
Banyumas— Langkah kaki para pengunjung terdengar perlahan menyusuri ruang pameran Hetero Space Banyumas. Di tengah pendar cahaya lampu, mata mereka tertuju pada barisan foto, peta tua, dan lembaran arsip cetak biru yang terbentang di atas meja panjang.
Foto-foto hitam-putih di dinding seolah membawa siapa saja yang melihatnya melintasi lorong waktu, kembali ke masa ketika asap dan uap pekat kereta mendominasi pedalaman Banyumas Raya.
Suasana hangat itu terekam dalam gelaran Banjoemas Heritage Week (BHW) 2026 yang berlangsung pada 10–13 September 2026. Tahun ini, pameran ini mengangkat tema 130 tahun Serajoedal Stoomtram Maatschappij (SDS)—perusahaan trem uap swasta era kolonial Hindia Belanda yang pernah menjadi jantung transportasi kawasan ini.
Didirikan pada akhir abad ke-19, jaringan rel SDS pernah membentang luas menghubungkan Maos, Purwokerto, Sokaraja, Purbalingga, Banjarnegara, hingga Wonosobo. Kereta uap ini tak hanya mengangkut penumpang, tetapi juga menjadi urat nadi ekonomi yang memboyong hasil bumi menuju jalur perdagangan utama di Cilacap.
Sayang, kejayaan itu perlahan meredup. Seiring berhentinya operasional, jejak fisik SDS kian tergerus zaman. Hadirnya pameran arsip dan foto sejarah ini menjadi upaya untuk merawat ingatan yang mulai pudar tersebut. Dengan mengumpulkan potongan memori dari foto, miniatur kereta, hingga dokumen tua, BHW 2026 berupaya memetakan kembali peran penting SDS dalam modernisasi Banyumas Raya.
Menariknya, antusiasme tak hanya datang dari para pegiat sejarah. Ruang pameran dipadati oleh kalangan pengunjung yang beragam, mulai dari masyarakat umum, pelajar sekolah, hingga mahasiswa yang penasaran dengan kisah di balik sejarah daerah mereka.
Melalui rekaman visual dan arsip, warisan budaya SDS tidak hanya dikenang sebagai sejarah transportasi yang usang, tetapi tetap bernapas dan hidup di tengah generasi muda Banyumas.
Penulis: Velen Candra Nadia
Editor: Qoriatun Munawaroh
