktinya sejak tahun 2000. Kala itu, ia mendapat amanah langsung dari pemerintah desa setempat. Alasan di balik kesediaannya begitu sederhana, namun sarat makna keagamaan. Pemulasaraan jenazah adalah hukum fardhu kifayah.
“Kalau ada warga yang meninggal lalu tidak ada yang memandikan atau menyalatkan, satu desa bisa menanggung dosa. Karena itu saya menerima ditugaskan untuk menolong,” ucap Satimin pada Senin (21/9).
Tanpa bekal pendidikan formal maupun tradisi keluarga, Satimin mempelajari tata cara perawatan jenazah secara mandiri. Berbekal niat tulus dan kemauan belajar, ia melihat dan meniru para sesepuh terdahulu hingga akhirnya mahir menjalankan seluruh tahapan.
Bagi Satimin, merawat jenazah bukan sekadar rutinitas teknis, melainkan bentuk penghormatan tertinggi kepada manusia. Ia menekankan pentingnya menjaga kerahasiaan dan aib jenazah. Proses memandikan idealnya dilakukan di tempat tertutup atau berpagar rapat, serta diutamakan dipimpin oleh pihak keluarga atau kerabat dekat. Ia juga menggarisbawahi pentingnya kelembutan dalam memulasara. “Perlakukan jenazah seperti orang hidup. Mengusapnya harus lembut, tidak boleh digosok kasar,” tuturnya.
Tantangan terberat yang pernah dihadapi Satimin adalah menangani jenazah korban kecelakaan yang tubuhnya tak lagi utuh, di mana ia harus menyusun kembali bagian-bagian tubuh sebijak mungkin agar layak dikafani. Ia juga kerap menemui jenazah yang tak bisa diluruskan karena kondisi fisik semasa hidup, dan menegaskan hal itu tidak masalah selama dibungkus dengan baik.
Tak hanya itu, Satimin meluruskan kesalahpahaman yang beredar di masyarakat terkait syarat dan tata cara pemulasaraan. Salah satunya adalah kekhawatiran warga bahwa wudu jenazah akan batal jika tersentuh orang lain.
“Sebenarnya wudu si mayit tidak batal. Yang batal wudunya itu justru kita, orang hidup yang memegangnya,” jelasnya meluruskan stigma tersebut.
Dua puluh enam tahun merawat mereka yang telah berpulang memberikan pelajaran hidup paling berharga bagi Satimin. Baginya, pemulasaraan jenazah adalah cermin besar tentang kesetaraan manusia di hadapan Sang Pencipta.
“Pelajaran terbesarnya, kita semua akan mengalami hal yang sama. Mau orang kaya, sederhana, atau miskin, jika sudah meninggal bawaannya sama saja. Hanya amal perbuatan, tidak ada yang istimewa,” ungkapnya.
Di usianya yang tidak lagi muda, Satimin menaruh harapan besar kepada generasi muda. Ia mengimbau agar para pemuda tidak canggung untuk mendekat dan mempelajari tata cara pemulasaraan jenazah ketika ada warga yang meninggal.
Ia berharap ilmu ini dapat dikuasai oleh setiap warga, sehingga masyarakat tidak selalu bergantung pada petugas resmi desa. Apalagi dalam ajaran agama, menyegerakan pemakaman jenazah adalah hal yang sangat dianjurkan.
“Pesan saya, jangan tergantung pada petugas resmi. Setiap orang, terutama keluarga, idealnya bisa memandikan dan mengafani sendiri. Sebab, lebih cepat jenazah dimakamkan, itu lebih baik,” pungkas Satimin menutup perbincangan.
Di tengah masyarakat yang kian bergantung pada layanan ambulans dan petugas resmi, sosok seperti Satimin mengingatkan kita akan pentingnya kepedulian dan gotong royong dalam menghadapi momen paling personal dalam hidup manusia, kematian. Baginya, mengurus jenazah bukan sekadar tugas, melainkan bentuk pengabdian yang tulus kepada sesama.
