Skip to content
sudutnalar.com
Menu
  • Beranda
  • Tentang
  • Bahasa
  • Wisata
  • Tips
  • Budaya
  • Teknologi
  • Sosial
  • Politik
  • Sastra
  • Kuliner
  • Hiburan
  • Profile
  • Pendidikan
  • Feature
  • Ekonomi
  • Hukum
Menu

Satimin: 26 Tahun Mendedikasikan Diri Membantu Pemulasaraan Jenazah di Desa

Posted on September 23, 2026September 23, 2026 by Erdi Aqil Fauzan

Penulis: Anisa Rahmawati | Editor: Nisa Nurul Aida

Selasa, 22 September 2026

Satimin, Petugas Pemulasaraan Jenazah (foto: Anisa)

Pekuncen –  Sudutalar.com, Di balik sunyinya kabar duka yang menyelimuti sebuah desa, ada sosok yang selalu bersiap melangkah tanpa ragu. Ia adalah Satimin (61), atau yang lebih akrab disapa Pak Kayim oleh warga setempat. Selama 26 tahun, jemarinya telah membantu memulasarakan jenazah warga. Sebuah panggilan jiwa yang lahir bukan dari garis keturunan, melainkan dari rasa tanggung jawab mendalam terhadap sesama.

Satimin memulai baktinya sejak tahun 2000. Kala itu, ia mendapat amanah langsung dari pemerintah desa setempat. Alasan di balik kesediaannya begitu sederhana, namun sarat makna keagamaan. Pemulasaraan jenazah adalah hukum fardhu kifayah.

“Kalau ada warga yang meninggal lalu tidak ada yang memandikan atau menyalatkan, satu desa bisa menanggung dosa. Karena itu saya menerima ditugaskan untuk menolong,” ucap Satimin pada Senin (21/9).

Tanpa bekal pendidikan formal maupun tradisi keluarga, Satimin mempelajari tata cara perawatan jenazah secara mandiri. Berbekal niat tulus dan kemauan belajar, ia melihat dan meniru para sesepuh terdahulu hingga akhirnya mahir menjalankan seluruh tahapan.

Bagi Satimin, merawat jenazah bukan sekadar rutinitas teknis, melainkan bentuk penghormatan tertinggi kepada manusia. Ia menekankan pentingnya menjaga kerahasiaan dan aib jenazah. Proses memandikan idealnya dilakukan di tempat tertutup atau berpagar rapat, serta diutamakan dipimpin oleh pihak keluarga atau kerabat dekat. Ia juga menggarisbawahi pentingnya kelembutan dalam memulasara. “Perlakukan jenazah seperti orang hidup. Mengusapnya harus lembut, tidak boleh digosok kasar,” tuturnya.

Tantangan terberat yang pernah dihadapi Satimin adalah menangani jenazah korban kecelakaan yang tubuhnya tak lagi utuh, di mana ia harus menyusun kembali bagian-bagian tubuh sebijak mungkin agar layak dikafani. Ia juga kerap menemui jenazah yang tak bisa diluruskan karena kondisi fisik semasa hidup, dan menegaskan hal itu tidak masalah selama dibungkus dengan baik.

Tak hanya itu, Satimin meluruskan kesalahpahaman yang beredar di masyarakat terkait syarat dan tata cara pemulasaraan. Salah satunya adalah kekhawatiran warga bahwa wudu jenazah akan batal jika tersentuh orang lain.

“Sebenarnya wudu si mayit tidak batal. Yang batal wudunya itu justru kita, orang hidup yang memegangnya,” jelasnya meluruskan stigma tersebut.

Dua puluh enam tahun merawat mereka yang telah berpulang memberikan pelajaran hidup paling berharga bagi Satimin. Baginya, pemulasaraan jenazah adalah cermin besar tentang kesetaraan manusia di hadapan Sang Pencipta.

“Pelajaran terbesarnya, kita semua akan mengalami hal yang sama. Mau orang kaya, sederhana, atau miskin, jika sudah meninggal bawaannya sama saja. Hanya amal perbuatan, tidak ada yang istimewa,” ungkapnya.

Di usianya yang tidak lagi muda, Satimin menaruh harapan besar kepada generasi muda. Ia mengimbau agar para pemuda tidak canggung untuk mendekat dan mempelajari tata cara pemulasaraan jenazah ketika ada warga yang meninggal.

Ia berharap ilmu ini dapat dikuasai oleh setiap warga, sehingga masyarakat tidak selalu bergantung pada petugas resmi desa. Apalagi dalam ajaran agama, menyegerakan pemakaman jenazah adalah hal yang sangat dianjurkan.

“Pesan saya, jangan tergantung pada petugas resmi. Setiap orang, terutama keluarga, idealnya bisa memandikan dan mengafani sendiri. Sebab, lebih cepat jenazah dimakamkan, itu lebih baik,” pungkas Satimin menutup perbincangan.

Di tengah masyarakat yang kian bergantung pada layanan ambulans dan petugas resmi, sosok seperti Satimin mengingatkan kita akan pentingnya kepedulian dan gotong royong dalam menghadapi momen paling personal dalam hidup manusia, kematian. Baginya, mengurus jenazah bukan sekadar tugas, melainkan bentuk pengabdian yang tulus kepada sesama.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

Berita Terbaru

  • Dulu Semalam Suntuk, Kini Sekadar Pembuka Acara: Cerita Lengger dari Rumah Lengger Banyumas
    By bagus aji
    Oktober 9, 2026
    Lukisan penari lengger dan seperangkat calung di sudut […]
  • Gemblong Ocar-Acir di Tengah Perubahan Selera Generasi Muda
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Penulis: Erdi Aqil Fauzan | Keterangan: Feature, […]
  • Ketika Krama Inggil Perlahan Kehilangan Suara di Patikraja
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Oleh: Farah Nasywa Nurrahma | Narasumber: Mareta & […]

Pendidikan

  • SMA Muhammadiyah Sokaraja Benahi Manajemen untuk Pulihkan Kepercayaan Masyarakat
    By shafrifa aulia
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Keterbatasan Perpustakaan Tak Padamkan Semangat Membaca, Pojok Literasi Jadi Solusi bagi Murid UPTD SDN 3 Kedungdawa
    By calista aneen
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Kopi dan Laptop: Cerita Mahasiswa Unsoed Menghadapi Tenggat Tugas Tengah Semester
    By athaya qila
    Pendidikan
    September 29, 2026

Bahasa

  • Mengenal Dunia Inklusif Melalui Kelas Bahasa Isyarat Himpunan Mahasiswa KIP-K Unsoed
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Terbaru
    September 21, 2026
  • Usung Tema “Citta Karya”, Seminar Kepenulisan 2026 Hadirkan Luluk HF, Penulis “Mariposa”
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Berlangsung 14–16 September
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Hiburan, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Dibuka, Wabup Dorong Budaya Baca Masyarakat
    By akt 24
    Bahasa Bahasa, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Hadirkan Beragam Stan Literasi
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan
    September 21, 2026

Kuliner

  • Segelas Dawet Ayu, Rezeki yang Tak Tertukar
    By Hanunah Mumtaz
    Feature, Kuliner, Sosial
    Oktober 8, 2026
  • Makaroni Tasik Mang Dadang, Kuliner Pedas Hits di Purwokerto
    By Hanunah Mumtaz
    Kuliner
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Wisata

  • Riak Sang Penyu, Potret Kehidupan di Kawasan Konservasi
    By kelasB
    Pendidikan, Wisata
    September 21, 2026
  • Sabtu Malam, Kawasan Malioboro Dipenuhi Wisatawan
    By akt 24
    Wisata
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Sudut Nalar

Media pemberitaan mahasiswa
Hasil praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman

Tautan

Tentang Kami
Susunan Redaksi
Pedoman Media Siber
Kirim Tulisan
Arsip Berita.

Tentang

Diterbitkan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman, sebagai bagian dari praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Dosen Pengampu : Dr. Memet Sudaryanto, M.Pd.

©2026 sudutnalar.com | Design: Newspaperly WordPress Theme